Inilah Arti Sesungguhnya Taat Kepada Allah

Jan 02, 2026 03:46 PM - 4 bulan yang lalu 135945

Kincai Media , JAKARTA -- Kata taat merupakan serapan dari bahasa Arab yang berfaedah 'menemani' alias 'mengikuti.' Dalam perspektif keagamaan, hakikat alim ialah sikap dan tindakan yang tulus untuk mematuhi perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kebalikan dari alim adalah maksiat. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tidak ada keharusan menaati perintah jika dia bermaksiat kepada Allah. Namun, keharusan alim itu bertindak dalam rangka melakukan kebaikan" (HR Bukhari dan Muslim).

Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal al-Qur'an menjelaskan, daya alim berasal dari nilai-nilai tauhid. Karena itu, bagi seorang Muslim ketaatan haruslah berasas rujukan Alquran. Yakni, alim kepada Allah, Rasulullah SAW, dan pemimpin alias ulil amri (QS an-Nisa'[4]: 58).

Beragama Islam tanpa dibarengi ketaatan adalah sia-sia. Said Hawwa berpendapat, tidak ada yang lebih krusial dalam Islam selain tiga hal, ialah takwa, ibadah, dan taat.

Dua perihal pertama seumpama dua sisi mata uang. Adapun alim merupakan kunci terlaksananya dua perihal tersebut.

Rahmat yang dibawa Islam bakal terasa bagi semua jika setiap Muslim berkomitmen untuk alim kepada Allah dan Rasul-Nya. Realisasi alim dapat diwujudkan dengan langkah berjamaah, bersatu--bukan bercerai-berai apalagi saling berselisih.

"Tidak ada Islam tanpa berjamaah, sementara tidak ada jamaah tanpa ada kepemimpinan, dan tidak ada kepimpinan tanpa ketaatan." (HR ad-Darimi).

Dalam bermasyarakat dan bernegara, ketaatan pun merupakan kunci keberhasilan. Jika pemimpin bisa memberi keteladanan dalam ketaatan menegakkan hukum, misalnya, maka rakyat pun bakal ikut mematuhi hukum. Hukum bakal berwibawa, jauh dari kegunaan sebagai perangkat kekuasaan.

Sebaliknya, jika pemimpin hanya menebar pesona, berjanji tanpa bukti, menginstruksikan ketaatan tanpa keteladanan, kepemimpinannya seumpama 'macan ompong'. Tidak bakal efektif.

Tanda Allah mencintai

Ada beberapa tanda cinta Allah SWT yang patut dipahami.

Pertama, ilmu. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah bakal membuatnya mengerti tentang agamanya” (HR Bukhari dan Muslim).

Memahami kepercayaan (Islam) bukan hanya tentang pengetahuan dalil-dalil dari Alquran alias hadis, tetapi juga menghadirkan kepercayaan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Dengan demikian, orang yang mahir di bagian kedokteran alias arsitektur, misalnya, jika dia menggunakan keahliannya untuk kemaslahatan dan kebaikan, sesuai dengan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, maka itu bagian dari pemahaman agama.

Selengkapnya