Kincai Media ,NEW YORK -- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meyakini terdapat kekeliruan dalam operasi militer Israel di Jalur Gaza yang berjalan selama dua tahun terakhir. Dia mengatakan, tujuan Israel adalah menghancurkan Hamas. Namun, meski saat ini Gaza telah porak poranda, Hamas tetap eksis.
"Saya pikir ada sesuatu yang salah secara esensial dalam langkah operasi ini dilakukan dengan pengabaian total mengenai kematian penduduk sipil dan kehancuran Gaza," kata Guterres ketika diwawancara dalam kegiatan yang digelar Reuters di New York, Amerika Serikat, Rabu (3/12/2025).
Dia menambahkan, dalam operasi militernya Israel sangat berkeinginan menumpas Hamas. "Gaza telah dihancurkan, tetapi Hamas belum dihancurkan. Jadi ada sesuatu yang salah secara esensial dengan langkah ini dilakukan," ujar Guterres.
Dalam wawancara tersebut, Guterres sempat ditanya pendapatnya soal tudingan kejahatan perang yang terjadi di Gaza. "Ada argumen kuat untuk meyakini bahwa kemungkinan itu mungkin terjadi," kata dia merespons pertanyaan tersebut.
Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023 hingga kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas diterapkan pada 10 Oktober 2025, lebih dari 70 ribu warga Palestina di Gaza terbunuh akibat agresi Israel. Meski sudah menyepakati gencatan senjata, Israel terus melanggar perjanjian dengan melancarkan serangan secara berkala ke Gaza. Serangan tersebut turut membunuh penduduk sipil.
Kini setidaknya terdapat 1,3 juta pengungsi di Gaza. Mereka hidup mengandalkan pasokan support kemanusiaan. Meski kondisi kehidupan masyarakat di Gaza sangat kritis, Israel tetap mempersulit masuknya truk support kemanusiaan.
Menurut Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Israel telah menahan masuknya 6.000 truk pengangkut support kemanusiaan ke Jalur Gaza. Selain bahan pokok dan obat-obatan, truk-truk tersebut turut mengangkut ratusan ribu tenda serta selimut.
Penasihat media UNRWA, Adnan Abu Hasna, mengungkapkan, jumlah truk yang memasuki Gaza memang meningkat jika dibandingkan sebelum gencatan senjata tercapai. Namun jumlahnya tetap tetap sangat jauh dari yang dibutuhkan.
Abu Hasna mengatakan, Israel terus memblokir masuknya ratusan peralatan penting, termasuk pasokan kesehatan, peralatan air dan sanitasi, serta bahan pangan pokok. "Yang diizinkan masuk hanyalah sejumlah truk terbatas yang membawa barang-barang komersial, sementara 95 persen masyarakat Jalur Gaza berjuntai pada support kemanusiaan dan tidak bisa membeli bahan-bahan tersebut," ucapnya, dikutip laman Middle East Monitor, Selasa (2/12/2025).
English (US) ·
Indonesian (ID) ·