Isyarat Alquran Tentang Orbit Planet, Bintang Dan Galaksi

Jan 08, 2026 08:45 PM - 4 bulan yang lalu 128801

Kincai Media , JAKARTA -- Langit mempunyai banyak jalan yang merupakan garis edar alias orbit. Dengan meniti garis tersebut, segala barang langit bumi, planet-planet, bintang-bintang, serta galaksi-galaksi bergerak teratur.

Dalam Alquran surat Adz Dzariyat ayat 7, Allah Ta'ala bersumpah: وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ Wassamaaa`i dzaatil hubuk. Artinya, "Demi langit yang mempunyai al-hubuk."

Menurut penafsiran KH Prof M Quraish Shihab, al-hubuk itu dapat berfaedah 'yang indah' alias 'yang teratur.'

Kata yang sama, lanjut dia, dapat pula dipahami sebagai corak plural dari hibak alias habikah. Artinya, jalan alias orbit.

Ayat Alquran itu mengisyaratkan kaum Muslimin agar mereka tidak hanya mengawasi kejadian-kejadian di bumi, tetapi juga ruang angkasa.

Dalam surat lain, ialah Ali Imran ayat 190- 191, Allah SWT menyebut kualitas mukminin yang merenungi semua ciptaan-Nya itu sebagai ulil albab.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Yaitu) yang mengingat Allah sembari berdiri, duduk, alias dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang pembuatan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Cabang pengetahuan yang mengkaji benda-benda langit adalah astronomi. Dalam sejarah peradaban Islam, khususnya dalam masa keemasan, ada banyak mahir pengetahuan falak. Walaupun berjasa besar, sebagian intelektual Muslim itu condong terlupakan".

Generasi sekarang tampaknya lebih mengenal nama-nama saintis Barat yang non- Muslim, utamanya mereka yang muncul dari era Renaisans.

Padahal, mereka membuka jalan bagi perkembangan astronomi modern. Ambil contoh, tokoh-tokoh, ialah Abu Ma'syar al-Balkhi (787- 886 M), Ibnu al-Haitsam (965-1040 M), Abu Sa'id al-Sijzi (945-1020 M).

Kemudian, ada Mu'ayyaduddin al-Urdi (1200-1266), Nashiruddin al-Thusi (1201-1274 M), Quthbuddin al-Syirazi (1236-1311 M), serta Ibnu Syathir (1304-1375 M).

Mereka semua berkedudukan dalam mengungkapkan kebenaran ilmiah mengenai astronomi. Salah satu hasil kajiannya menyasar pada kekeliruan geosentrisme.

Istilah tersebut merujuk pada pandangan bahwa bumi adalah pusat". Maksudnya, planet tempat manusia berada ini adalah titik-tengah alam semesta dan selalu berada dalam kondisi diam. Adapun planet-planet, matahari, dan benda-benda langit lainnya bergerak mengitarinya.

Selengkapnya