Kisah Bal’am bin Ba’ura

Islami Muslimah oleh Waktu baca 7 menit 23x dilihat
Kisah Bal’am bin Ba’ura

Bagikan Postingan

Al-Qur`an bukan cuma berisi hukum-hukum syari`at, tetapi, juga berisi kisah-kisah umat terdahulu yang menjadi pelajaran bagi orang-orang percaya dan mau memungut pelajaran. Salah satu kisah Al-Qur`an yang bisa dijadikan pelajaran adalah kisah dalam surah Al-A`raf ayat 175-177. Allah Ta`ala berfirman,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي ءَاتَيْنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ ٱلشَّيْطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ 

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَاه فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـايَٰتِنَاۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ 

لَبِئْسَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـايَٰتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُواْ يَظْلِمُونَ 

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, kemudian dia diikuti oleh iblis sampai dia tergoda, maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada bumi dan mengikuti keinginannya. Maka perumpamaannya seperti anjing: jika Anda menghalaunya, dijulurkannya lidahnya; dan jika Anda membiarkannya, dia menjulurkan lidahnya juga. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Sangat buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami; dan mereka menzalimi diri sendiri.” (QS. Al-A`raf: 175-177)

Siapakah yang dimaksud dalam ayat tersebut?

Kisah ini terjadi pada era Nabi Musa alaihissalaam dan Bani Israil. Al-Qur`an banyak menceritakan kisah Bani Israil, dan Bani Israil jugalah yang Allah pilih dan tinggikan penyebutannya di dalam Al-Qur`an, tetapi mereka ingkar terhadap ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak menunaikan hak Allah dengan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Sehingga Allah kemudian menjadikan mereka sebagai umat yang rendah lagi rendah setelah Allah angkat derajatnya.

Para ulama berbeda gagasan tentang siapakah yang dimaksud dalam ayat ini. Adapun gagasan yang rajih (lebih kuat) bahwa dia adalah Bal`am bin Ba`ura (diriwayatkan dari Abdullah bin Mas`ud, Abdullah bin Abbas, Mujahid bin Jabr Al-Makkiy, `Ikrimah, dan Malik bin Dinar). Sedangkan kisahnya, para ulama juga berbeda pandangan menjadi dua pendapat. Perbedaan ini berasal dari para sahabat, dan kedua-duanya boleh kita riwayatkan karena Allah belum mengkhususkan siapakah yang dimaksud.

Pendapat pertama, pendapat yang masyhur dan rajih

Pendapat ini diriwayatkan dari Abdullah bin Mas`ud dan Malik bin Dinar, bahwasanya dia adalah seorang saleh dan diberi ilmu dari Bani Israil. Dia diperintah oleh Nabi Musa alaihissalaam untuk menyampaikan dakwah kepada raja Madyan. Dia juga memiliki doa yang selalu terkabul, dan salah satu karena doanya terkabul adalah karena Allah mengajarkannya nama Allah al-A`zham (Nama Allah yang paling agung). Namun, sang raja mengiming-imingi harta dan jabatan dunia, agar dia meninggalkan Musa dan mengikuti kepercayaan sang raja. Pada akhirnya, dia tergoda dengan dunia, mengingkari Musa, dan mengikuti kepercayaan sang raja, yaitu kekafiran. Dia menjadi kafir setelah mendapatkan ilmu dan fakta yang sangat jelas.

Pendapat kedua

Pendapat kedua diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwasanya dia adalah seorang lelaki saleh dari kaum Jabbaariin. Dia juga percaya kepada Musa dan dia dikenal dengan doanya yang selalu terkabul. Kaum Jabbaariin adalah kaum yang pernah tinggal di Syams, dan daerah inilah yang Nabi Musa perintahkan Bani Israil untuk masuk ke dalamnya. Allah Ta`ala (menceritakan kisah Musa dan Bani Israil) berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (21) قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِن يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ (22)

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah Anda berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), kelak Anda menjadi orang yang rugi. Mereka berkata, `Wahai Musa! Sesungguhnya di dalamnya ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam (kaum Jabbaariin). Kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, niscaya kami akan masuk.`” (QS. Al-Ma`idah: 21-22)

Kisahnya, ketika Musa hendak memasuki daerah ini, kaum Jabbaariin meminta Bal`am untuk berdoa agar Musa dan Bani Israil kalah dan hancur. Mendengar permintaan kaumnya, Bal`am menolak, karena Bal`am mengetahui dan percaya bahwa Musa adalah seorang Nabi yang diutus Allah dan bersamanya ada fakta dan pertolongan Allah. Dia berkata, “Jika aku berdoa keburukan untuk Musa dan Bani Israil, Allah akan menghilangkan kepercayaan dan duniaku.”

Akan tetapi, kaumnya tidak menyerah. Mereka mengiming-iminginya harta dan jabatan jika mau berdoa untuk menghancurkan Musa. Setelah mendengar bujukan itu, akhirnya Bal`am tergoda dengan semua ikrar mereka dan memilih bumi setelah percaya dan diberi ilmu. Namun, ketika hendak berdoa keburukan untuk Musa, Allah membalikkan lidahnya dan akhirnya dia berdoa kehancuran untuk dirinya sendiri dan kaumnya.

Maksud perumpamaan dalam ayat

Di dalam ayat di atas, Allah Ta`ala memberikan perumpamaan orang yang telah mendapatkan ayat (ayat di sini berarti ilmu yang berguna yang bisa mengadopsi derajat seorang manusia dan menambah keimanannya), kemudian dia melepaskan ayat tersebut dan mengikuti bujukan iblis sehingga dia menjadi orang yang sesat setelah mendapatkan petunjuk. Maka, orang seperti ini seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya, baik ketika dikejar dan diusir maupun ketika sedang membisu dan tidak diganggu.

Anjing selalu menjulurkan lidahnya di setiap keadaan. Begitupun orang-orang yang meninggalkan kebenaran, mereka sama seperti keadaan anjing ini, karena mereka selalu eksis dalam kesesatan di setiap saat dan di setiap keadaan. Allah menjelaskan, jika Allah menginginkan, maka Allah akan mengadopsi derajatnya. Namun, dia lebih memilih bumi yang rendah dan meninggalkan kebenaran.

Perumpamaan ini tidak terkhusus untuk Bal`am bin Ba`ura saja, terlebihlagi lazim untuk semua orang yang memiliki keadaan seperti ini. Ayat ini mencakup semua orang yang diberikan kesempatan untuk mendapatkan ilmu, namun setelah itu, dia meninggalkan ilmu tersebut dan memilih kesesatan, wa na`udzubillah.

Di penghujung kisah, Allah mengutarakan bahwa ini adalah seburuk-buruk perumpamaan di dalam Al-Qur`an, yaitu perumpamaan bagi orang yang tidak mendapatkan khasiat dari ilmunya. Di ayat lain, Allah memberikan perumpamaan orang seperti ini dengan keledai. Allah Ta`ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Allah tidak memberi instruksi kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Jumu`ah: 5)

Seekor keledai, biarpun dia membawa buku-buku yang bermanfaat, dia statis tidak bisa memungut khasiat dari buku-buku tersebut. Begitupun dengan keadaan orang-orang yang berilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmu tersebut, dia tidak akan mendapatkan khasiat dan justru cuma akan merugi.

Pelajaran yang dapat dipetik

1) Sesungguhnya ilmu yang berguna adalah salah satu nikmat Allah yang paling besar.

2) Mengambil khasiat dari ilmu adalah sesuatu yang besar dan perlu taufiq. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu meminta pertolongan kepada Allah untuk bisa memungut khasiat dari ilmu yang sudah kita pelajari. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, para sahabatnya, serta tabi`in selalu berdoa agar diberikan taufiq untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Mutharraf  bin Abdillah Asy-Syakhiir –seorang tabi`in– pernah berdoa, “Ya Allah! Sesungguhnya aku meminta perlindungan-Mu agar orang lain tidak lebih ceria dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku (Orang lain yang mendapatkan ilmu darinya lebih memanfaatkan ilmunya dari dia sendiri).”

Ali radhiyallahu `anhu pernah berdoa, “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari menjadikan diriku jembatan bagi manusia untuk menuju surga, dan kemudian dia (jembatan) dilempar ke neraka.”

3) Bahwasanya kenikmatan bumi dan mengikuti kesesatan adalah karena terbesar kesesatan.

4) Kezaliman manusia terbesar untuk dirinya sendiri adalah dengan meninggalkan kebenaran.

Kita tidak pernah mengetahui akhir setiap perjalanan kita, dan kisah-kisah umat sebelumnya adalah pelajaran bagi kita agar tidak ikut terjerumus ke dalam kesalahan yang sama. Maka, marilah kita selalu memohon pertolongan Allah untuk dikuatkan dalam fakta dan kepercayaan sampai akhir hayat. Wallahu a`lam bis shawwab.

Baca juga: Sejarah Penulisan Kitab Aqidah Wasithiyyah Karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah

*** 

Penulis: Norma Melani Khaira

Artikel Kincai Media

Sumber: Video youtube kisah-kisah dalam Al-Qur`an oleh Syekh Dr. Ahmad Abdul Hadi hafizhahullah. https://youtu.be/m9M9xKUl-Lc?si=eyQQhxJdhppwEdFd

Artikel Lainnya Islami Muslimah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads