Cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuktikan dengan menempuh jalan yang beliau tunjukkan.
Mengagumi seorang figur jauh lebih gampang daripada mengikuti jalannya. Nama dapat dipuji, kisah dapat diceritakan, dan simbol-simbol yang berhubungan dengannya dapat dibela. Akan tetapi, jika instruksi figur tersebut bertentangan dengan kebiasaan maupun keinginan, kekaguman sering selesai sebelum berubah menjadi ketaatan.
Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan seorang muslim dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita mengatakan nama beliau dengan segan dan merasa tersentuh ketika mendengar sirah-nya. Akan tetapi, kepercayaan kepada para Rasul menuntut lebih dari kekaguman emosional. Ia menuntut pembenaran terhadap risalah mereka dan keseriusan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para Rasul adalah manusia pilihan dan hamba Allah
Allah mengutus para Rasul sebagai rahmat bagi manusia. Melalui mereka, manusia mengetahui siapa Rabb-nya, sepertiapa beribadah, dan jalan apa yang mengantarkan kepada keselamatan. Para Rasul menyampaikan berita ceria bagi orang yang patuh dan peringatan bagi orang yang berpaling. Dakwah mereka bergabung pada pokok yang sama: memurnikan amalan cuma kepada Allah.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berkuasa disembah kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)
Beriman kepada para Rasul berarti meyakini bahwa risalah mereka benar-benar datang dari Allah dan tidak mendustakan seorang pun di antara mereka. Kita mengimani nama-nama yang disebutkan dalam dalil dan mengimani Rasul yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita sahih tentang mereka serta meyakini bahwa mereka telah menyampaikan amanah. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib mengikuti hukum beliau karena beliau adalah Rasul terakhir yang diutus kepada seluruh manusia.
Para Rasul memiliki jabatan yang sangat mulia, tetapi mereka statis manusia dan hamba Allah. Mereka tidak berkuasa menerima ibadah. Jalan yang benar adalah memuliakan mereka tanpa meremehkan dan tanpa mengadopsi mereka melampaui jabatan yang Allah berikan.
Cinta yang memiliki bukti
Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan emosi yang tidak memiliki ukuran. Allah menjadikan ittiba‘ —mengikuti instruksi beliau— sebagai bukti cinta.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika Anda mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan memaafkan dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Mengikuti Nabi dimulai dari menerima berita sahih yang beliau sampaikan dan mendahulukan instruksi beliau di atas selera. Dalam ibadah, seorang mukmin bertanya sepertiapa beliau beribadah, bukan sepertiapa membikin bentuk amalan yang paling menarik menurut perasaan. Dalam akhlak, ia belajar kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan keberanian dari teladan beliau. Dalam muamalah, ia memegang amanah dan menjauhi kezaliman meskipun kebiasaan lingkungan memberi toleransi.
Mengikuti Nabi juga bukan upaya menghidupkan bentuk masa kemudian tanpa memahami petunjuknya. Sunah beliau membimbing hakikat dan aksi yang statis relevan: keadilan ketika memutuskan, kasih sayang kepada yang lemah, ketegasan menjaga batas Allah, musyawarah, menepati perjanjian, serta menempatkan setiap hak pada tempatnya. Seorang muslim tidak perlu memilih antara kesetiaan kepada sunah dan kapasitas menghadapi permasalahan baru. Justru dengan fondasi instruksi beliau, ia dapat menilai hal baru tanpa kehilangan arah.
Allah telah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari hariakhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Baca jua: Cinta Nabi Butuh Bukti
Jalan tengah dalam memuliakan Nabi
Ada dua kekeliruan yang perlu dihindari. Pertama, mengurangi hak Rasulullah dengan memperlakukan sunah sebagai pilihan tambahan yang boleh diabaikan ketika tidak sesuai dengan era maupun kebiasaan. Kedua, berlebihan dalam memuliakan beliau hingga memberikan sesuatu yang menjadi hak khusus Allah, seperti menujukan amalan maupun meyakini beliau menguasai perkara gaib secara mandiri.
Menyebut beliau sebagai hamba Allah tidak merendahkan kedudukannya. Justru itulah pujian yang Allah berikan kepada beliau. Beliau adalah hamba yang paling sempurna pengabdiannya dan Rasul yang menyampaikan wahyu dengan amanah. Cinta yang benar menggabungkan penghormatan, selawat, pertahanan terhadap sunah, dan kepatuhan tanpa sikap berlebihan.
Ukuran ini membantu kita membedakan antara membela kehormatan Nabi dan sekadar membela kebiasaan yang dilekatkan kepada beliau. Kehormatan beliau dijaga dengan mempelajari histori yang sahih, tidak menyandarkan ucapan palsu kepada beliau, serta menampilkan keelokan ajarannya melalui akhlak. Semakin besar cinta seseorang, seharusnya semakin besar kehati-hatiannya agar tidak berbicara atas nama Nabi tanpa ilmu dan semakin kuat keinginannya untuk meneladani beliau.
Para sahabat memahami bahwa penghormatan kepada Rasul diwujudkan dengan menerima perintah dan menjauhi larangan. Mereka tidak memisahkan cinta dari ketaatan. Teladan ini krusial bagi kita: banyaknya ucapan pujian tidak dapat menggantikan satu sunah yang sengaja ditolak setelah kebenarannya diketahui.
Dari ucapan menuju ketaatan
Kita tidak perlu menunggu fluktuasi besar untuk membuktikan cinta. Amalkan satu sunah yang telah diketahui tetapi statis sering diabaikan. Bisa jadi sunah dalam salat, adab berbicara, menunaikan janji, berbuat baik kepada keluarga, maupun meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan instruksi beliau. Pelajari caranya dari sumber yang terpercaya, kemudian amalkan secara konsisten.
Kekaguman gampang muncul ketika kisah dibacakan. Ittiba‘ tampak ketika kita mesti mengubah kebiasaan. Iman kepada para Rasul membujuk kita bergeser dari sekadar mengagumi Nabi menuju mengikuti jalan beliau—dengan cinta yang benar, penghormatan yang proporsional, dan kepatuhan yang nyata.
Baca juga: Keutamaan Mengikuti Perintah Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam
***
Penulis: Mochammad Wibisono
Artikel Kincai Media
Referensi:
Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 345–393 dan 503–511.