Kisah Keajaiban Sedekah rabi‘ah Al-adawiyah Yang Teguh Pada janji Allah Swt

Jan 08, 2026 05:26 PM - 4 bulan yang lalu 127924

Kincai Media ,JAKARTA -- Apa yang diyakini seorang hamba tentang janji Allah SWT bakal tercermin dalam sikap hidupnya. Rabi‘ah al-Adawiyah meneladankan kepercayaan itu melalui keberanian bersedekah, apalagi ketika dirinya sendiri dan tamunya sedang lapar.

Allah SWT menjanjikan jawaban berlipat dobel bagi siapa pun yang bersedekah di jalan-Nya. Janji inilah yang dipegang teguh oleh Rabi‘ah al-Adawiyah, hingga membuatnya mantap mendahulukan seorang peminta-minta daripada tamu-tamunya sendiri.

Dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, dua orang pemuka kepercayaan dalam keadaan lapar datang mengunjungi Rabi‘ah.

“Mudah-mudahan Rabi‘ah bakal menyuguhkan makanan kepada kita. Makanan yang disuguhkan Rabi‘ah pasti diperolehnya secara halal,” kata pemuka kepercayaan tersebut.

Ketika dua pemuka kepercayaan itu duduk berbareng Rabi'ah, di hadapan mereka telah terhampar serbet dan di atasnya terdapat dua pangkas roti. Melihat perihal itu, mereka sangat gembira.

Namun, pada saat yang sama seorang peminta-minta datang ke hadapan mereka. Rabi‘ah pun memberikan dua pangkas roti tersebut kepada pengemis.

Kedua pemuka kepercayaan itu merasa sangat kecewa tidak jadi menyantap roti, tetapi mereka tidak berbicara apa-apa dihadapan Rabi'ah.

Tidak berselang lama, masuklah seorang pelayan wanita yang membawakan beberapa buah roti yang tetap panas kepada Rabi'ah.

"Majikanku telah menyuruhku untuk mengantarkan roti-roti ini kepadamu,” kata si pelayan kepada Rabi'ah.

Rabi‘ah menghitung roti-roti tersebut, jumlahnya ada 18 buah.

"Mungkin roti-roti ini bukan untukku,” kata Rabi‘ah.

Si pelayan berupaya meyakinkan Rabi‘ah, tetapi sia-sia. Akhirnya roti-roti itu dibawa kembali oleh si pelayan.

Sebenarnya, yang telah terjadi adalah pelayan tersebut mengambil dua pangkas roti untuk dirinya sendiri sehingga tersisa 18 roti. Kepada nyonya majikannya, dia meminta dua pangkas roti lagi, lampau kembali ke tempat Rabi‘ah.

Roti-roti itu kembali dihitung oleh Rabi‘ah, dan rupanya jumlahnya genap 20 buah. Barulah setelah itu Rabi‘ah menerimanya.

“Roti-roti ini memang telah dikirimkan oleh majikanmu untukku?” tanya Rabi‘ah kepada si pelayan.

Kemudian Rabi‘ah menyuguhkan roti-roti tersebut kepada kedua tamunya tadi. Akhiranya dua pemuka kepercayaan itu makan, namun tetap dalam keadaan heran.

“Apa rahasia di kembali semua ini?” tanya dua pemuka kepercayaan tersebut kepada Rabi‘ah.

“Kami mau menyantap roti milikmu sendiri, tetapi engkau memberikannya kepada seorang pengemis. Kemudian engkau mengatakan kepada si pelayan bahwa 18 roti itu bukan dimaksudkan untukmu. Namun, ketika jumlahnya menjadi 20 buah, barulah engkau mau menerimanya,” kata pemuka kepercayaan tersebut.

Yakin kepada Janji Allah SWT

Rabi‘ah menjawab, “Ketika kalian datang, saya tahu bahwa kalian sedang lapar. Aku berbicara kepada diriku sendiri, sungguh saya tega menyuguhkan hanya dua pangkas roti kepada dua orang pemuka yang terhormat. Itulah sebabnya, ketika si peminta-minta datang, saya segera memberikan dua pangkas roti itu kepadanya, seraya berbicara kepada Allah Yang Maha Besar: Ya Allah, Engkau telah berjanji bakal memberikan ganjaran sepuluh kali lipat, dan janji-Mu itu kupegang teguh. Kini telah kusedekahkan dua pangkas roti demi menyenangkan-Mu. Semoga Engkau berkenan memberikan 20 pangkas sebagai imbalannya'."

"Ketika 18 roti itu diantarkan kepadaku, saya tahu bahwa sebagian darinya telah dicuri alias bahwa roti-roti itu memang bukan untuk disampaikan kepadaku,” kata Rabi'ah.

Selengkapnya