Kisah Waliyullah Yang Sering Ditanya Imam Ahmad Bin Hanbal Tentang Allah Swt

Jan 06, 2026 03:38 PM - 4 bulan yang lalu 131088

Kincai Media ,JAKARTA -- Bisyr bin al-Harits seorang waliyullah mantan pemabuk dan berandalan yang dikagumi Imam Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh Khalifah al-Ma'mun. Imam Ahmad sering meminta kepada Bisyr bin al-Harits agar diceritakan tentang Allah SWT.

Dikisahkan, Bisyr si manusia berkaki telanjang, sewaktu muda, dia adalah seorang berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, dia melangkah sempoyongan.

Tiba-tiba Bisyr menemukan selembar kertas bertuliskan, "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Bisyr kemudian membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.

Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu dia diperintah Allah SWT untuk mengatakan kepada Bisyr:

"Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan namamu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Kuharumkan namamu, baik di bumi maupun di alambaka nanti."

Orang suci yang mendapat mimpi dan perintah tersebut berguman, "Bisyr adalah seorang pemuda berandal. Mungkin saya telah bermimpi salah."

Maka orang suci itu segera berwudhu, sholat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendapati mimpi yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya, rupanya tetap mengalami mimpi yang sama.

Keesokan harinya, orang suci tersebut pergi mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, dia mendapat jawaban, "Bisyr sedang mengunjungi pesta buah anggur."

Maka, pergilah orang suci itu ke rumah orang yang sedang berpesta itu. Sesampainya di sana, dia bertanya, "Apakah Bisyr ada di sini."

Seseorang menjawab, "Ada dalam keadaan mabuk dan lemah tak berdaya."

Orang suci itu berkata, "Katakan kepada Bisyr bahwa ada pesan yang hendak kusampaikan kepadanya."

Singkat cerita, Bisyr bertanya kepada orang suci itu, "Pesan dari siapa?"

Orang suci itu menjawab singkat, "(Pesan) dari Allah."

Bisyr berkata, "Aduh." Kemudian air matanya berlinang.

Bisyr bertanya kepada orang suci itu, "Apakah pesan untuk mencela alias untuk menghukum diriku? Tetapi tunggulah sebentar, saya bakal pamit kepada sahabat-sahabatku terlebih dahulu."

Bisyr berbicara kepada sahabat-sahabatnya yang sedang minum, "Aku dipanggil, oleh lantaran itu saya kudu meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak bakal pernah memandang diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini."

Pertobatan Sang Pemabuk

Sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya sehingga tidak seorang pun yang mendengar namanya tanpa kedamaian Ilahi menyentuh hatinya.

Bisyr telah memilih jalan penyangkalan diri. Sedemikian asyiknya dia menghadap Allah SWT apalagi mulai saat itu dia tak pernah lagi memakai dasar kaki. Inilah sebabnya kenapa Bisyr dijuluki si manusia berkaki telanjang.

Apabila ditanya seseorang, "Bisyr, apakah sebabnya engkau tak pernah memakai dasar kaki?"

Jawab Bisyr, "Ketika saya berbaikan dengan Allah, saya sedang berkaki telanjang. Sejak saat itu saya malu mengenakan dasar kaki. Apalagi bukankah Allah Yang Maha Besar telah berkata: Telah Kuciptakan bumi sebagai permadani untukmu. Maka tidak layak andaikan melangkah memakai sepatu di atas permadani Raja?"

Dikisahkan, Imam Ahmad bin Hambal sangat sering mengunjungi Bisyr, dia begitu mempercayai kata-kata Bisyr sehingga murid-murid Imam Ahmad pernah mencela sikapnya itu.

Seorang siswa berbicara kepada Imam Ahmad, "Pada era ini tidak ada orang yang dapat menandingimu di bagian hadits, hukum, teologi dan setiap bagian pengetahuan pengetahuan, tetapi setiap saat engkau menemani seorang berandal. Pantaskah perbuatanmu itu?"

Imam Ahmad menjawab, "Mengenai setiap bagian yang kalian sebutkan tadi, saya memang lebih mahir daripada Bisyr."

"Tetapi mengenai Allah, dia (Bisyr) lebih mahir daripada aku," ujar Imam Ahmad bin Hambal menjawab pertanyaan muridnya.

Dikisahkan, Imam Ahmad bin Hambal sering memohon kepada Bisyr, "Ceritakanlah kepadaku perihal Tuhanku."

Demikian kisah Bisyr bin al-Harits, pemabuk yang bertobat dan dijuluki waliyullah oleh orang-orang yang menyaksikan kezuhudannya dan kisah hidupnya, dikutip dari kitab Tadzkiratul Auliya yang ditulis Fariduddin Attar di abad ke-12.

Nama komplit san wali, Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah alias 767 Masehi. Setelah meninggalkan hidup berfoya-foya, dia mempelajari hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan pendidikan umum untuk hidup sebagai peminta-minta yang terlunta-lunta, kelaparan dan bertelanjang kaki. Bisyr bin al-Harits meninggal di kota Baghdad tahun 227 H alias 841 M. Ia sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh Khalifah al-Ma'mun.

Selengkapnya