Kincai Media, Rasa malu menjadi salah satu penghalang seseorang dari perbuatan jelek dan kejahatan. Ketika rasa malu telah hilang, seseorang dapat tidak lagi mempedulikan penilaian orang lain terhadap perbuatannya, apalagi terus melakukan keburukan yang disukainya tanpa rasa malu kepada Allah Yang Maha Tahu dan Maha Melihat.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ad-Da' wa ad-Dawa menerangkan, malu merupakan kehidupan hati dan pangkal kebaikan. Hilangnya malu berfaedah hilangnya kebaikan. Dalam Shahih Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Malu itu seluruhnya baik."
Di kitab yang sama, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya yang diperoleh orang dari perkataan Nabi yang terdahulu adalah, 'Bila engkau tidak malu, lakukanlah apa yang engkau sukai'."
Hadis ini mempunyai dua penafsiran. Pertama, setiap orang berada dalam ancaman. Maksudnya, siapapun yang tidak malu maka pasti bakal melakukan keburukan dan kejahatan yang disukainya.
Yang membikin orang meninggalkan keburukan adalah malu. Jika tidak ada malu yang membuatnya takut terhadap keburukan, seseorang pasti menceburkan diri ke dalamnya. Ini adalah penafsiran dari Abu Ubaidah.
Kedua, suatu perbuatan jika tidak didasarkan pada malu kepada Allah boleh dilakukan. Sementara itu, yang kudu ditinggalkan adalah jika seseorang merasa malu kepada Allah. Inilah tafsir dari Imam Ahmad dalam riwayat lbnu Hani.
Tafsiran yang pertama merupakan ancaman, seperti firman Allah SWT, "Lakukanlah apapun yang kalian inginkan," sedangkan tafsir yang kedua merupakan izin alias ibahah (pembolehan).