Setelah sebelumnya membahas kisah kelahiran dan masa penyusuan Rasulullah ﷺ, sekarang kita beranjak pada fase masa mini dan remaja beliau ﷺ. Pada fase ini, terdapat beragam kisah yang mengharukan sekaligus menakjubkan.
Halimah meminta izin kepada Aminah
Setelah sekian lama Nabi Muhammad tinggal di perkampungan Bani Sa’d, tibalah masanya Halimah mengantarkan beliau kepada ibunya untuk memulangkannya. Namun, Halimah belum mau berpisah dengan Muhammad mini lantaran keberkahan yang dia dapati selama bersamanya. Halimah membujuk Aminah agar Muhammad mini tetap bisa diasuh oleh Halimah hingga agak besar. Halimah berdasar dengan kekhawatirannya bakal adanya pandemi di kota Makkah yang bisa membahayakan sang anak. Akhirnya, Aminah pun mengizinkan Halimah untuk pergi membawanya lagi. Maka, Rasulullah ﷺ tinggal di perkampungan Bani Sa’d berbareng family Halimah untuk kedua kalinya.
Peristiwa pembelahan dada
Saat Rasulullah ﷺ berumur empat alias lima tahun, terjadi peristiwa pembelahan dada beliau. Muslim meriwayatkan bahwa Anas menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ didatangi oleh malaikat Jibril pada saat beliau sedang bermain berbareng anak-anak lainnya. Jibril mengambil beliau, membaringkannya, kemudian membelah dadanya. Jibril lampau mengeluarkan jantungnya dan mengeluarkan segumpal daging sembari berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada padamu.” Kemudian Jibril membasuh jantungnya dalam bajan emas berisi air zamzam, menyatukannya, dan mengembalikannya ke posisi semula. Anak-anak yang bermain bersamanya berlari kepada Halimah dan suaminya untuk mengabarkan bahwa Muhammad telah dibunuh. Mereka pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan mendapatinya dalam keadaan pucat. Akibat kejadian tersebut, Halimah cemas bakal keselamatan Muhammad kecil. Akhirnya, wanita itu mengembalikan Muhammad ke pangkuan ibunya.
Baca juga: Mengenal Pribadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
Bersama ibunda
Suatu saat, Aminah mau mengunjungi makam suaminya di Yatsrib sebagai corak kesetiaan kepada kenangan suaminya yang telah wafat. Sumber lain menyebut bahwa tujuan Aminah pergi ke Yatsrib adalah untuk mengunjungi kerabat dari pihak ayahnya, ialah Bani ‘Adi bin an-Najjar. Ia pun berangkat dari Makkah dalam perjalanan yang menempuh jarak sekitar lima ratus kilometer ditemani oleh anaknya yang yatim, Muhammad ﷺ, pelayannya, Ummu Aiman (أُمُّ أَيْمَن), dan penanggung jawab, Abdul Muththalib. Setelah tiba di sana, mereka menetap selama sebulan lampau kembali ke Makkah. Malangnya, di tengah perjalanan kembali ke Makkah, tiba-tiba Aminah mengalami sakit. Sakit tersebut semakin berat di awal perjalanannya. Akhirnya, dia meninggal bumi di Abwa’ (الأبواء) yang posisinya terletak di antara Makkah dan Yatsrib. Aminah meninggal bumi saat Rasulullah ﷺ berumur enam tahun.
Dalam didikan Abdul Muththalib
Sejak itu, beliau diasuh oleh Ummu Aiman, kemudian berada dalam pemeliharaan kakeknya, Abdul Muththalib. Rasa kasih sayang yang besar memenuhi hatinya terhadap cucunya yang yatim. Ia iba dengan cucunya yang kembali tertimpa musibah setelah sebelumnya kehilangan ayahnya. Abdul Muththalib mencurahkan kasih sayang kepada Rasulullah ﷺ yang tidak dia berikan kepada anak-anaknya sendiri. Ia tidak membiarkan Rasulullah ﷺ sendirian, apalagi lebih mengutamakannya dibandingkan anak-anaknya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Abdul Muththalib disiapkan dasar duduk di bawah naungan Ka’bah oleh keluarganya. Setelah menyiapkan alas, anak-anak Abdul Muththalib duduk di sekitar dasar tersebut menunggu Abdul Muththalib keluar dari kediamannya. Tidak seorang pun dari anak-anak Abdul Muththalib yang berani duduk di atas dasar tersebut. Ini mereka lakukan dalam rangka memuliakan sang ayah. Namun, Rasulullah ﷺ yang saat itu tetap mini justru malah mendatangi Abdul Muththalib yang tengah duduk di atas dasar tersebut. Muhammad mini juga ikut duduk di atas dasar tersebut. Melihat Muhammad mini duduk di atas dasar tersebut, para pamannya berupaya menarik beliau agar menjauh. Ketika memandang kejadian itu, Abdul Muththalib berkata, “Biarkanlah anakku ini. Demi Allah, sungguh dia mempunyai kedudukan yang agung.” Maka Rasulullah ﷺ pun duduk berbareng Abdul Muththalib di atas dasar tersebut. Abdul Muththalib lampau mengusap punggungnya dengan tangannya dan merasa senang dengan apa yang dia lakukan.
Pada saat Rasulullah ﷺ menginjak usia delapan tahun dua bulan sepuluh hari, kakeknya, Abdul Muththalib meninggal bumi di Makkah. Sebelum kematiannya, dia sempat beramanat agar pengasuhan cucunya diserahkan kepada anaknya, Abu Thalib (أَبُو طَالِب) yang merupakan kerabat kandung Abdullah.
Dalam perlindungan Abu Thalib
Abu Thalib menunaikan tanggung jawabnya terhadap keponakannya dengan sebaik-baiknya. Meskipun dia hidup dalam keterbatasan harta, Allah memberkahi rezekinya yang sedikit. Ia mengasuh beliau berbareng anak-anaknya, apalagi lebih mengutamakannya dibanding mereka. Abu Thalib memberikan penghormatan dan perhatian unik kepada beliau, serta terus melindunginya dan memihak kepentingannya selama lebih dari empat puluh tahun. Selama berada dalam pengasuhan pamannya, Rasulullah ﷺ tumbuh sebagai sosok yang sederhana dan jauh dari hal-hal remeh yang biasa dilakukan anak-anak. Ummu Aiman pernah menceritakan bahwa ketika waktu makan tiba, anak-anak lain berebut makanan, sedangkan Rasulullah ﷺ tetap tenang dan menerima apa yang Allah mudahkan baginya. Di antara peristiwa krusial pada masa pengasuhan Abu Thalib adalah perjalanan jual beli ke Syam.
Sekilas tentang perang Fijar
Sebelum masa kenabian, Rasulullah ﷺ sempat datang dalam sebuah peperangan, ialah perang Fijar (الفِجَار). Usia beliau saat menyaksikan perang tersebut diperselisihkan oleh para mahir sejarah: ada yang menyebut empat belas tahun, lima belas tahun, dan ada pula yang menyebut dua puluh tahun.
Latar belakang terjadinya perang ini adalah bahwa seorang raja Arab di al-Hirah, an-Nu’man bin al-Mundzir (النُعْمَان بْن المُنْذِر) mempunyai peralatan dagangan yang dia kirim setiap tahun ke pasar ‘Ukazh (عُكَاظ) untuk dijual. Pengiriman peralatan dagangan tersebut memerlukan pengawalan agar dagangannya terjamin kondusif sampai ‘Ukazh. Suatu ketika, dia duduk berbareng al-Barradh bin Qais (البَرَّاض بْن قَيْس الكِنَانِي) yang berasal dari kabilah Kinanah (كِنَانَة) dan ‘Urwah bin ‘Utbah ar-Rahhal (عُرْوَة بْن عُتْبَة الرَحَّال), lampau bertanya siapa yang bisa menjamin keselamatan dagangannya. Maka, al-Barradh menjamin dagangannya atas Bani Kinanah. Sang raja kurang puas lantaran dia menginginkan agunan atas semua orang. ‘Urwah, sembari menghina al-Barradh, menyanggupi agunan peralatan dagangannya sesuai kemauan sang raja. Pengambilalihan pengawalan dagangan itu membikin al-Barradh dendam dan akhirnya membunuhnya saat dia lengah.
Pembunuhan tersebut terjadi di bulan haram. Kabilah ‘Urwah, ialah Hawazin (هَوَازِنُ) tidak menerima pembunuhan tersebut. Mereka pun bersiap menyerang Kinanah yang dipimpin oleh Qais ‘Ailan (قَيْس عَيْلَان). Mendengar buletin pembunuhan tersebut, kabilah Quraisy segera meninggalkan ‘Ukazh menuju tanah haram. Kabilah Hawazin kemudian mengejarnya dan sukses menyusul Quraisy sebelum memasuki tanah haram sehingga terjadilah peperangan. Perang Fijar terjadi dalam beberapa babak. Rasulullah ﷺ datang pada babak paling besarnya.
Pada babak tersebut, pemimpin dari pasukan Quraisy dan Kinanah adalah Harb bin Umayyah (حَرْب بْن أُمَيَّة). Kemenangan berada di pihak Qais di awal hari; tetapi ketika telah sampai tengah hari, kemenangan berada pada pihak Kinanah. Kehadiran Rasulullah ﷺ di peperangan tersebut disebabkan para om beliau yang membawanya. Beliau membantu mengembalikan anak-anak panah musuh untuk pamannya ketika musuh melemparkannya kepada mereka. Akhir dari perang ini adalah perdamaian yang diusulkan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah (عُتْبَة بْن رَبِيعَة) mewakili Kinanah. Kinanah bakal bayar diyat untuk korban yang terbunuh dari Hawazin, memberikan penjamin atas pembayaran diyat tersebut, dan merelakan korban dari pihak Quraisy sendiri. Hawazin pun menyetujuinya sehingga berakhirlah perang.
Masa mini dan remaja Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan beragam ujian dan pengalaman penting. Namun, di kembali semua itu, tampak hikmah Allah dalam menyiapkan beliau untuk memikul amanah besar sebagai penutup para nabi dan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam.
Baca juga: Awal Kehidupan Rasulullah: Kelahiran dan Masa Penyusuan di Bani Sa’d
***
Penulis: Fajar Rianto
Artikel Kincai Media
Referensi:
- ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.
- Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.
- al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ibnu Katsīr.
Link tulisan terkait:
Peristiwa Hilful Fudhul
Kehidupan Rasulullah Sebelum Menikah
Pernikahan Rasulullah Dengan Khadijah Radhiallahu’anha
Renovasi Ka’bah Lima Tahun Sebelum Nabi Diutus Menjadi Rasul
English (US) ·
Indonesian (ID) ·