Era digital telah mengubah nyaris seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk langkah kita mendidik anak-anak. Kemudahan akses informasi, konektivitas tanpa batas, dan beragam platform pendidikan daring datang sebagai berkah yang tak terbantahkan. Anak-anak kita tumbuh di bumi yang sangat berbeda dengan bumi orang tua mereka tumbuh dahulu. Gadget, media sosial, dan internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka, termasuk anak wanita yang sejak mini sudah berkawan dengan layar sentuh dan bumi maya.
Namun di kembali segala kemudahan itu, tersimpan ancaman yang tidak kalah besarnya. Anak perempuan, dengan fitrah kelembutan dan kepekaannya, justru menjadi golongan yang paling rentan terhadap pengaruh negatif bumi digital. Konten-konten yang merusak akhlak, tayangan yang menampilkan aurat, pergaulan bebas di media sosial, hingga ancaman kecanduan gadget dan gangguan psikologis, semuanya mengintai setiap saat. Orang tua tidak bisa lagi bersikap pasif dan membiarkan anak-anaknya larut dalam arus digital tanpa pengarahan dan perlindungan.
Maka, di sinilah peran krusial orang tua, terutama ibu, sebagai tembok utama dan madrasah pertama bagi anak perempuannya. Mendidik anak di era digital ini bukan berfaedah menolak teknologi alias memutus akses anak dari bumi modern. Sebaliknya, itu berfaedah membekali anak dengan tembok iman, ilmu, dan adab yang kokoh, serta keahlian untuk menyaring info dan memilih mana yang berfaedah dan mana yang membahayakan. Islam telah memberikan tuntunan yang sempurna dalam mendidik anak, dan di era digital ini, tuntunan tersebut semakin relevan untuk diamalkan dengan kesungguhan dan kebijaksanaan.
Kemudahan di era digital
Era digital membawa banyak kemudahan yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan anak perempuan, terutama dalam perihal pendidikan dan pengembangan diri. Kini, seorang anak wanita dapat mengakses ribuan kajian Islam, mendengarkan pidato para ulama, membaca tulisan keislaman, dan apalagi mengikuti program tahfidz Al-Qur’an secara daring dari rumah. Aplikasi-aplikasi belajar seperti pembelajaran bahasa Arab, pengetahuan tajwid, dan fikih wanita juga tersedia dengan mudah dan terjangkau. Kemudahan ini tentu merupakan nikmat dari Allah Ta’ala yang patut disyukuri, lantaran membuka pintu pengetahuan bagi siapa saja yang menginginkannya, tanpa terbatas oleh jarak dan waktu.
Anak wanita pun terbuka untuk mengembangkan talenta dan keahlian mereka secara lebih luas. Mereka dapat belajar memasak, merajut, mendesain, menulis, alias apalagi belajar wirausaha melalui platform-platform yang ada. Jika diarahkan dengan benar, maka bakat-bakat ini dapat menjadi bekal bagi mereka di masa depan, baik sebagai bekal untuk berumah tangga maupun untuk berkontribusi pada masyarakat. Dunia digital juga memungkinkan mereka untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara seiman dari beragam penjuru dunia, memperluas wawasan, dan merasakan semangat persaudaraan Islam yang universal.
Kemudahan akses info juga menjadikan anak wanita lebih mudah untuk belajar dan memahami kepercayaan secara mandiri, tentunya dengan pengarahan orang tua. Mereka bisa mengikuti kajian rutin secara online, membaca artikel-artikel dari situs-situs Islam terpercaya, dan mendengarkan rekaman pidato para ulama. Hal ini sangat membantu dalam proses pembentukan iktikad dan pemahaman keislaman mereka sejak dini. Bahkan, tidak sedikit anak-anak muda yang saat ini menjadi penghafal Al-Qur’an dengan memanfaatkan aplikasi dan teknologi yang ada, dan ini adalah prestasi yang sangat membanggakan.
Allah Ta’ala berfirman,
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Allah Ta’ala memuliakan pengetahuan dan perangkat untuk menuntut ilmu, termasuk di dalamnya media yang digunakan untuk belajar. Era digital dengan segala fasilitasnya adalah salah satu corak dari “pena” modern yang bisa digunakan untuk menuntut ilmu. Namun, sebagaimana pena bisa digunakan untuk kebaikan alias keburukan, demikian pula teknologi digital. Maka, orang tua kudu memanfaatkan kemudahan ini untuk mengarahkan anak pada kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan.
Ancaman yang mengintai
Di kembali segala kemudahan yang ditawarkan, bumi digital menyimpan beragam ancaman serius bagi anak perempuan. Salah satu ancaman terbesar adalah paparan konten negatif yang merusak adab dan moralitas. Anak-anak dengan mudah dapat menemukan tayangan yang menampilkan aurat, hubungan terlarang, kekerasan, apalagi ajaran-ajaran sesat yang menakut-nakuti akidah. Algoritma media sosial sering kali justru merekomendasikan konten-konten semacam ini kepada pengguna muda, sehingga anak wanita yang belum mempunyai tembok ketaatan yang kokoh bakal mudah terpengaruh dan meniru apa yang mereka lihat.
Ancaman berikutnya adalah tuduhan media sosial, di mana anak wanita sering kali terjebak dalam budaya pamer (tabarruj), riya’, dan tawadhu’ yang hilang. Banyak dari mereka yang tergoda untuk mengunggah foto-foto diri mereka tanpa hijab, alias dengan busana yang ketat dan memperlihatkan perhiasan, sementara Islam memerintahkan wanita untuk menutup aurat dan tidak memamerkan kecantikan mereka di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Kebiasaan ini dapat dengan perlahan melunturkan rasa malu (haya’) yang merupakan bagian krusial dari iman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 24)
Jika seorang anak wanita kehilangan rasa malunya akibat sering terpapar konten-konten yang merendahkan nilai-nilai kesopanan, maka imannya pun bakal ikut tergerus. Rasa malu yang diajarkan Islam bukanlah sifat negatif, melainkan tembok yang melindungi seorang muslimah dari perbuatan dosa dan maksiat, termasuk di bumi digital.
Jika kita telisik lebih jauh lagi, kita lihat bahwa ancaman pergaulan online yang tidak sehat juga sangat berbahaya. Anak wanita bisa dengan mudah berkenalan dengan musuh jenis melalui media sosial, aplikasi chat, alias game online. Percakapan yang awalnya tampak biasa dapat berujung pada hubungan yang mendekati perzinahan, yang sangat dilarang dalam Islam. Allah Ta’ala dengan tegas memerintahkan kaum mukminin untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka, dan ini bertindak juga dalam bumi maya. Allah Ta’ala berfirman,
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠﴾ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya’; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…'” (QS. An-Nur: 30-31)
Melihat foto-foto musuh jenis yang bukan mahram, membaca pesan-pesan yang menggoda, alias menonton tayangan yang tidak senonoh adalah corak pelanggaran terhadap perintah Allah. Orang tua kudu menyadari bahwa ancaman ini nyata dan telah banyak terjadi, sehingga mereka tidak boleh lengah dalam mengawasi kegiatan digital anak-anak perempuannya.
Peran ibu sebagai tembok utama
Dalam mendidik anak wanita di era digital, ibu memegang peran yang sangat strategis dan tidak tergantikan. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, tempat mereka belajar nilai-nilai dasar kehidupan, termasuk gimana bersikap terhadap bumi digital. Keteladanan seorang ibu sangat menentukan sikap anak terhadap teknologi. Jika ibu sendiri terbiasa menggunakan gadget untuk hal-hal yang berfaedah dan menjaga etika dalam bermedia sosial, maka anak-anak bakal meniru kebiasaan tersebut. Sebaliknya, jika ibu sibuk dengan gadget dan mengabaikan anak, maka anak pun bakal kehilangan teladan yang baik.
Ibu juga berkedudukan sebagai tembok emosional bagi anak perempuannya. Kedekatan dan komunikasi yang hangat antara ibu dan anak bakal membikin anak merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang mereka lihat dan alami di bumi maya. Ibu pun dapat menjadi filter bagi anak, membantu mereka memahami mana konten yang baik dan mana yang buruk, serta memberikan nasihat yang bijak tanpa membikin anak merasa dihakimi. Inilah yang disebut dengan pendampingan digital, di mana ibu tidak hanya melarang, tetapi juga membimbing dan mengarahkan.
Selain itu, ibu juga bertanggung jawab untuk mengajarkan anak-anaknya langkah memilah info (media literacy) dalam bingkai Islam. Anak perlu diajari untuk tidak mudah percaya pada semua info yang mereka terima, untuk selalu memeriksa kebenaran dari sumber yang terpercaya, dan untuk tidak menyebarkan info tanpa klarifikasi. Hal ini sejalan dengan aliran Islam yang memerintahkan untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) terhadap buletin yang diterima.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar Anda tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan Anda menyesal atas perbuatanmu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Betapa pentingnya tabayyun, dan ini sangat relevan dengan era digital di mana buletin tiruan (hoaks) dan info menyesatkan tersebar dengan sangat cepat. Anak wanita perlu dibekali dengan keahlian ini agar mereka tidak menjadi korban alias apalagi pelaku penyebaran info yang tidak benar. Dengan pengarahan ibu, mereka dapat belajar untuk menjadi pengguna digital yang cerdas, bertanggung jawab, dan selalu berpegang pada nilai-nilai Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan pentingnya peran orang tua, termasuk ibu, dalam menjaga anak-anak mereka dari api neraka, dan ini mencakup upaya menjauhkan mereka dari segala perihal yang dapat merusak ketaatan dan akhlak, termasuk pengaruh negatif bumi digital. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bakal dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang memimpin rakyat adalah pemimpin dan dia bakal dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia bakal dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan dia bakal dimintai pertanggungjawaban atas mereka…” (HR. Bukhari no. 5200 dan Muslim no. 1829)
Hadis ini menegaskan bahwa ibu mempunyai tanggung jawab kepemimpinan di rumahnya, termasuk dalam mendidik anak-anaknya dan melindungi mereka dari bahaya, baik di bumi nyata maupun di bumi maya. Menjadi ibu di era digital memang penuh tantangan; namun dengan ilmu, kesabaran, dan tawakal kepada Allah, seorang ibu dapat menjadi tembok utama yang melindungi putri-putrinya dari segala ancaman yang mengintai.
Era digital membawa dua sisi mata uang, ialah kemudahan dan ancaman yang beriringan. Bagi anak perempuan, bumi digital bisa menjadi sarana untuk menuntut ilmu, mengembangkan bakat, dan memperluas wawasan, namun juga bisa menjadi sumber tuduhan yang merusak akhlak, iman, dan masa depan mereka. Orang tua, terutama ibu, dituntut untuk berkedudukan aktif sebagai tembok utama yang melindungi, membimbing, dan mengarahkan anak-anak mereka dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Tidak ada jalan lain selain membekali anak dengan tembok ketaatan yang kokoh, pengetahuan yang bermanfaat, adab yang mulia, serta keahlian memilah info dalam bingkai Islam. Orang tua juga kudu membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, memberikan keteladanan yang baik, dan tidak pernah berakhir bermohon kepada Allah agar anak-anak mereka senantiasa dalam perlindungan-Nya. Semua upaya ini adalah corak jihad di era modern, dan setiap langkah mini yang diambil bakal menjadi kebaikan jariyah yang kelak bakal menuai pahala di sisi Allah.
Semoga tulisan ini berfaedah bagi para pembaca, terutama para orang tua yang sedang berjuang mendidik putri-putrinya di tengah derasnya arus digital. Mari kita jadikan era digital ini sebagai ladang kebaikan dan sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai perangkat yang menjerumuskan kita dan anak-anak kita ke dalam lembah kebinasaan. Semoga Allah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita semua dalam mendidik generasi muslimah yang tangguh, berilmu, dan beradab mulia.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca juga: Pahala Mendidik Anak Perempuan
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Kincai Media