Meneladani Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz

Aug 05, 2026 11:51 AM - 20 jam yang lalu 54
Meneladani Kepemimpinan Umar bin Abdul AzizMeneladani Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz

Kincai Media– Dalam lanskap sejarah politik dan peradaban manusia, kekuasaan sering kali diperlakukan sebagai puncak keberhasilan individual sekaligus instrumen pamer kekuatan. Para penguasa di belakangan zaman kerap membentengi diri mereka dengan jenjang yang ketat, kemewahan yang mencolok, serta jarak sosial yang membentang lebar antara mereka dengan rakyat yang dipimpin.

Kekuasaan, ketika tidak diikat oleh kesadaran spiritual yang utuh, condong mengalihkan prinsip manusia dari seorang hamba menjadi sosok yang merasa berada di atas norma dan martabat kemanusiaan itu sendiri.

Namun, dalam jejak kebudayaan Islam, terdapat rekaman-rekaman sejarah yang menyuguhkan paradoks menakjubkan: seorang pemimpin tertinggi yang justru memilih untuk meruntuhkan tembok jenjang tersebut demi menjaga kemurnian jiwanya.

Salah satu bagian sejarah yang banget menyentuh dan sarat makna kepemimpinan ini diabadikan oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam mahakarya literatur sufistik dan akhlaknya, “Irsyad al-Ibad ila Sabilir Rasyad”.

Pada jilid pertama laman 256, dia memetik sebuah narasi otentik tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang penguasa Dinasti Umayyah yang kekuasaannya membentang luas dari perbatasan Tiongkok hingga ke daratan Eropa, namun hatinya senantiasa tunduk di hadapan kebenaran dan keadilan universal.

Teks Arabnya bersuara begini:

وحكي أن عمر بن عبد العزيز قال يوماً لجاريته، روحيني أنام فروحته فنام فغلبها النوم فنامت، فلما انتبه أخذ المروحة وجعل يروحها ؛ فلما انتبهت ورأته يروحها صاحت، فقال لها عمر : إنما أنت بشر مثلي أصابك من الحرّ ما أصابني، فأحببت أن أروحك كما روحتيني.

Kisah tersebut diawali oleh sebuah momen yang sangat individual dan domestik. Suatu hari, di tengah teriknya cuaca yang menyengat, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang merasa capek meminta support kepada seorang pelayan perempuannya.

Beliau berkata, “Kipasilah saya agar saya bisa tidur.” Pelayan itu pun menjalankan tugasnya dengan patuh. Hembusan angin dari kipas genggam tersebut perlahan-lahan mengantarkan sang Khalifah ke dalam tidur yang lelap.

Namun, rasa capek akibat cuaca panas dan tugas harian rupanya tidak hanya dialami oleh sang penguasa. Setelah Khalifah tertidur, rasa kantuk yang banget sangat tak tertahankan menguasai sang pelayan.

Tubuhnya yang letih menyerah pada alam bawah sadar, hingga akhirnya dia ikut tertidur lelap di dekat tempat tidur pemimpinnya, dengan kipas yang terkulai dari genggamannya.

Tak berapa lama kemudian, Khalifah Umar terbangun. Dalam tradisi kekuasaan yang otoriter alias budaya feodalisme yang kaku, pemandangan seorang pelayan yang tertidur saat bekerja (terlebih di hadapan penguasa) mungkin bakal dianggap sebagai corak kelalaian berat yang memancing kemarahan alias hukuman. Namun, apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz justru berbanding terbalik secara ekstrem dengan ekspektasi duniawi.

Melihat pelayannya tertidur lantaran kelelahan, Umar tidak membangunkan, apalagi memarahinya. Dengan lembut, beliau mengambil kipas dari tangan pelayan tersebut, lampau perlahan-lahan mengibaskannya ke arah sang pelayan yang sedang terlelap.

Ketika pelayan itu terbangun dan mendapati bahwa sosok yang dihadapinya (pemimpin tertinggi seluruh kaum muslimin saat itu) sedang mengipasinya, dia terperanjat dahsyat dan berteriak ketakutan lantaran merasa telah melanggar pemisah etika pengabdian.

Di sinilah letak puncak keelokan pesan moral tersebut. Dengan tenang dan penuh kehangatan, Umar bin Abdul Aziz menenangkan pelayannya seraya mengucapkan kalimat yang kekal dalam sejarah kearifan;

“Sesungguhnya engkau adalah manusia seperti diriku. Engkau merasakan panas sebagaimana saya merasakannya. Karena itu, saya mau mengipasimu sebagaimana engkau telah mengipasiku.”

Dekonstruksi Feodalisme melalui Kesadaran Kemanusiaan

Kalimat pendek yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz di atas bukanlah sekadar kalimat pemanis alias pembenaran atas tindakan spontannya. Pernyataan tersebut adalah sebuah manifestasi makulat kemanusiaan dan kepemimpinan yang sangat mendasar. “Engkau adalah manusia seperti diriku” adalah sebuah pengakuan jujur bakal kesetaraan biologis, eksistensial, dan spiritual antara seorang raja dan seorang pelayan.

Di mata Umar, kedudukan sebagai khalifah tidak serta-merta mengubah struktur biologisnya menjadi lebih tahan terhadap rasa panas, tidak pula mengangkat derajat kemanusiaannya menjadi lebih mulia di hadapan Tuhan melampaui pelayannya.

Rasa panas yang membakar kulitnya adalah rasa panas yang sama yang membakar kulit pelayannya. Rasa capek yang menuntut rehat pada dirinya adalah rasa capek yang sama yang melumpuhkan kesadaran pelayannya.

Tindakan Umar mengipasi kembali pelayannya adalah tindakan dekonstruksi terhadap budaya feodal yang sering kali mengisap empati dari diri seorang penguasa. Feodalisme mengajarkan bahwa rakyat alias bawahan ada untuk melayani, sementara penguasa ada semata-mata untuk dilayani.

Sebaliknya, paradigma kepemimpinan Islam yang dihayati oleh Umar bin Abdul Aziz berdiri di atas fondasi khadimul ummah: bahwa seorang pemimpin sejatinya adalah pelayan bagi rakyatnya.

Dengan kata lain, ketika beliau mengipasi pelayannya, beliau sedang mempraktikkan konsep resiprositas alias timbal kembali berbasis kasih sayang: jika engkau telah meringankan bebanku, maka sudah menjadi kewajibanku untuk meringankan bebanmu.

Relevansi Kepemimpinan di Era Modern

Jika kita menarik kisah sejarah ini ke dalam konteks era modern, relevansinya terasa begitu menohok. Saat ini, bumi kerap disuguhi oleh kepemimpinan yang berjarak, birokratis, dan tidak jarang narsistik.

Jabatan politik, posisi eksekutif, alias status sosial seringkali dipandang sebagai perangkat untuk mengamankan keistimewaan (privilege), meraih kekebalan dari kritik, dan menuntut penghormatan tanpa pemisah dari orang-orang di tingkat bawah.

Krisis kepemimpinan modern sejatinya adalah krisis empati dan hilangnya kesadaran bakal kesetaraan kemanusiaan. Banyak pemimpin dewasa ini yang berjarak dari realitas kehidupan masyarakatnya.

Mereka tidak lagi merasakan “panas” yang dirasakan oleh rakyat di tingkat akar rumput: baik itu panasnya beban ekonomi, ketidakadilan hukum, maupun kesulitan hidup sehari-hari. Ketika pemimpin kehilangan keahlian untuk merasakan apa yang dirasakan oleh bawahannya, maka kebijakan yang dilahirkan bakal condong dingin, kaku, dan acuh tak acuh.

Sikap Umar bin Abdul Aziz menawarkan sebuah koreksi mendalam. Beliau mengajarkan bahwa kerendahan hati (tawadhu’) bukanlah tanda kelemahan, melainkan puncak dari kekuatan karakter.

Seorang pemimpin yang mempunyai kerendahan hati tidak bakal merasa terhina ketika melakukan pekerjaan yang dianggap “rendah” oleh masyarakatnya. Justru, dalam kerendahan hati itulah terpancar kewibawaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan anggaran negara alias dipaksakan melalui protokol kekuasaan.

Kekuasaan yang Fana dan Akhlak yang Abadi

Kisah dalam kitab “Irsyad al-Ibad” ini ditutup dengan sebuah perenungan filosofis yang sangat tajam: Jabatan bakal berakhir, kekuasaan bakal sirna, tetapi adab yang mulia bakal terus dikenang sepanjang masa.

Sejarah telah membuktikan kebenaran kalimat tersebut secara berulang-ulang. Berapa banyak penguasa besar dalam sejarah bumi yang membangun istana megah, menaklukkan daerah yang luas, dan mengumpulkan kekayaan tak terhitung jumlahnya, namun hari ini nama mereka hanya diingat sebagai catatan kaki yang kelam alias apalagi dilupakan sama sekali?

Kekuasaan Dinasti Umayyah itu sendiri pada akhirnya runtuh dan tergilas oleh roda zaman. Wilayah kekuasaan yang dulu membentang luas sekarang telah terpecah menjadi beragam negara modern dengan sistem yang berbeda. Istana-istana tempat para raja berkuasa sekarang banyak yang telah menjadi reruntuhan alias sekadar museum tempat pengunjung melintas.

Namun, kenapa kisah Umar bin Abdul Aziz mengipasi pelayannya tetap terus dibaca, diajarkan, dan dirawat hingga hari ini, ratusan tahun setelah peristiwa itu terjadi? Jawabannya terletak pada keabadian nilai akhlak. Kekuasaan politik mempunyai tanggal kedaluwarsa; dia terikat oleh waktu, usia, dan dinamika geopolitik.

Sebaliknya, nilai-nilai kebaikan seperti kerendahan hati, keadilan, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia adalah nilai-nilai universal yang melampaui batas-batas era dan geografi. Ketika Syekh Zainuddin Al-Malibari memasukkan kisah ini ke dalam kitabnya, tujuannya bukan sekadar memberikan wawasan sejarah (tarikh), melainkan untuk mendidik jiwa (tarbiyatun nufus).

Tanpa disadari, beliau mau mengingatkan setiap pembaca (baik mereka seorang penguasa, ulama, pejabat, maupun rakyat biasa) bahwa nilai sejati seorang manusia tidak diukur dari seberapa banyak orang yang bertekuk dengkul di hadapannya, melainkan dari seberapa besar kepedulian dan kelembutan hatinya terhadap sesama makhluk.

Meneladani Spirit ke-Umar-an dalam Kehidupan Sehari-hari

Memahami kisah ini tidak boleh berakhir pada taraf kekaguman historiografis belaka. Nilai-nilai yang dicontohkan oleh Umar bin Abdul Aziz kudu membumi dan diartikulasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang, dalam skala tertentu, adalah pemimpin: baik memimpin sebuah negara, perusahaan, keluarga, alias setidaknya memimpin dirinya sendiri.

Dalam ruang lingkup kerja modern, misalnya, kepemimpinan berbasis empati ini dapat diwujudkan melalui kesediaan seorang pemimpin untuk mendengarkan keluh kesah bawahannya, mengapresiasi kerja keras mereka tanpa mengambil alih kreditnya, serta tidak memperlakukan pekerja sekadar sebagai instrumen produksi semata.

Seorang pemimpin yang baik adalah dia yang siap “mengipasi” timnya (memberikan perlindungan, kenyamanan, dan dukungan) ketika timnya sedang mengalami titik capek dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam kehidupan berfamili dan bermasyarakat, spirit ini mengajar kita untuk meruntuhkan ego sosial. Tidak ada tempat bagi kesombongan berasas status ekonomi, pendidikan, alias keturunan.

Ketika kita berinteraksi dengan orang-orang yang secara struktural berada di bawah kita (seperti pekerja rumah tangga, pengemudi, alias petugas kebersihan), kita diingatkan oleh ucapan Umar, “Sesungguhnya engkau adalah manusia seperti diriku.” Mereka mempunyai rasa capek yang sama, rasa lapar yang sama, serta martabat kemanusiaan yang sama mulianya di hadapan Sang Pencipta.

Syahdan. Kisah mini tentang sebuah kipas genggam di bilik seorang khalifah telah memberikan pelajaran yang jauh lebih besar daripada ribuan pidato politik tentang keadilan. Umar bin Abdul Aziz telah menunjukkan bahwa puncak tertinggi dari sebuah kekuasaan adalah ketika penguasanya bisa menundukkan egonya sendiri di hadapan prinsip kemanusiaan.

Pada akhirnya, kita semua sedang melangkah menuju titik akhir yang sama. Seluruh atribut duniawi yang kita banggakan (jabatan yang mentereng, gelar yang panjang, serta kekayaan yang melimpah) bakal tanggal satu per satu saat kita meninggalkan bumi ini. Yang tersisa dan bakal terus bergetar dalam ingatan era hanyalah jejak-jejak kebaikan dan adab yang pernah kita tanam di hati orang lain.

Sebagaimana pesan kekal dari kisah ini, kekuasaan memang bakal sirna ditelan masa, tetapi kemuliaan adab bakal tetap menyinari jalan sejarah, menjadi petunjuk bagi generasi demi generasi yang merindukan kepemimpinan yang sejati. Wallahu a’lam bishawab.

——————————-

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya