Mengapa Cinta Sulit Disembunyikan? Jawaban Ibn Hazm dari AndalusiaBincangSyariah.com– Di bawah naungan kemegahan Andalusia abad kesebelas, ketika mahkota megah Cordoba memancarkan sinar peradaban yang memukau dunia, lahir sebuah mahakarya yang kelak meretas pemisah antara teologi, filsafat, dan sastra romansa.
Ibnu Hazm al-Andalusi, seorang ustadz besar, master norma madzhab Dhahiri yang terkenal ketat dan lugas, menuliskan sesuatu yang tidak terduga dalam sebuah kitab bertajuk “Thawq al-Hamamah” (Kalung Merpati).
Di dalam kitab yang lembut ini, sosok ustadz yang biasanya bergulat dengan teks-teks norma yang keras berubah menjadi seorang penjelajah relung hati manusia yang sangat peka.
Ia tidak menolak prinsip cinta; beliau justru membedahnya, merawatnya, dan mengabadikannya. Salinan quote bagus dari kitab tersebut memperlihatkan sungguh dahsyatnya panggung sandiwara asmara ketika dua jiwa yang saling menyatu terpaksa berakting untuk saling menjauh.
Koreografi Ilusi: Ketika Diam Menjadi Bahasa Terkeras
Mari kita cermati gimana Ibnu Hazm menggambarkan bagian keabadian itu:
فحينئذ ترى الحبيب منحرفاً عن محبه، مقبلاً بالحديث على غیره، معرضاً بمعرض لئلا تلحق ظنته أو تسبق استرابته؛
وترى المحب أيضاً كذلك، ولكن طبعه له جاذب، ونفسه له صارفة بالرغم، فتراه حينئذ منحرفاً كمقبل، وساكتا كناطق وناظراً إلى جهة نفسه في غيرها؛ والحاذق الفطن إذا كشف بوهمه عن باطن حديثهما علم أن الخافي غير البادي، وما جهر به غير نفس الخبر، وإنه لمن المشاهد الجالبة للفتن والمناظر المحركة للسواكن الباعثة للخواطر، المهيجة للضمائر، الجاذبة للفتوة
“Pada saat itu, engkau bakal memandang sang kekasih beralih dari orang yang dicintainya, lampau berbincang kepada orang lain, dan sengaja mengalihkan perhatian agar prasangkanya tidak terbongkar alias kecurigaannya tidak mendahului keadaan.”
“Engkau juga bakal memandang orang yang mencintai melakukan perihal yang serupa. Namun, tabiatnya justru menariknya kepada sang kekasih, sementara dirinya berupaya menjauh darinya meskipun dengan berat hati. Maka pada saat itu, engkau bakal melihatnya beralih seakan-akan sedang mendekat, tak bersuara seakan-akan sedang berbicara, dan memandang ke arah lain, padahal sebenarnya perhatiannya tertuju kepada dirinya.”
“Orang yang pandai dan peka, andaikan dia bisa menyelami makna tersembunyi di kembali percakapan keduanya, bakal mengetahui bahwa yang tersembunyi berbeda dari apa yang tampak, dan apa yang diucapkan dengan terang bukanlah keseluruhan dari apa yang sebenarnya dirasakan.
Sesungguhnya, itu adalah sebuah pemandangan yang dapat menimbulkan fitnah, menggerakkan sesuatu yang selama ini terpendam, membangkitkan beragam lintasan pikiran, menggugah emosi terdalam, dan menarik kembali gejolak masa muda.”
Ada sebuah dramaturgi emosional yang sangat mendalam di dalam susunan kalimat ini. Cinta, pada titik puncaknya yang paling terancam oleh norma, pandangan sosial, alias ketakutan bakal penolakan, secara otomatis mengenakan topeng.
Sang kekasih sengaja memutar tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada jiwa lain yang tak ada hubungannya, lampau melontarkan kata-kata kosong hanya untuk memalsukan arah angin. Ini bukan corak kepalsuan hati, melainkan sebuah pertahanan diri: sebuah tembok kekaisaran asmara yang didirikan agar rahasia suci itu tidak roboh disapu oleh prasangka bumi luar.
Namun, estetika yang sesungguhnya tidak terletak pada langkah mereka berpaling, melainkan pada peperangan jiwa yang membakar di kembali tindakan beralih tersebut:
“Engkau juga bakal memandang orang yang mencintai melakukan perihal yang serupa. Namun, tabiatnya justru menariknya kepada sang kekasih, sementara dirinya berupaya menjauh darinya meskipun dengan berat hati…”
Di sinilah letak tragedi manis itu. Ada gravitasi alami: sebuah tabiat yang terus-menerus menarik dua magnet jiwa untuk menyatu. Namun, pada saat yang sama, logika dan kewaspadaan bertindak sebagai penarik rem yang keras.
Hasil dari tumbukan dua kekuatan raksasa dalam jiwa ini adalah sebuah tarian paradoks yang membingungkan: dia berpaling, namun setiap perspektif geraknya adalah corak mendekat yang terselubung; dia membisu, namun diamnya memancarkan jeritan kerinduan yang melintasi ruangan; dia mengarahkan pandangannya ke ufuk yang jauh, padahal seluruh konsentrasi matanya tersedot penuh ke dalam gambaran sang pujaan.
Dialektika Batin: Persepsi Sang Pengamat yang Peka
Ibnu Hazm kemudian membujuk kita untuk tidak menjadi penonton yang dangkal. Beliau menekankan pentingnya intuisi dalam memahami kejadian ini:
“Orang yang pandai dan peka, andaikan dia bisa menyelami makna tersembunyi di kembali percakapan keduanya, bakal mengetahui bahwa yang tersembunyi berbeda dari apa yang tampak, dan apa yang diucapkan dengan terang bukanlah keseluruhan dari apa yang sebenarnya dirasakan…”
Di dalam alam kesadaran manusia, perkataan yang terucap hanyalah permulaan alias sekadar puncak gunung es dari benua emosi yang tenggelam di dasar samudra. Apa yang dinyaringkan oleh bibir sering kali hanyalah selubung; sedangkan bahasa yang jujur justru dituturkan oleh debar nadi yang terbatuk, gestur jemari yang ragu, serta alihan mata yang bergetar.
Keindahan teks ini memuncak pada konklusi Ibnu Hazm al-Andalusi tentang akibat psikologis dari pemandangan yang terselubung itu:
“Sesungguhnya, itu adalah sebuah pemandangan yang dapat menimbulkan fitnah, menggerakkan sesuatu yang selama ini terpendam, membangkitkan beragam lintasan pikiran, menggugah emosi terdalam, dan menarik kembali gejolak masa muda.”
Pemandangan dua orang yang saling mencintai dalam sembunyi bukanlah sekadar perselisihan dua individu, melainkan sebuah episentrum gelombang emosional. Siapa pun yang menyaksikan tumbukan antara gairah dan penahanan diri tersebut bakal terseret kembali ke dalam kenangan masa lalunya sendiri.
Ia menggetarkan jiwa-jiwa yang telah lama tenang, membangkitkan dorongan-dorongan yang telah terkubur oleh usia, dan menghidupkan kembali nostalgia gejolak masa muda yang pernah membakar dada.
Sifat Dasar Rasa: Mengapa Perasaan Begitu Sulit Disembunyikan?
Mengapa cinta yang paling disembunyikan justru menjadi cinta yang paling nyata terlihat? Jawabannya terletak pada prinsip emosi itu sendiri. Manusia dapat merekayasa kalimat, menyusun ketidakejujuran yang rapi melalui struktur bahasa, apalagi memalsukan ekspresi wajah untuk beberapa saat. Namun, manusia tidak bakal pernah bisa melatih sukmanya untuk berakhir bergetar ketika objek kerinduannya berada dalam satu jangkauan pandang.
Sifat dasar emosi adalah memancar. Ia menyerupai wewangian kasturi yang disembunyikan di kembali kain sutra yang tebal; betapapun rapatnya kain itu dibungkus, harumnya bakal tetap menembus serat-serat kain dan mengudara ke sekelilingnya.
Dalam konteks teks “Thawq al-Hamamah”, tak bersuara bukanlah corak ketiadaan suara, melainkan corak bahasa dengan gelombang yang sangat tinggi: gelombang yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang mempunyai kepekaan emosional (al-hadziq al-fatin). Ketika dua orang saling menyembunyikan rasa, riak-riak udara di antara mereka berubah menjadi penuh teka-teki dan sarat bakal pesan tersirat.
Pertanyaannya adalah: kenapa seseorang memilih untuk menyembunyikan cintanya? Ada dua kekuatan besar yang beraksi di dalam jiwa: ketakutan dan harapan. Pertama, ketakutan bakal penolakan dan bencana: ada kekhawatiran bahwa jika rahasia itu terbongkar ke permukaan, keelokan yang rentan itu bakal hancur oleh tatapan tajam masyarakat, perpecahan, alias penolakan yang dingin. Maka, menutupinya adalah corak perlindungan terbaik bagi kesucian rasa itu sendiri.
Kedua, angan yang tak pernah padam: di bawah lapisan ketakutan itu, ada lilin mini yang terus menyala. Lilin itu adalah angan bahwa suatu hari kelak jarak yang diciptakan oleh takdir dan norma bakal runtuh dengan sendirinya.
Sebagaimana yang dirumuskan dalam penutup refleksi ini: pada akhirnya, yang paling susah disembunyikan dari manusia bukanlah keraguan, kekecewaan, alias kebencian. Yang paling susah disembunyikan adalah sebuah hati yang diam-diam tetap berharap.
Harapan mempunyai pancaran mikroskopis yang menyusup keluar lewat tatapan mata yang memperkuat beberapa detik lebih lama dari biasanya, alias lewat keheningan yang mendadak berat ketika sebuah nama diucapkan.
Epilog: Keabadian Rasa dalam Lipatan Waktu
Melalui jejak tulisan Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi yang telah berumur ratusan tahun ini, kita menyadari satu perihal monumental: era dapat berganti, imperium dapat runtuh, dan arsitektur peradaban dapat berubah menjadi debu, namun anatomi hati manusia tidak pernah berubah sedikit pun.
Cinta yang tersembunyi di dalam kitab “Thawq al-Hamamah” adalah cermin bagi setiap jiwa yang pernah merasakan sungguh menyiksanya menjaga jarak dengan sesuatu yang paling mau dipeluknya.
Ia adalah kode bagi mereka yang memilih untuk mencintai dari kejauhan, membisu dalam keramaian, dan membiarkan tatapan mata menjadi satu-satunya jembatan rahasia tempat jiwa mereka saling berganti cerita.
Sebab pada akhirnya, kata-kata hanyalah wadah yang terbatas untuk menampung samudra emosi yang tak bertepi. Dan cinta terbaik sering kali tidak dituliskan di atas kertas dengan tinta, melainkan diukir di dalam dada dengan tak bersuara yang paling tulus, menunggu takdir membacakannya kembali pada waktu yang tepat. Wallahu a’lam bishawab.
—————-
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·