Mengenal Isymam dalam Al-Qur'an: Pengertian dan Contoh BacaanKincai Media– Apa itu isymam dalam Al-Qur’an? Isymam (الإشمام) adalah salah satu referensi gharib dalam pengetahuan tajwid dan qira’at yang hanya muncul sekali dalam riwayat Imam Hafsh dari Imam ‘Ashim, ialah pada Surah Yusuf ayat 11. Meski hanya sekali, para ustadz qira’at meletakkan perhatian besar terhadapnya lantaran menjadi bukti sungguh telitinya periwayatan referensi Al-Qur’an.
Lantas, apakah yang dimaksud dengan isymam? Bagaimana langkah membacanya? Dan kenapa corak referensi yang unik ini tetap dipertahankan dalam periwayatan Al-Qur’an?
Pengertian Isymam
Secara bahasa, kata isymam (الإشمام) berasal dari kata أشمَّ yang berfaedah mencampurkan, menggabungkan, alias memberikan isyarat.
Adapun menurut istilah, Imam Ibnu al-Jazari menjelaskan:
وأما الإشمام فهو عبارة عن ضم الشفتين بعد سكون الحرف من غير صوت، ويدرك ذلك الأصم دون الأعمى. ويعبر عنه ويراد به خلط حركة بحركة نحو: ﴿قِيلَ﴾ في قراءة من أشم، ويطلق أيضاً ويراد به خلط حرف بحرف في نحو: ﴿الصِّرَاطَ﴾ و﴿أَصْدَقُ﴾.
Artinya: “Isymam adalah merapatkan kedua bibir setelah huruf disukunkan tanpa mengeluarkan suara. Isymam dapat dikenali oleh orang yang tuli lantaran dia dapat memandang aktivitas bibir, tetapi tidak dapat diketahui oleh orang yang buta.
Istilah isymam juga digunakan dalam makna mencampurkan suatu harakat dengan harakat yang lain, seperti pada lafaz قِيلَ menurut qira’at yang menggunakan isymam.
Selain itu, istilah ini juga digunakan untuk menunjukkan pencampuran suatu huruf dengan huruf lain, seperti pada lafaz الصِّرَاطَ dan أَصْدَقُ.” (Imam Ibnu al-Jazari, At-Tamhīd fī ‘Ilm al-Tajwīd (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1971), hlm. 78).
Keterangan ini menunjukkan bahwa istilah isymam mempunyai beberapa penggunaan dalam disiplin pengetahuan qira’at. Namun, ketika dibahas dalam pengetahuan tajwid riwayat Hafsh, yang dimaksud adalah aktivitas kedua bibir sebagai isyarat harakat dhammah tanpa mengeluarkan suara.
Lebih jauh, ustadz juga mendefinisikan isymam sebagai berikut:
الإشمام: وهو ضم الشفتين عند الوقف من غير صوت دليلاً على ضم الموقوف عليه، ومن ثم اختص بالمضموم والمرفوع، والروم يستعمل فيهما، وفي الكسر والجر، ولم يستعمل في الفتح ولا في النصب خلافاً لمن شذ به من أهل الأداء، واستعملها أبو بشر سيبويه في الحركات كلها.
Artinya: “Isymam adalah merapatkan kedua bibir ketika melakukan waqaf tanpa mengeluarkan bunyi sebagai isyarat bahwa huruf yang diwaqafkan pada asalnya berharakat dhammah. Oleh lantaran itu, isymam hanya bertindak pada kata yang berhujung dengan dhammah alias berstatus marfu’. Adapun raum dapat digunakan pada referensi yang berharakat dhammah maupun kasrah, alias pada keadaan raf’ dan jar.
Sebaliknya, isymam maupun raum tidak digunakan pada fathah dan nashab, selain menurut sebagian mini mahir qira’at yang berbeda pendapat. Sementara Abu Bisyr Sibawaih beranggapan bahwa keduanya dapat diterapkan pada seluruh harakat.” (Lihat Abu ‘Amr ad-Dani, At-Tahdīd fī Ṣan’ati al-Itqān wa at-Tajwīd, hlm. 17; Al-Qawā‘id wa al-Isyārāt fī Uṣūl al-Qirā‘āt, hlm. 52).
Di Mana Isymam Terdapat dalam Al-Qur’an?
Dalam riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim, isymam hanya terdapat pada firman Allah Swt.:
قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ
“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, kenapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal kami betul-betul menginginkan kebaikan baginya.'” (QS. Yusuf [12]: 11).
Bacaan isymam dalam Al-Qur’an di atas terdapat pada lafaz:
لَا تَأْمَنَّا
Dalam Mushaf Madinah, biasanya terdapat tanda mini alias keterangan إشمام di atas kata tersebut sebagai petunjuk bagi para qari.
Bagaimana Cara Membaca Isymam?
Cara membaca isymam tidak menghasilkan bunyi tambahan pada lafaz yang dibaca. Yang berubah bukan suara, melainkan aktivitas bibir.
Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:
- Membaca lafaz sebagaimana biasa hingga huruf nun yang disukunkan.
- Setelah bunyi berhenti, kedua bibir dimonyongkan seolah-olah hendak mengucapkan harakat dhammah.
- Gerakan bibir tersebut dilakukan tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun.
Gerakan ini semata-mata menjadi isyarat bahwa asal kata tersebut mengandung harakat dhammah sebelum mengalami proses idgham. Karena itu, isymam hanya dapat diketahui oleh orang yang memandang langsung aktivitas bibir seorang qari, bukan hanya dengan mendengarkan bacaannya.
Mengapa Ada Isymam?
Para ustadz menjelaskan bahwa isymam berfaedah menjaga info tentang asal corak kata dalam bahasa Arab.
Lafaz:
لَا تَأْمَنَّا
berasal dari bentuk:
لا تأمننا
Karena terjadi proses idgham antara dua huruf nun, bunyi referensi menjadi lebih ringan. Dalam proses tersebut, harakat dhammah yang terdapat pada asal kata tidak lagi terdengar. Di sinilah isymam berfaedah sebagai isyarat bahwa dhammah tersebut tetap ada pada asal corak katanya meskipun tidak tampak dalam bunyi bacaan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·