Kincai Media ,JAKARTA -- Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad menegaskan pentingnya penguatan literasi digital dan pemanfaatan kepintaran buatan (AI) sebagai bagian dari strategi dakwah Muhammadiyah di era digital.
Dalam pengantarnya pada pengajian rutin PP Muhammadiyah, Prof Dadang menyebut AI bukanlah sesuatu yang kudu dicurigai, apalagi dianggap bertentangan dengan nilai Islam. Karena, menurutnya, Algoritma itu justru diletakkan pertama kali oleh Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, intelektual Muslim abad ke-9.
"Jangan anggap bahwa AI itu produk orang kafir, bukan. Yang menciptakan pertama kali itu algoritma itu Al-Khawarizmi,” ujarnya dalam pengajian rutin bertema “Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan: Mengembangkan AI yang Berkah, Beretika, dan Berkemajuan” di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (23/1/2026) malam.
Ia menekankan bahwa AI bekerja dengan informasi dan algoritma, dua perihal yang sejatinya berakar dari tradisi keilmuan Islam. Namun, umat Islam justru tertinggal lantaran meninggalkan sains dan pengetahuan.
“Yang menguasai sekarang China, Jepang, Eropa, Amerika. Kita tertinggal lantaran malas belajar,” ujar Prof Dadang.
Menurutnya, penguatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, terutama ketika minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Dari seribu orang, hanya satu yang doyan membaca.
“Padahal Alquran itu perintahnya jelas, Iqra’ (bacalah),” kata Guru Besar UIN Bandung ini.
Prof Dadang juga menyoroti perilaku generasi muda yang menghabiskan rata-rata delapan jam per hari di bumi digital. Kondisi ini, kata dia, kudu direspons dengan pendekatan dakwah yang relevan.
“Maka jika kita sekarang tidak mau memanfaatkan AI, termasuk media-media sosial untuk dakwah kita, maka info tentang kepercayaan kita mungkin tidak lagi diperhatikan,” jelas Prof Dadang.
Ia menilai pemanfaatan AI secara etis dan berkemajuan justru menjadi kesempatan besar bagi Muhammadiyah untuk tetap datang dan relevan di tengah generasi Z dan Alpha.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·