Kincai Media ,JOMBANG -- Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) 2025 menghasilkan dorongan kuat bagi penguatan kelembagaan Direktorat Jenderal Pesantren. Forum nasional yang digelar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang pada 28-30 November itu juga menetapkan Mudir Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta, KH Nur Salikin sebagai Ketua AMALI yang baru untuk periode 2025–2030.
Agenda Munas III yang mengusung tema “Rekognisi, Sinergi, dan Transformasi Peran AMALI dalam Penguatan Ekosistem Pendidikan Pesantren” itu dihadiri sejumlah tokoh pesantren.
Di antaranya, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, KH Irfan Yusuf, KH Riza Yusuf, Direktur PD Pontren Basnang Said, serta Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly Mahrus El-Mawa.
Ketua AMALI demisioner, KH Nur Hannan menegaskan, Ma’had Aly mempunyai peran strategis sebagai lembaga pendidikan dan sebagai penjaga peradaban Islam Nusantara.
“Perjalanan Ma’had Aly bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan jalan pengabdian dan petunjuk peradaban Islam Nusantara,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Kincai Media , Senin (1/12/2025).
Terpilihnya Kiai Nur Salikin disambut hangat para peserta Munas. Lahir di Grobogan, dia dikenal sebagai figur muda dengan kapabilitas akademik kuat. Ia menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, mendalami fikih di Universitas Al-Ahgaff Yaman, dan menyelesaikan jenjang magister serta doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Keilmuannya diperkaya melalui talaqqi di Darul Mustafa Tarim, Ribat Tarim, Darul Ghuroba’, serta sejumlah pesantren besar di Indonesia. Jejak akademik dan pengabdiannya mencakup pengajaran persiapan mahasiswa Timur Tengah, pengajar Ma’had Aly, Bendahara AMALI, hingga juri MQK dan tim penyusun soal PBSB serta LPDP Dana Abadi Pesantren. Ia juga menulis kitab “Fikih Minoritas.”
Dorongan Penguatan Ditjen Pesantren
Munas AMALI kali ini merumuskan sejumlah rekomendasi krusial bagi masa depan Ma’had Aly. Salah satunya, kebutuhan untuk memperkuat struktur Direktorat Jenderal Pesantren agar lebih efektif dan fokus.
“Para mudir berambisi agar Direktorat Jenderal Pesantren ke depan mempunyai struktur yang lebih ramping, efektif, dan tepat sasaran. Minimal ada eselon II yang secara unik menangani Ma’had Aly, dan tentu diisi oleh alumni pesantren yang memahami budaya pesantren,” kata Kiai Nuris, sapaan akrabnya.
Rekomendasi ini dipandang krusial untuk mempercepat transformasi Ma’had Aly sebagai pusat kaderisasi ustadz dan akademisi pesantren di Indonesia.
Di luar kegiatan akademik, Kiai Nuris dikenal luas melalui dakwahnya di media sosial dengan style santun dan mudah diterima generasi muda. Kepemimpinannya diharapkan membawa AMALI memasuki era baru yang lebih progresif dan adaptif terhadap perkembangan ekosistem pesantren.
Dengan rekam jejak akademik yang kuat, pengalaman kelembagaan yang luas, dan kegiatan dakwah digital yang aktif, Kiai Nuris diyakini bisa memperkuat Ma’had Aly sebagai pilar krusial pendidikan pesantren di Indonesia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·