Nubuat Nabi Tentang Gunung Emas Dan Surutnya Air Sungai Eufrat

Jan 23, 2026 08:40 AM - 3 bulan yang lalu 110936

Kincai Media , JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘’Hari Kiamat tak bakal terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkapkan 'Gunung Emas' yang mendorong manusia berperang. Sejumlah 99 dari 100 orang bakal tewas (dalam pertempuran), dan setiap dari mereka berkata, ‘Mungkin saya satu-satunya yang bakal tetap hidup'" (HR Bukhari).

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW bersabda, "Sudah dekat suatu masa di mana sungai Eufrat bakal menjadi surut airnya lampau ternampak perbendaharaan daripada emas, maka peralatan siapa yang datang di situ janganlah dia mengambil sesuatu pun daripada kekayaan itu" (HR Bukhari Muslim).

Imam Bukhari juga meriwayatkan sabda lainnya, Nabi SAW bersabda, ‘’Segera Sungai Eufrat bakal memperlihatkan kekayaan (gunung) emas, maka siapa pun yang berada pada waktu itu tidak bakal dapat mengambil apa pun darinya."

Seperti diriwayatkan Imam Abu Dawud, Rasulullah mengingatkan bahwa sungai yang sekarang mengalir di tiga negara modern Turki, Suriah, dan Irak itu pada saatnya bakal menyingkapkan kekayaan karun yang besar berupa gunung emas.

Selain itu, seperti dinukil dari kitab Al-Burhan fi `Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman, dijelaskan nubuat Rasulullah SAW. Itu adalah bahwa keringnya Sungai Eufrat merupakan pertanda datangnya Imam al-Mahdi dan kian dekatnya akhir zaman.

Dalam bahasa Arab, area perairan itu dikenal dengan nama al-Furat, yang harfiah berfaedah 'air nan paling segar.' Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Al-Hadith Al-Nabawi, Eufrat adalah sungai yang mengalir dari timur laut Turki.

"Sungai itu membelah pengunungan Toros, lampau melewati Suriah di kota Jarablus, melewati Irak di kota al-Bukmal, dan berjumpa Sungai Tigris di Al-Qurnah yang bermuara di Teluk Arab," ujar Dr Syauqi.

Panjang sungai itu mencapai 2.375 kilometer. Dua anak sungainya, ialah Al-Balikh dan Al-Khabur diketahui sudah mengering.

Pada saat Nabi Muhammad SAW menubuatkan masa depan Sungai Eufrat, daerah subur di Mesopotamia itu tetap diperebutkan oleh dua negeri adidaya: Persia dan Bizantium. Bahkan, Sungai Eufrat adalah pemisah alami yang memisahkan dua kerajaan tersebut.

Pada waktu wafatnya Rasul SAW, Persia sukses menguasai sekujur Mesopotamia, termasuk area daerah aliran Sungai Eufrat. Namun, ini tak selamanya.

Pada masa Khulafaur rasyidin, di tahun 642 M Perang Nahavand terjadi. Ini memperhadapkan antara pasukan Persia dan Muslimin. Akhirnya, kemenangan sukses direbut umat Islam.

Tepat pada era khalifah Umar bin Khattab, seluruh Persia dapat ditaklukkan daulah Islam. Runtuhlah riwayat imperium yang sudah berumur ratusan tahun itu.

Selengkapnya