Orang Tua yang Selalu Dekat dengan Anak Meski Sudah Dewasa: 8 Ciri

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 9775x dilihat
Orang Tua yang Selalu Dekat dengan Anak Meski Sudah Dewasa: 8 Ciri

Bagikan Postingan

Supaya anak terus merasa dekat dengan orang tua hingga dewasa, diperlukan kebiasaan dan pola asuh yang konsisten sejak masa kecil.

Banyak orang tua ingin mempertahankan kedekatan emosional dengan anaknya walau anak sudah beranjak dewasa dan menjalani hidup sendiri.

Salah satu tanda kedekatan yang kuat adalah ketika anak kerap menghubungi orang tua bukan karena butuh bantuan, melainkan sekadar menyapa, berbagi cerita, atau menanyakan kabar.


Menurut para psikolog, kebiasaan menjaga komunikasi hangat itu tidak muncul secara kebetulan. Ada pola relasi dan langkah pengasuhan yang dibangun sejak anak kecil sehingga membuat mereka merasa aman dan nyaman tetap berhubungan sampai dewasa.

Ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa

Psycholog Dr. Kathryn Smerling menyebut beberapa aspek penting yang membuat anak dewasa tetap memilih dekat dengan orang tuanya, salah satunya adalah gaya komunikasi yang dipelihara sejak kecil.

Sebaliknya, jika orang tua selalu menghalangi perkembangan atau menekan identitas anak, saat dewasa mereka cenderung menarik diri.

Berikut ciri-ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa seperti dikutip beragam sumber:

1. Punya rasa mau tahu terhadap kehidupan anak

Anak dewasa lebih sering menghubungi orang tua bila merasa orang tuanya benar-benar tertarik dengan kehidupannya sehari-hari, bukan sekadar ingin mengendalikan.

Karena itu, menunjukkan perhatian yang tulus terhadap apa yang anak jalani sebaiknya dimulai sejak awal dan dipertahankan secara konsisten.

"Orang tua kudu memahami apa yang menjadi minat anak," kata Dr. Smerling, seperti dikutip dari Parade. 

Selain memahami, orang tua juga disarankan memberi respons positif terhadap minat anak. Memaksakan pilihan, misalnya terus mendorong anak ikut kegiatan yang tidak disukainya, berisiko menimbulkan kekecewaan atau penolakan di kemudian hari.

2. Tidak terlalu mencampuri urusan anak

Mampu menahan diri untuk tidak selalu memberi komentar atau solusi adalah bagian penting dari pola asuh yang menghormati batas pribadi anak.

"Banyak orang tua merasa seolah-olah mereka bakal selalu mempunyai kendali penuh atas anak-anaknya. Hal ini dapat membikin mereka melanggar batas pribadi sehingga anak merasa tidak nyaman," imbuh Smerling.

Daripada otomatis memberi pendapat, orang tua sebaiknya lebih sering mendengarkan aktif sehingga anak merasa didengar tanpa terkekang.

3. Tidak menghakimi

Anak yang sudah dewasa cenderung hanya terbuka kepada orang tua yang membuat mereka merasa aman dan diterima apa adanya.

Sikap non-judgmental (tidak menghakimi) memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut sehingga komunikasi tetap terjalin.

4. Menghormati keputusan anak

Sikap saling menghormati memperkuat kepercayaan dan membuka peluang anak untuk berbagi, baik soal keberhasilan maupun kegundahan.

"Hubungan yang dilandasi rasa saling menghormati memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan keterbukaan untuk saling berbagi, apalagi di kemudian hari," ungkap psikolog Dr. Meera Khan, PsyD.

5. Tidak memaksakan kemauan kepada anak

Memaksa anak mengikuti kehendak orang tua seringkali muncul dari kecenderungan melihat anak sebagai perwujudan harapan orang tua, bukan sebagai individu terpisah.

Para ahli setuju bahwa paksaan bukanlah dasar hubungan sehat dengan anak dewasa.

"Orang tua perlu mengikuti perkembangan anak sesuai tahap usianya dan memberi mereka ruang untuk menjadi pribadi yang mandiri," ujar Khan.

Penting memisahkan identitas orang tua dari identitas anak agar anak mendapat kesempatan berkembang menjadi pribadi mandiri.

6. Membiasakan kemandirian melalui parallel play

Parallel play adalah situasi di mana dua orang berada di tempat yang sama tetapi melakukan aktivitas masing-masing tanpa harus selalu berinteraksi langsung, misalnya bermain di area yang sama namun fokus pada kegiatan sendiri.

Smerling berpendapat cara ini mengajarkan anak bahwa mereka diperlakukan sebagai individu setara dalam hubungan keluarga, sehingga kemandirian terbentuk tanpa merusak ikatan emosional.

7. Membangun secure attachment

Membangun secure attachment berarti menciptakan ikatan yang memberi rasa aman emosional—anak tahu orang tua akan ada saat dibutuhkan—tetapi tetap diberi ruang untuk berkembang.

Dengan cara ini, anak dapat tumbuh mandiri namun tidak kehilangan kedekatan emosional dengan orang tua.

8. Mengutamakan hubungan saling timbal balik

Beberapa orang tua masih berpandangan tradisional bahwa anak harus terus menghubungi orang tua terlebih dulu. Pandangan ini bisa menimbulkan ketegangan jika anak merasa diberi beban kewajiban.

"Itu adalah pandangan yang sangat tradisional tentang gimana hubungan semestinya berjalan, ialah ketika anak sudah tinggal terpisah, maka merekalah yang kudu lebih dulu menghubungi orang tua," kata Smerling.

Smerling menyarankan membangun hubungan yang bersifat timbal balik sehingga tidak masalah jika orang tua juga mengawali kontak—itu membantu menciptakan rasa saling percaya tanpa rasa dihakimi.

"Orang tua perlu memberikan pilihan kepada anak. Namun, tidak perlu mengarahkan pilihan tersebut alias terlalu memaksakan," tuturnya.

Itulah penjelasan tentang ciri-ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa.

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads