Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 35): Kapan Huruf أَنْ Wajib Tersembunyi? Rahasia لَامُ الْجُحُودِ dan حَتَّى

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 5 menit 510x dilihat
Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 35): Kapan Huruf أَنْ Wajib Tersembunyi? Rahasia لَامُ الْجُحُودِ dan حَتَّى

Bagikan Postingan

Ibnu Hisyam mengatakan,

قَوْلُهُ: وَنَحْوُهُ: ﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ﴾  [الْأَنْفَالِ: ٣٣] فَتُضْمَرُ لَا غَيْرُ

“Dan yang semisal dengannya adalah firman Allah, “Dan Allah sungguh tidak bakal mengazab mereka” (QS. Al-Anfal: 33). Maka pada contoh seperti ini, huruf “أَنْ” di-idhmar-kan (disembunyikan), tidak ditampakkan.”

Penulis mulai masuk ke dalam pembahasan keadaan ketiga, ialah keadaan ketika huruf (أَنْ) wajib di-idhmar-kan (disembunyikan).

Maka, (أَنْ) wajib disembunyikan pada beberapa tempat berikut:

Pertama, setelah lam al-juhud (لَامُ الْجُحُودِ)

Lam al-juhud adalah lam yang menunjukkan penafian yang berarti tidak. Lam ini didahului oleh fi’il madhi kana atau fi’il mudhari’ kana yang dinafikan dengan huruf ما atau huruf لم.

Contohnya:

مَا كَانَ الصَّدِيقُ لِيَخُونَ صَدِيقَهُ، لَمْ يَكُنِ الْغَنِيُّ لِيَطْغَى كِرَامَ النُّفُوسِ

“Tidaklah seorang sahabat layak mengingkari sahabatnya, dan tidaklah orang kaya yang berbudi pekerti mulia bakal bertindak sewenang-wenang.”

Pada kata ليخون ada huruf أَنْ yang wajib disembunyikan. Asalnya adalah لِأَنْ يَكُونَ. Kemudian juga pada kata ليطغى ada huruf an yang juga disembunyikan. Asalnya adalah لِأَنْ يُطْغِي. Huruf lam pada kata ليخون dan ليطغى adalah lam al-juhud yang berfaedah taukid (menguatkan makna penafian).

Hal itu lantaran asal kalimatnya adalah  مَا كان يفعل (ia tidak melakukan). Kemudian dimasukkan huruf lam untuk memperkuat penafian tersebut. Oleh karena itu, dinamakan lam al-juhud, lantaran selalu berangkaian dengan makna juhud (penolakan/penafian). Ini hanyalah istilah dalam pengetahuan nahwu; karena secara bahasa, juhud berarti pengingkaran.

Di antara contohnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ

(QS. Al-Anfal: 33)

Dan firman Allah Ta’ala:

لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ

(QS. An-Nisa: 137)

Pada kata لِيُعَذِّبَهُمْ, huruf lam yang terdapat pada awal huruf adalah huruf lam al-juhud, sedangkan kata يُعَذِّبَ merupakan fi’il mudhari’ yang manshub karena adanya أَنْ yang di-idhmar-kan (disembunyikan) secara wajib lantaran terletak setelah lam al-juhud. Asalnya adalah لِأَنْ يُعَذِّبَهُمْ. Gabungan أَنْ + يُعَذِّبَهُمْ membentuk mashdar muawwal, yang ditakwil menjadi لِتَعْذِيبِهِمْ (untuk mengazab mereka). Adapun huruf (هـ) pada kata tersebut berdomisili sebagai maf’ul bih (objek), sedangkan huruf ميم merupakan penanda jama’. Kalimat yang datang setelah أَنْ berfungsi sebagai silah (kalimat penyempurna) bagi mashdar harfi “أَنْ”. Adapun mashdar muawwal (gabungan antara an dan fi’il sesudahnya yang di-takwil menjadi mashdar) berdomisili majrur karena didahului oleh huruf lam. Adapun jar dan majrur tersebut berangkaian dengan khabar “كان” yang dibuang (mahzuf).

Sehingga corak takdir (susunan yang diperkirakan) dari ayat di atas adalah:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُرِيدًا لِتَعْذِيبِهِمْ

“Dan Allah sekali-kali tidak berkemauan untuk mengazab mereka.”

Kedua, setelah hatta (حَتَّى)

كَإِضْمَارِهَا بَعْدَ حَتَّى إِذَا كَانَ مُسْتَقْبَلًا

“Wajibnya menyembunyikan أَنْ (an) setelah huruf حَتَّى, andaikan fi’il setelahnya menunjukkan makna masa yang bakal datang.”

Dari pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa huruf أَنْ tidak tampak dalam lafaz, namun keberadaannya diperkirakan oleh norma nahwu. Oleh lantaran itu, fi’il mudhari’ sesudah حتى dibaca manshub karena adanya أَنْ yang di-idhmar-kan.

Dengan demikian, struktur sebenarnya adalah:

حَتَّى أَنْ يَرْجِعَ

“hingga dia kembali”

Namun dalam penggunaan bahasa Arab, lafaz أَنْ dihilangkan sehingga yang tampak hanyalah:

حَتَّى يَرْجِعَ

Syarat fi’il mudhari’ setelah hatta

Ibnu Hisyam menjelaskan:

أَنْ يَكُونَ الْفِعْلُ مُسْتَقْبَلًا

“Syarat fi’il mudhari’ dinashabkan oleh “an” setelah hatta ialah fi’il tersebut menunjukkan makna masa yang bakal datang.”

Hal ini menunjukkan bahwa tidak setiap fi’il mudhari’ setelah حتى otomatis menjadi manshub. Huruf tersebut menjadi amil nashab dan menyembunyikan huruf an hanya terjadi andaikan fi’il tersebut menunjukkan suatu peristiwa yang belum terjadi alias tetap diharapkan terjadi pada masa mendatang. Sebaliknya, andaikan fi’il tersebut menunjukkan keadaan yang sedang berjalan alias telah terjadi, maka fi’il tersebut tidak dinashabkan oleh أَنْ yang di-idhmar-kan (disembunyikan).

Contohnya dalam kalimat adalah:

لَا يُمْدَحُ الْوَلَدُ حَتَّى يَنَالَ رِضَا وَالِدَيْهِ

“Seorang anak tidak layak dipuji hingga dia memperoleh keridaan kedua orang tuanya.”

Pada contoh tersebut, kata يَنَالَ merupakan fi’il mudhari’ yang menunjukkan kejadian yang bakal datang, sehingga dibaca manshub karena adanya أَنْ yang disembunyikan setelah حتى.

Taqdir susunannya adalah:

حَتَّى أَنْ يَنَالَ

Sedangkan corak yang digunakan dalam bahasa Arab cukup:

حَتَّى يَنَالَ

Sebagai penguat norma tersebut, Ibnu Hisyam mengemukakan firman Allah Ta’ala:

لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى

“Kami bakal terus tetap menyembahnya hingga Musa kembali kepada kami.” (QS. Taha: 91)

Kata يَرْجِعَ dibaca manshub karena didahului huruf حَتَّى yang di dalamnya diperkirakan terdapat أَنْ yang wajib di-idhmar-kan (disembunyikan).

Huruf حَتَّى merupakan huruf yang menunjukkan pemisah akhir (ghayah) sekaligus berfaedah sebagai huruf jar. Adapun mashdar muawwal yang terbentuk dari أَنْ yang di-idhmar-kan beserta fi’il setelahnya berdomisili sebagai isim yang majrur oleh حَتَّى.

Pada ayat di atas, bentuk:

حَتَّى أَنْ يَرْجِعَ

ditakwil menjadi mashdar:

حَتَّى رُجُوعِ مُوسَى

“hingga kembalinya Musa”

Dengan demikian, fi’il mudhari’ setelah حَتَّى pada hakikatnya berubah makna menjadi sebuah mashdar muawwal yang berdomisili sebagai majrur karena didahului oleh huruf حَتَّى. 

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan Ibnu Hisyam, dapat disimpulkan beberapa norma krusial sebagai berikut:

Pertama, huruf أَنْ wajib di-idhmar-kan setelah حَتَّى apabila fi’il mudhari’ sesudahnya menunjukkan makna masa yang bakal datang.

Kedua, fi’il mudhari’ setelah حَتَّى menjadi manshub karena adanya أَنْ yang diperkirakan, bukan lantaran حَتَّى secara langsung..

Ketiga, campuran أَنْ dan fi’il mudhari’ membentuk mashdar muawwal.

Keempat, mashdar muawwal tersebut berdomisili majrur karena menjadi majrur oleh huruf حَتَّى dan huruf حَتَّى dalam pembahasan ini berfaedah sebagai huruf ghayah (penunjuk pemisah akhir) sekaligus huruf jar.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 34

***

Penulis: Rafi Nugraha

Artikel Kincai Media

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads