Rasulullah: Wahai Pamanku, Ucapkanlah Laa Ilaaha Illa Allah

Jan 23, 2026 07:52 AM - 3 bulan yang lalu 111795

Kincai Media , JAKARTA -- Paman Nabi Muhammad SAW, Abu Thalib mulai sering mengalami sakit, semakin lama semakin berat. Akhirnya beliau meninggal pada bulan Rajab tahun 10 kenabian, setelah enam bulan dari peristiwa pemboikotan.

Seperti dikutip dari kitab Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah, suatu riwayat yang shahih menyebut kondisi jelang wafatnya Abu Thalib. Dalam keadaan sekarat, dia didekati Rasulullah SAW. Sementara itu, ruangan tempatnya berada juga diisi beberapa orang kerabat, termasuk Abu Jahal.

Rasulullah SAW berkata, "Wahai pamanku, ucapkanlah, 'Laa ilaaha illa Allah', kalimat yang dapat saya gunakan untuk membelamu di hadapan Allah."

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata:

“Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci kepercayaan Abdul Muththalib?”.

Berulang-ulang mereka katakan itu, hingga akhir ucapan Abu Thalib adalah: “Saya tetap berada di dalam kepercayaan Abdul Muthallib.”

Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda, “Aku bakal mintakan pembebasan untukmu, selagi saya tidak dilarang dalam perihal itu.” 

Lalu turunlah ayat Allah Ta'ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

“Tidak ada kewenangan bagi Nabi dan orang-orang yang beragama untuk memohonkan pembebasan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun mereka ini kerabat(-nya), setelah jelas baginya bahwa sesungguhnya mereka adalah penunggu (neraka) Jahim" (QS at-Taubah: 113).

Allah juga menurunkan ayat-Nya:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk” (QS al-Qhashash: 56).

Demikianlah, Abu Thalib menghembuskan nafas terakhirnya dalam kondisi tetap dalam kekafirannya. Begitu keadaannya meskipun selama hidupnya dia selalu memihak dan melindungi Rasulullah SAW.

Dalam Shahih Muslim, terdapat sebuah sabda yang menggambarkan gimana kecintaan Nabi SAW kepada pamannya tersebut. Ini dapat membikin Abu Thalib memperoleh perlakuan berbeda dibanding seluruh penunggu neraka.

Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau bakal memberikan suatu faedah kepada Abu Thalib, lantaran dia selalu menjagamu serta melindungimu?"

Nabi SAW menjawab, "Ya. Dia (Abu Thalib) berada di dalam dhahdah (pantai) dari neraka. Seandainya bukan karenaku, niscaya dia berada di tempat paling bawah dari neraka."

Abu Thalib memang bakal mendapatkan kondisi di neraka yang "lebih baik" jika dibandingkan dengan orang-orang musyrik lainnya. Namun, pernyataan itu mesti diletakkan dalam tanda kutip karena, bagaimanapun, neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali. Sangat mengerikan siksaan di sana walaupun dalam takaran yang "paling ringan."

Rasul SAW pernah bersabda, "Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Ia memakai sandal yang keduanya dapat mendidihkan otaknya” (HR Muslim).

Selengkapnya