Refleks Moro pada Bayi: Kenali Penyebab, Tanda dan Cara Mengatasinya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 513x dilihat
Refleks Moro pada Bayi: Kenali Penyebab, Tanda dan Cara Mengatasinya

Bagikan Postingan

Pernahkah Bunda memandang bayi tiba-tiba merentangkan lengannya, membuka telapak tangannya, menengadahkan kepala ke belakang, lampau menarik kembali semuanya sembari menangis? Gerakan sigap ini disebut refleks moro alias dikenal juga sebagai refleks kejut (startle reflex). 

Refleks moro adalah salah satu refleks pertama yang ditunjukkan bayi setelah lahir dan biasanya bakal menghilang saat bayi berumur empat hingga enam bulan.

Dilansir dari Cleveland Clinic, refleks moro merupakan reaksi memperkuat hidup yang bermulai sejak di dalam kandungan, terkadang apalagi sejak usia kehamilan 28 minggu. Refleks ini membantu bayi mengambil napas pertamanya, bereaksi terhadap bahaya, dan menjalin ikatan dengan ibundanya alias pengasuhnya.


Refleks ini bakal aktif ketika bayi mendengar bunyi keras, memandang sinar terang, alias merasa seolah-olah sedang jatuh. Hal ini memicu tubuh untuk masuk ke dalam mode "lawan alias lari" (fight or flight), layaknya sistem sirine pribadi, Bunda.

Lalu kondisi apa saja yang dapat memengaruhi refleks ini? Selain itu, Bunda juga perlu mengetahui tanda-tanda bahwa refleks moro pada bayi itu tidak normal.

Mengenal apa itu refleks moro pada bayi

Refleks Moro adalah refleks bawaan yang dimiliki bayi saat baru lahir. Nama reflek moro ini diambil dari seorang master anak asal Jerman, Ernst Moro, yang pertama kali mendeskripsikan refleks ini pada tahun 1918. Bunda mungkin dapat mengawasi sendiri refleks Moro ini, terutama saat membaringkan bayi dalam posisi telentang.

Reflek moro merupakan respons otomatis yang muncul ketika bayi merasa seolah-olah sedang jatuh alias saat mereka terkejut oleh sesuatu. Refleks ini juga memicu bayi untuk menarik napas pertamanya.

Tenaga medis memeriksa keberadaan refleks Moro sebagai bagian dari prosedur standar pemeriksaan bayi baru lahir. Hal ini dilakukan lantaran refleks tersebut merupakan parameter yang dapat diandalkan untuk menilai seberapa baik kegunaan sistem saraf bayi baru lahir.

Pemeriksaan ini juga dilakukan saat mengevaluasi sistem saraf bayi alias untuk mendeteksi kondisi medis tertentu.

Penyebab refleks moro pada bayi

Refleks Moro berfaedah sebagai sistem perlindungan. Bayi tidak bisa secara sadar meminta support alias berteriak jika merasa bakal jatuh. Oleh lantaran itulah refleks ini bekerja secara otomatis.

Refleks Moro muncul ketika sistem vestibular bayi mendeteksi sensasi jatuh. Hal ini memicu pengiriman sinyal darurat ke batang otak bayi, yang kemudian mengaktifkan refleks tersebut.

Janin dapat menunjukkan refleks Moro sejak trimester kedua, namun biasanya refleks ini baru muncul pada trimester ketiga. Umumnya, bayi tidak lagi mempunyai refleks ini setelah berumur 6 bulan.

Biasanya, refleks Moro perlahan-lahan beranjak menjadi refleks kejut lainnya, ialah refleks strauss yang menetap seumur hidup. Refleks strauss membikin seseorang tersentak alias bereaksi spontan saat terkejut, lampau menilai apakah ada ancaman yang mengancam.

Tanda refleks moro pada anak

Bunda mungkin sendiri memperhatikan refleks Moro, terutama saat membaringkan bayi telentang (seperti saat tidur). Refleks ini membikin bayi melakukan hal-hal berikut:

  • Merentangkan dan meluruskan lengan
  • Mengembangkan jari dan ibu jari
  • Menengadahkan kepala
  • Menangis

Tahapan refleks moro pada bayi

Ada dua fase refleks moro pada bayi, bagian pertama adalah fase ekstensi dan bagian kedua adalah adduksi. Apa yang membedakan? Berikut penjelasannya:

Fase pertama (ekstensi)

Fase ekstensi merupakan bagian pertama dari refleks Moro. Saat bayi merasakan sensasi jatuh secara tiba-tiba alias mendengar bunyi keras, mereka bakal merentangkan kedua lengannya ke samping.

Telapak tangan mereka terbuka lebar dan jari-jarinya meregang. Mereka juga mungkin meluruskan kaki, sedikit melengkungkan punggung, serta tersentak alias menangis.

Fase kedua (adduksi)

Fase adduksi merupakan bagian kedua dari refleks moro. Setelah reaksi terkejut awal dan aktivitas merentangkan lengan, bayi menarik kembali lengannya ke arah dalam dengan aktivitas seperti memeluk, yang biasanya disertai dengan tangisan.

Kondisi yang memengaruhi refleks moro pada bayi

Ada beberapa kondisi yang bisa memengaruhi refleks moro pada bayi. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas refleks moro tidak terjadi dengan normal. Ada yang membikin reflek tersebut terlihat asimetri dan ada yang membuatnya terus-menerus ada walaupun semestinya sudah tidak terjadi ketika bayi sudah besar. 

Lebih jelasnya, berikut kondisi-kondisi yang dapat memengerahui refleks moro pada bayi.

1. Kelahiran prematur

Kelahiran prematur bisa membikin bayi lahir dengan berat yang sangat rendah. Sebuah penelitian menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara refleks primitif seperti refleks moro yang menetap dengan keterlambatan perkembangan motorik pada bayi.

2. Cedera

Cefera lahir, asfiksia berat selama proses persalinan, pendarahan intrakranial, jangkitan membikin tidak adanya refleks moro. Kondisi ini juga menyebabkan hilangnya refleks moro pada bayi secara prematur. Cedera lokal juga dapat membikin refleks moro asimetris dan menghalang refleks tersebut pada sisi yang terdampak.

3. Hiperekpleksia

Hiperekpleksia adalah kondisi genetik langka yang menyebabkan bayi mengalami kekakuan otot dan respons terkejut yang berlebihan terhadap rangsangan mendadak dan tak terduga, seperti suara, gerakan, alias sentuhan. Gejala kondisi ini biasanya menghilang saat anak berumur satu tahun. Refleks moro yang berlebihan dapat dikaitkan dengan kondisi neurologis seperti ini.

4. Cerebral palsy spastik

Pada cerebral palsy jenis spastik, kerusakan otak menyebabkan refleks ini tidak menghilang. Jika refleks Moro tetap ada setelah usia enam bulan, perihal tersebut merupakan tanda peringatan utama adanya keterlambatan perkembangan dan masalah motorik jenis spastik.

Cara mengatasi refleks moro pada bayi

Asian baby newborn crying from diarrhea colic symptomsIlustrasi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/comzeal

Refleks moro terjadi secara alami, untuk mengatasinya kita bisa melakukan:

1. Membedong

Membedong dapat membantu membatasi aktivitas lengan secara tiba-tiba yang memicu refleks moro. Tips membedong yang aman:

  • Gunakan selimut dengan bahan yang mempunyai sirkulasi udara baik alias kantong tidur (sleep sack)
  • Pastikan area pinggul tetap lenggang (untuk mencegah masalah pada pinggul)
    Selalu posisikan bayi telentang saat tidur
  • Hentikan kebiasaan membedong begitu bayi menunjukkan tanda-tanda mulai bisa berguling
  • Membedong efektif lantaran memberikan rasa kondusif dan dekapan lembut yang menyerupai suasana di dalam rahim.

2. Gerakan perlahan dan lembut

Saat membaringkan bayi:

  • Dekatkan tubuh bayi ke tubuh
  • Turunkan tubuh bayi secara perlahan
  • Letakkan tangan Anda di dada bayi selama beberapa detik sebelum melepaskannya
  • Cara ini mengurangi sensasi seperti jatuh.

3. White noise

Suara latar yang konstan dapat:

  • Menyamarkan suara-suara mendadak
  • Mencegah respons terkejut
  • Meningkatkan kesinambungan tidur secara keseluruhan
  • Pastikan volume bunyi berada pada tingkat yang kondusif dan tidak terlalu keras.

4. Lakukan tummy time di siang hari

Tummy time memperkuat otot dan membantu pematangan sistem saraf. Seiring dengan meningkatnya keahlian kontrol motorik, refleks moro bakal menghilang secara berjenjang dengan lebih lancar.

Tanda refleks moro pada bayi yang tidak normal

Tenaga medis, seperti master ahli anak, memeriksa refleks Moro untuk memastikan sistem saraf bayi berfaedah dengan baik. Mereka juga dapat menggunakan pemeriksaan ini untuk mendiagnosis alias menyingkirkan kemungkinan adanya masalah seperti cedera saat lahir, miopati kongenital, dan spasme infantil.

Tenaga medis bakal memperhatikan beberapa aspek utama saat memeriksa refleks ini:

  • Refleks yang lebih lemah bisa terjadi secara normal, misalnya pada bayi yang lahir prematur. Namun, perihal ini juga bisa menandakan adanya gangguan pada sistem saraf pusat bayi.
  • Refleks moro semestinya berkarakter simetris, artinya refleks ini terjadi secara seimbang pada kedua sisi (kiri dan kanan). Jika tidak simetris, perihal ini bisa mengindikasikan adanya cedera alias gangguan saraf.
  • Refleks ini biasanya lebih lemah pada bayi prematur namun bakal menguat seiring waktu. Namun, saat bayi mencapai usia 6 bulan, refleks ini semestinya sepenuhnya beranjak menjadi refleks strauss. Jika peralihan ini tidak terjadi, perihal tersebut bisa menjadi tanda adanya keterlambatan perkembangan alias masalah lainnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads