Risiko Terlambat Hadir Sholat Jumat: Dalil, Dampak Spiritual, dan Anjuran Bersegera

Intisari Islam oleh Waktu baca 3 menit 14814x dilihat
Risiko Terlambat Hadir Sholat Jumat: Dalil, Dampak Spiritual, dan Anjuran Bersegera

Bagikan Postingan

Imam Besar Masjid Nabawi, Syekh Ahmad bin Ali Al Hudhaify, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Dalam kunjungan ke Indonesia, Syekh Ahmad bin Ali Al Hudhaify memimpin salat dan menyampaikan khutbah di hadapan ribuan jamaah di Masjid Istiqlal. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Arab Saudi mempererat hubungan diplomatik dan keagamaan dengan negara-negara Islam, termasuk Indonesia. Sebelumnya, dalam rangka kunjungan tersebut, Syekh Ahmad bertemu sejumlah pejabat negara, ormas Islam, dan lembaga pendidikan Islam.

Syekh Muhammad Shiddiq Al Minsyawi dalam bukunya yang berjudul Rajin Shalat tapi Masih Keliru mencatat bahwa kebiasaan datang terlambat ke masjid pada hari Jumat menjadi fenomena sebagian orang. Banyak yang baru tiba saat imam sudah naik mimbar atau bahkan ketika iqamah dikumandangkan.

Padahal, bergegas ke masjid adalah kebiasaan salaf yang menempatkan diri lebih awal untuk meraih keutamaan dan pahala yang banyak.

« مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا »

"Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan (membersihkan badannya), dia bersegera dan berangkat lebih awal (ke masjid), melangkah kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah, dan tidak berbincang (bermain-main), maka setiap langkahnya bakal mendapatkan pahala seperti kebaikan setahun, baik puasa maupun sholatnya." (HR. Tirmidzi) 

Hadits lainnya:

مَنْ رَاحَ إِلَى الْجُمُعَةِ فِي السَّاعَةِ الْأُوْلَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدْنَةً وَمَنَ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمْنَ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا أَهْدَى دَجَاجَةً وَمَنْرَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا أَهْدَى بَيْضَةً فَإِذَا خَشَجَ الْإِمَامَ طُوِيَتِ الصُّحُفُ وَرُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَاجْئَمَعَبِ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ فَمَنْ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ فَإِنَّمَا جَاءَ لِحَقِّ الصَّلَابِ لَيْشَ لَهُ مِنَ الْفَضْلِ شَيْءٌ

“Siapa saja yang berangkat sholat Jumat pada jam pertama, seakan-akan berkurban dengan seekor unta. Siapa saja yang berangkat pada jam kedua, seakan-akan berkurban dengan seekor sapi. Siapa saja yang berangkat pada jam ketiga, seakan-akan berkurban dengan kambing bertanduk. Siapa saja yang berangkat pada jam keempat, seakan-akan menghadiahkan seekor ayam jantan. Siapa saja yang berangkat pada jam kelima, maka seakan-akan menghadiahkan sebutir telur. Setelah pemimpin keluar, maka catatan kebaikan sudah ditutup, qalam pencatat sudah diangkat, dan para malaikat berkumpul di mimbar untuk mendengarkan zikir. Siapa saja yang datang setelah itu, maka dia datang hanya untuk memenuhi kewenangan shalat dan tidak mendapatkan keistimewaan apa-apa, (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Mayoritas ulama menganjurkan bersegera menghadiri sholat Jumat pada awal siang; pendapat ini dikemukakan oleh Imam Syafi'i dan Ibnu Habib Al Maliki.

Terlambat datang

Ketidakseriusan bergegas ke masjid berpotensi membuat seseorang terlambat atau bahkan meninggalkan sholat Jumat. Dampak spiritualnya tidak ringan karena berkaitan dengan kewajiban berjamaah dan peringatan dalam hadits.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَابِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Hendaklah orang yang suka meninggalkan sholat Jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah bakal menutup hati-hati mereka, kemudian mereka betul-betul bakal tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَضَةً اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan sholat Jum’at sebanyak tiga kali lantaran lalai terhadap sholat tersebut, Allah bakal tutupi hatinya.” (HR Abu Daud)

Artikel Lainnya Intisari Islam
↑
Close Right Ads
Close Left Ads