Sejarah Bulan Safar Dan Mitos Kesialan Yang Dibantah Islam

Jul 17, 2026 01:19 PM - 15 jam yang lalu 747

Kincai Media ,JAKARTA -- Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam almanak Hijriyah yang sejak masa Arab Jahiliyah kerap dikaitkan dengan beragam mitos, termasuk dugaan sebagai bulan pembawa kesialan. Namun, kepercayaan tersebut diluruskan oleh Islam melalui sabda Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa sial. Lantas, gimana sejarah penamaan bulan Safar dan asal-usul mitos yang melekat padanya?

Bulan Safar mempunyai sejarah yang cukup unik lantaran dibumbui mitos dan takhayul. Pembahasan tentang sejarah Safar tidak lepas dari mitos yang berkembang pada periode masyarakat Arab sebelum datangnya Islam.

Berdasarkan penjelasan dari Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab, kata Safar mempunyai dua makna ialah bisa berfaedah kosong (Shafar) alias dapat juga berfaedah warna kuning (Shufrah). Adapun karena penamaan Safar berangkaian dengan kebiasaan masyarakat Arab era dulu yang meninggalkan rumah alias kediaman mereka (sehingga kosong) untuk bertempur alias berjalan jauh.

Pendapat tersebut diceritakan dalam al-Mufasshal fi Tarikhil Arab Qablal Islam bahwa orang-orang yang ditinggal berjalan ini mengeluh sembari berkata, “Shafira an-Nasu minna shafaran (Orang-orang mengosongkan kota meninggalkan kita karena kita miskin, kosong alias tidak mempunyai harta).”

Dalam sejarahnya, masyarakat Arab Jahiliyah menganggap Safar sebagai bulan kesialan. Hal tersebut tidak lepas dari kepercayaan mereka bahwa Safar adalah salah satu jenis penyakit yang bersarang di dalam perut.

Tak hanya sampai di situ, mengutip penjelasan dalam kitab Mengenal Nama Bulan dan Kalender Hijriah, masyarakat Arab Jahiliyah meyakini Safar sebagai bulan yang penuh keburukan. Sebagian masyarakat berpendapat, Safar adalah jenis angin panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit, demikian dikutip dari laman MUI Digital, Kamis (31/7).

Keyakinan terhadap hal-hal tersebut yang diyakini masyarakat Arab Jahiliyah dibantahkan ketika Islam datang.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergelandangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya." (HR Imam Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan lantaran takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Safar sebagai bulan haram alias keramat) dan tidak pula hammah (reinkarnasi alias ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan)."

Lalu seorang Arab Badui berkata, "Wahai Rasulullah, lampau gimana dengan unta yang ada di pasir, seakan-akan (bersih) ibaratkan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga dia menularinya?"

Maka Nabi Muhammad SAW bersabda, "Siapakah yang menulari yang pertama." (HR Imam Bukhari)

Setelah mengetahui sejarah Safar dan mitos yang ada di dalamnya, tentu umat Islam perlu menjadikan perihal ini sebagai pedoman. Sebab, tidak ada yang namanya bulan kesialan. Jangan sampai pemahaman mitos yang dibawa oleh segelintir orang dikonsumsi bulat-bulat tanpa adanya upaya memvalidasi mitos yang ada.

Semua waktu yang diciptakan Allah Ta’ala adalah kesempatan yang baik. Oleh karenanya, tidak ada waktu apes dan mitos ini telah dibantah dengan kehadiran Islam itu sendiri.

Selengkapnya