Serban Rasulullah Untuk Shafwan

Jan 14, 2026 12:54 PM - 4 bulan yang lalu 132432

Kincai Media , JAKARTA -- Dalam situasi Pembebasan Makkah (Fath Makkah) pada bulan suci Ramadhan tahun kedelapan Hijriyah, Nabi Muhammad SAW memimpin kaum Muslimin. Mereka berduyun-duyun bergerak dari Madinah menuju Makkah.

Kalau dulu umat Islam selalu dipersekusi pemuka musyrik Quraisy, sekarang keadaannya berbalik. Orang-orang musyrik itu sekarang tak berkutik. Para pemimpinnya dilanda kecemasan.

Nyatanya, Makkah dapat dibebaskan Rasulullah SAW dan umat Islam tanpa pertumpahan darah. Peristiwa Fath Makkah ini hanya menyebabkan kerusakan bagi benda-benda mati, ialah semua berhala yang selama ini disembah kaum musyrikin. Begitu pula dengan sistem Jahiliyah--itu tergantikan oleh hukum Islam.

Rasulullah SAW bukanlah pendendam. Beliau tidak pernah meletakkan dendam. Yang Nabi SAW lakukan adalah pemaafan dan memberikan rasa aman.

Umair bin Wahab merupakan salah satu dari sekian banyak sahabat Nabi SAW yang menyertai beliau. Pada hari itu, dia tetap terkenang bakal seseorang yang dulu merupakan kawan dekatnya di Makkah, ialah Shafwan bin Umayah.

Ketika kesempatan datang, Umair pun mencari-cari keberadaan laki-laki itu. Nanti saat ketemu, dia mau membujuk Shafwan agar mau masuk Islam.

Namun, Umair tidak menemukan laki-laki itu di rumahnya. Ternyata, mantan kawan dekatnya itu terlebih dulu pergi dengan membawa kekayaan bendanya. Dari keterangan para tetangga, diketahuilah bahwa Shafwan sedang menuju Jeddah, untuk kemudian berlayar menjauh dari Jazirah Arab.

Umair merasa sayang jika Shafwan melewatkan kesempatan besar, ialah memeluk Islam. Jangan sampai dia menemui ajal dalam keadaan musyrik. Maka sahabat Nabi ini pun bergegas menemui Rasulullah SAW.

"Wahai Rasululullah," katanya melapor, "seorang yang dulu sahabatku waktu di Makkah, Shafwan, termasuk pemuka di tengah kaumnya. Bila dia lari meninggalkan Makkah, mungkin lantaran takut kepada engkau. Padahal, dia belum mengetahui bahwa yang sebenarnya terjadi pada hari ini (Fath Makkah) adalah kerelaan (penaklukan tanpa pertumpahan darah --Red)."

"Bagaimana menurutmu, Umair?" tanya Nabi SAW kemudian.

"Kumohon kepada engkau, ya Rasulullah, berilah dia agunan keamanan," tutur Umair.

"Sungguh, dia termasuk yang diberi keamanan," kata Rasulullah, tegas.

"Kalau begitu, berilah kepadaku suatu tanda bukti agar bisa kutunjukkan kepadanya."

Nabi SAW kemudian melepas serban yang dipakainya sejak memasuki gerbang Kota Makkah. Benda itu lantas diberikannya kepada Umair. "Sampaikanlah itu kepada Shafwan, dan kabarkanlah kepadanya (bahwa dia diberi keamanan)," ucap Rasulullah SAW.

Dengan hati yang suka cita, Umair menerima serban Nabi SAW itu. Kemudian, dia pamit untuk menuju Jeddah.

Syukurlah, Umair sampai di kota pesisir itu tepat waktu. Saat menjumpai Shafwan, jejak kawannya itu tampak sedang bersiap-siap menaiki perahu.

"Jangan dekati aku, pergilah!" sergah Shafwan begitu memandang Umair.

Selengkapnya