Situs Bongal Bikin Rontok Teori Orientalis Belanda, Islam Masuk Nusantara Dari Arab Bukan India

Aug 18, 2026 07:16 PM - 23 jam yang lalu 440

Kincai Media,  Temuan sejumlah artefak mata duit antik beraksara Arab dan Persia dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, berpotensi menulis ulang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Karena untuk pertama kalinya, ada bukti artefaktual yang mengindikasikan hubungan langsung antara jazirah Arab dengan Nusantara di sekitar abad ke-7 masehi.

Artefak ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh para arkeolog dan sejarawan yang meneliti perkembangan Islam di Indonesia. Karena sampai saat ini, merujuk pada bukti arkeologis yang ada, ialah nisan antik di Pasai, Aceh, dan di Gresik, maka indikasi Islam sudah ada di Nusantara menjadi jauh lebih muda, ialah di abad ke-12 dan ke-13.

Yang lebih mendalam lagi, para peneliti asing di abad ke 19 dan abad ke-20, dari temuan arkeologis yang terbatas itu, mematok bahwa Islam datang di Nusantara tidak dari sumbernya langsung, Arab Saudi, tapi pantai barat India maupun pantai timur India. Ini bagi sebagian ustadz Indonesia, dianggap 'merendahkan', merujuk apa yang Buya Hamka sampaikan di satu seminar.

Genealogi teori masuknya Islam ke Indonesia via jalur India dibahas secara mendalam oleh GWJ Drewes dalam makalahnya 'New Light on the Coming of Islam to Indonesia?' dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 124 (1968), No. 4, Leiden, hlm. 433–459. Naskah ini merupakan terjemahan makalah yang dibacakan Drewes pada pertemuan Oosters Genootschap di Leiden, 27 Maret 1968.

Drewes menggarisbawahi, sebelum berbincang soal teori, ada baiknya menyadari satu perihal sederhana yang jarang disebut: Sejarawan Asia Tenggara bekerja nyaris tanpa temuan fisik.

Drewes mengutip Paul Wheatley, yang dalam bukunya tentang Semenanjung Melayu menyesalkan daya rusak suasana tropis — curah hujan, serangga, jamur, dan laju pengendapan aluvial yang begitu cepat. Gabungan semuanya melenyapkan jejak kegiatan manusia begitu manusia pergi. Karena itu Wheatley terpaksa menyusun bukunya dari sumber tertulis: Yunani, India, Arab-Persia, dan Cina.

Kondisi yang sama menghantui kajian Islamisasi. "Persediaan informasi aktual kita mengenai periode paling awal Islam di Hindia Timur banget miskin," tulis Snouck Hurgronje membuka bagian pidato pengukuhannya di Leiden, 23 Januari 1907. Enam dasawarsa kemudian Drewes mengakui informasi baru memang bertambah, tetapi kelangkaannya belum teratasi.

Yang tersisa adalah benda-benda yang tidak mudah lapuk — terutama batu nisan. Menurut Drewes, nisan memberi keterangan yang terbatas tetapi dapat dipercaya, dan lebih dapat dipercaya daripada historiografi lokal, di mana ingatan tentang kehadiran Islam telah dikaburkan legenda sedemikian rupa sehingga sifatnya lebih membangun jiwa daripada merekam peristiwa.

Namun nisan pun bukan jaminan. Drewes menunjuk laporan Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17–20 Maret 1963, sebagai contoh sungguh rapuhnya "data baru" jika tidak ditangani secara kritis. Pada satu nisan di Pase, Cowan sudah membaca nomor tahun 823 H (1420 M) pada 1940, sementara H M Zainuddin membacanya 622 H (1225 M). Pada nisan Putri Siti Hawa di Kuala Daya, Ismail Jakub membaca 11 Muharam 460 H (1067 M), Veltman membaca 11 Muharam 962 H (1554 M). Selisihnya berabad-abad, dan reproduksi inskripsinya tidak disertakan.

Selengkapnya