Kincai Media , JAKARTA -- Secara kebahasaan, takhayul berfaedah sesuatu yang hanya ada dalam angan belaka. Artian lainnya adalah kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada alias sakti, tetapi sebenarnya tidak ada alias tidak sakti.
Kata itu diserap dari bahasa Arab. Menurut kamus Mu’jam al-Wasith, seperti dilansir dari laman resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, takhayyul berarti 'membayangkan.'
Istilah itu sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sombong dan kagum pada dirinya sendiri. Pelakunya disebut mukhtal alias dzul khuyala. Sebab, dibayangkannya bahwa mereka dahsyat dan tak tertandingi.
Semua dusta, berasal dari khayalan manusia, tanpa bukti nyata. Kata-katanya tidak sesuai kenyataan. Demikian pula, dia tidak didukung dalil apa pun.
Ketika takhayul atau khayalan ini diyakini sebagai kebenaran, maka statusnya berubah menjadi khurafat.
Khurafat berfaedah cerita-cerita memesonakan yang di dalamnya perkara-perkara dusta, rekaan, dan kepercayaan yang menyimpang dari aliran Islam bercampur baur. Mereka yang tidak hati-hati condong mudah menerimanya sebagai kebenaran.
Budaya khurafat berasal dari masyarakat Jahiliyah. Istilahnya adalah tathayyur. Ini diambil dari attahyru, yang berfaedah 'burung.'
Dahulu, orang-orang Arab Jahiliyah sering menganggap burung tertentu sebagai pembawa sial. Bila sedang melangkah dan berhadapan dengan burung itu, orang langsung percaya bahwa dirinya bakal bernasib buruk. Bila burung itu hinggap di sebuah rumah, maka dipercayai bahwa penunggu rumah itu dalam waktu dekat bakal meninggal dunia.
Di antara bentuk-bentuk khurafat adalah meyakini bahwa nama seorang anak menyebabkannya mudah sakit alias bernasib malang. Kemudian, orang tua si anak--dengan kepercayaan tersebut--memutuskan untuk mengganti nama buah hatinya, agar tidak "keberatan nama."
Khurafat juga bisa berupa pemujaan alias upaya memohon kepada makhluk halus, semisal jin. Contoh lainnya, seseorang meyakini bahwa benda-benda, seperti tongkat, keris, alias batu akik, mempunyai kekuatan gaib yang bisa diandalkan untuk kemudahan hidupnya.
Takhayul, khurafat, maupun tathayyur mesti dijauhi umat Islam. Sebab, kaum Muslimin dikhawatirkan bakal terjerumus ke dalam perbuatan syirik dan merusak akidah. Ketahuilah, syirik adalah dosa terbesar.
Dalam perihal ini, para ustadz alias dai dapat menyampaikan dakwah untuk meluruskan pemahaman sebagian masyarakat yang doyan takhayul, khurafat, alias tathayur. Pendekatan yang bijak sangat diperlukan.
Dakwah kudu dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan debat yang dilakukan dengan langkah yang baik (mujadalah bil ma’ruf). Dengan demikian, umat Islam diharapkan dapat memahami dan menghindari takhayul, khurafat, dan tathayur, serta memperkuat iktikad mereka sesuai aliran Islam yang benar.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·