Kincai Media , JAKARTA -- Kitab Ar-Risalah merupakan salah satu magnum opus Syekh Abul Qasim Abdul Karim Hawazin bin Muhammad al-Qusyairi an-Naisaburi. Kitab yang ditulis sufi dari abad ke-11 M, ini mencoba mendudukkan tasawuf pada relnya.
Dalam kalam pembuka, Imam al-Qusyairi, begitu tersohor dikenal, menulis tentang kaum sufi, Allah betul-betul telah menjadikan kaum ini sebagai golongan para waliyullah (para wali) terpilih, mengutamakan mereka atas semua hamba-Nya setelah para rasul dan nabi- Nya.
Allah SWT menjernihkan mereka dari segala kotoran sifat manusia; melembutkan hati dan rohani mereka pada pencapaian tempat-tempat musyahadat (persaksian rohani pada kebesaran dan rahasia kegaiban Allah SWT).
Ia meneruskan, “Ketahuilah, sesungguhnya mahir prinsip sebagian besar telah punah; tidak ada yang tersisa pada masa kita dari golongan ini selain hanya bekas-bekasnya. Sungguh, kelemahan telah terjadi di golongan ini, apalagi mereka terkikis dari peran kehidupan.”
Al-Qusyairi juga mengkritik sikap yang memandang diri dan golongan berdiri di atas kebenaran. Dengan sikap itu, lahirlah keakuan yang berupaya menyingkirkan siapa pun yang dianggap berseberangan pandangan.
“Kebencian yang didasarkan emosi iri menyebabkan mereka menyebut para pengikut thariqah dengan julukan yang jelek,” tulisnya.
Pada bagian itu, dia mengungkapkan motivasinya dalam menulis Ar-Risalah. Menurut sang imam, banyak pihak yang sesungguhnya belum mengetahui disiplin tasawuf, tetapi mereka dengan lantang mengecam kaum sufi.
Sebab, orang-orang itu justru kurang memahami prinsip dan prinsip-prinsip tarekat. Terutama sekali, kalangan fuqaha yang giat mencari-cari kesalahan pelaku tasawuf akibat dari pemahaman mereka yang tidak mendalam.
Ar-Risalah menyatakan, tasawuf adalah kegiatan roh, asah rasa dan olah perilaku yang dilakukan lantaran dorongan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam surat al-A'la ayat 4-5 disebutkan:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia ingat nama Tuhannya, lampau dia menegakkan sholat.”
Al-Qusyairi menegaskan, para mursyid alias pembimbing kaum sufi telah membangun kaidah-kaidah aliran dengan berdasar pada prinsip tauhid. Mereka menjaganya dari bid'ah. Karena itu, pandangannya dekat dengan para ustadz terdahulu (salaf ash-shalih) serta mahir sunah Rasul SAW.
“Tidak didapati (dalam aliran mereka) unsur-unsur penyerupaan pada al-Haqq (panteisme) dan peniadaan (ateisme),” tulis sang cendekiawan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·