Tawakal Yang Sebenarnya

Jan 19, 2026 05:15 AM - 3 bulan yang lalu 115229

Kincai Media , JAKARTA -- Tawakal berfaedah menyerahkan diri dan urusan kepada Allah SWT, tidak berjuntai kepada makhluk alias barang lain. Dengan kata lain, manusia hanya dapat berusaha, sedangkan yang menentukan sukses alias tidaknya sesuatu adalah Allah. Karena itu, manusia kudu bertawakal diri dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Namun, tawakal kepada Allah tidak berfaedah penyerahan diri secara pasif. Tawakal kudu disertai dengan usaha. Hal ini sangat tampak pada sikap Nabi SAW ketika memarahi seseorang lantaran hanya mengandalkan "tawakal" pada Allah tanpa mau berusaha.

Menurut cerita seorang sahabat Nabi SAW, Anas bin Malik, pada suatu hari ada seorang laki-laki berakhir di depan masjid untuk mendatangi rumah beliau. Unta tunggangannya dilepas begitu saja tanpa ditambat. Rasulullah SAW bertanya, "Mengapa unta itu tidak diikat?''

Lelaki itu menjawab, "Saya lepaskan unta itu lantaran saya percaya pada perlindungan Allah SWT."

Maka Rasulullah menegurnya secara bijaksana, "Ikatlah unta itu, sesudah itu barulah Anda bertawakal."

Lelaki itu pun lampau menambatkan unta itu di sebuah pohon kurma. Suatu penjelasan yang gamblang mengenai tawakal telah diberikan Rasulullah lewat peristiwa itu. Bahwa sesudah manusia berusaha, lampau menyerahkan hasilnya pada ketentuan Allah, itulah tawakal menurut aliran Islam.

Kalau, misalnya -- seperti dalam kasus di atas -- unta itu sudah diikat, dan rupanya tetap lenyap juga, itulah yang dinamakan takdir. Terhadap keputusan takdir, tidak satu pun dapat kita lakukan, selain menerimanya dengan tulus ikhlas, sembari berharap, semoga di kembali takdir itu ada faedah yang lebih besar buat kita.

Allah SWT berfirman, yang artinya, "Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia bakal menjadikan untuknya jalan keluar (dari kesulitan), dan bakal memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan peralatan siapa yang bertawakal kepada Allah, Maka Allah bakal mencukupkan (keperluannya)" (QS ath-Thalaq: 2-3).

Dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal mini juga menjadi perhatian Rasulullah SAW. Sebagai misal, dalam mendirikan rumah, agar dilengkapi dengan jendela dan pintu, tidak membiarkan ruangan rumah bebas terbuka. Semua itu, meski mungkin tampak remeh, memberi isyarat tentang makna tawakal.

Sengaja membiarkan pintu rumah terbuka tanpa dikunci sampai lewat larut malam, sementara seisi rumah tertidur lelap, adalah tanda kegoblokan dan kenekatan, bukan tawakal.

Dalam memimpin beragam pertempuran, Nabi SAW tidak pernah bugil dada alias membiarkan tubuhnya tanpa terlindung. Beliau tetap memegang perisai dan mempunyai skill dalam menggunakan pedang. Bila suasana keamanan sedang gawat, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, "Siapa yang bakal mengawalku malam ini?"

Sehubungan dengan sabda di atas, seorang sufi, Imam Sahal, berkata, "Barang siapa yang menentang ikhtiar (usaha), berfaedah menentang Sunnah. Dan peralatan siapa menentang tawakal, berfaedah mencela iman."

Selengkapnya