Tradisi Makanan Ibu Hamil di China: Mitos & Pantangan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 3 menit 8365x dilihat
Tradisi Makanan Ibu Hamil di China: Mitos & Pantangan

Bagikan Postingan

Kalau mendengar cerita dari orang tua atau nenek, mungkin Bunda pernah menemukan berbagai larangan makanan selama kehamilan.

Seperti halnya di Indonesia yang punya mitos tersendiri, China juga memiliki beragam kebiasaan makanan bagi ibu hamil yang diturunkan selama ratusan tahun dan masih dipercaya oleh sebagian keluarga hingga kini.

Dalam budaya China, masa kehamilan dipandang sangat penting sehingga pilihan makanan dianggap bisa memengaruhi kesehatan ibu dan janin. Sebagian tradisi ini berakar pada filosofi pengobatan tradisional China atau Traditional Chinese Medicine (TCM), yang membagi bahan makanan berdasarkan sifat "panas" dan "dingin".


Beragam tradisi & mitos makanan ibu hamil di China

Banyak kebiasaan yang terdengar unik, namun tetap dipraktikkan karena keyakinan budaya dan pengalaman turun-temurun.

1. Makanan 'panas' dan 'dingin' harus seimbang

Dalam kerangka TCM, tubuh perlu menjaga keseimbangan yin (dingin) dan yang (panas). Karenanya, ibu hamil kerap dianjurkan mengonsumsi lebih banyak bahan yang dianggap menghangatkan tubuh.

Contohnya:

  • Makanan panas: jahe, daging kambing, kurma merah.
  • Makanan dingin: semangka, pir, mentimun, dan kepiting.

Sebuah penelitian yang mengamati praktik kehamilan tradisional di Makau menemukan bahwa banyak ibu hamil menghindari makanan bersifat "dingin" seperti semangka, kacang hijau, dan pisang karena diyakini dapat mengganggu kehamilan; teori yin dan yang tetap memengaruhi pilihan makanan selama masa tersebut.

2. Kepiting sering dianggap pantangan

Salah satu mitos paling dikenal adalah larangan makan kepiting. Dalam tradisi tertentu, kepiting dianggap terlalu "dingin" sehingga dikhawatirkan menimbulkan masalah pada kandungan.

Dari sisi medis, kepiting aman dikonsumsi bila dimasak hingga matang dan tidak memicu alergi. Namun karena faktor budaya dan kepercayaan turun-temurun, banyak keluarga tetap menyarankan ibu hamil untuk menjauhinya.

3. Kurma merah dipercaya memperkuat ibu dan bayi

Kurma merah alias jujube adalah bahan yang sering direkomendasikan dalam makanan tradisional untuk ibu hamil.

Biasanya kurma merah diolah menjadi:

  • Sup herbal,
  • Teh hangat,
  • Bubur alias campuran nasi.

Dalam kepercayaan tradisional, kurma merah dipercaya membantu menambah tenaga dan "membentuk darah". Secara nutrisi, kurma mengandung zat besi dan beberapa nutrisi lainnya, namun manfaatnya sebaiknya dilihat sebagai bagian dari pola makan seimbang.

4. Telur agar bayi berkulit cerah

Ada juga mitos yang mengatakan konsumsi banyak putih telur bisa membuat kulit bayi lebih cerah. Bukti ilmiah tidak mendukung klaim ini; warna kulit bayi lebih dipengaruhi faktor genetik. Meski begitu, telur tetap sumber protein berkualitas yang bermanfaat selama kehamilan.

Catatan tentang "makanan yang harus dihindari saat hamil" sebenarnya sudah tercantum dalam naskah medis dan kuliner China kuno berjudul Yinshan Zhengyao yang ditulis sekitar tahun 1330, yang memuat berbagai rekomendasi dan larangan untuk wanita hamil.

Bunda boleh mengikuti tradisi, asal tetap bijak

Tradisi makanan ibu hamil di China merefleksikan perhatian kuat keluarga terhadap keselamatan ibu dan janin. Beberapa kebiasaan, seperti minum sup bergizi atau mengonsumsi kurma merah secara wajar, bisa menjadi bagian dari pola makan sehat.

Untuk larangan yang bersifat mitos, Bunda tidak perlu terlalu khawatir selama makanan tersebut aman, dimasak dengan benar, dan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Konsultasikan selalu dengan dokter atau ahli gizi jika ragu mengenai pantangan tertentu.

Jadi, jika suatu hari ada yang melarang Bunda makan kepiting karena "takut bayinya kenapa-kenapa", kini Bunda dapat memahami bahwa larangan itu lebih banyak berakar pada tradisi budaya kuno daripada bukti medis modern.

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads