Jakarta -
Menjalani kehamilan tidak selalu terasa mudah. Selain perubahan fisik, Bunda juga bisa menghadapi beragam tekanan, mulai dari masalah pekerjaan, kondisi finansial, bentrok keluarga, hingga kekhawatiran mengenai persalinan.
Stres sesekali saat mengandung sebenarnya merupakan perihal yang umum. Namun, stres psikologis yang berat alias berjalan dalam waktu lama perlu mendapat perhatian lantaran sejumlah penelitian menemukan adanya kaitan antara stres selama kehamilan dan perkembangan emosi serta perilaku anak di kemudian hari.
Salah satunya berangkaian dengan keahlian anak dalam mengatur emosi, beradaptasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Stres saat mengandung bisa pengaruhi perkembangan sosial-emosional anak
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi psikologis Bunda selama kehamilan dapat berasosiasi dengan perkembangan anak. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menganalisis 71 penelitian dan menemukan adanya hubungan antara depresi maupun kekhawatiran selama kehamilan dengan masalah perkembangan sosial-emosional anak.
Dalam penelitian tersebut, anak yang terpapar depresi maternal selama kehamilan mempunyai akibat masalah sosial-emosional yang lebih tinggi. Namun, krusial dicatat bahwa penelitian ini menunjukkan hubungan (asosiasi), bukan berfaedah stres selama mengandung secara langsung menyebabkan seorang anak pasti mengalami kesulitan bersosialisasi.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Developmental Psychobiology juga menemukan bahwa stres maternal selama kehamilan, terutama yang berangkaian dengan peristiwa traumatis, berasosiasi dengan perubahan temperamen anak, seperti meningkatnya respons emosi negatif dan keahlian izin diri yang lebih rendah. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap gimana anak mengelola emosi dan merespons lingkungan sosial.
Mengapa stres Bunda bisa berpengaruh pada janin?
Para peneliti tetap terus mempelajari sistem pastinya. Salah satu dugaan berangkaian dengan sistem respons stres tubuh alias hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis.
Ketika seseorang mengalami stres, tubuh bakal meningkatkan produksi hormon seperti kortisol. Selama kehamilan, perubahan pada sistem stres maternal dapat memengaruhi lingkungan biologis yang dialami janin.
Sebuah tinjauan sistematis pada 2024 yang menganalisis 71 penelitian menggunakan pencitraan otak menemukan adanya kaitan antara distress maternal selama kehamilan dengan perubahan struktur dan kegunaan beberapa bagian otak janin alias bayi, termasuk sistem limbik, korteks prefrontal, dan insula. Bagian-bagian tersebut mempunyai peran dalam izin emosi dan respons terhadap stres.
Meski begitu, sistem hubungan tersebut belum sepenuhnya dipahami dan tetap memerlukan penelitian lebih lanjut.
Anak bisa lebih susah mengatur emosi
Salah satu perihal yang cukup konsisten ditemukan dalam penelitian adalah kaitan antara stres prenatal dan keahlian izin emosi anak.
Tinjauan sistematis terhadap 32 penelitian menemukan bahwa sebagian besar penelitian yang dianalisis menunjukkan hubungan antara stres alias kekhawatiran selama kehamilan dengan reaktivitas negatif dan keahlian izin diri anak pada dua tahun pertama kehidupan. Efek yang ditemukan umumnya berada pada tingkat rendah hingga sedang.
Kemampuan mengatur emosi merupakan salah satu dasar krusial dalam hubungan sosial. Anak yang lebih mudah frustrasi, susah menenangkan diri, alias mempunyai respons emosi yang lebih kuat mungkin memerlukan support lebih ketika belajar berinteraksi dengan orang lain.
Bukan berfaedah anak pasti susah bersosialisasi
Bunda tidak perlu langsung merasa bersalah alias takut jika pernah mengalami stres selama kehamilan.
Penelitian mengenai stres prenatal umumnya menemukan hubungan statistik, bukan kepastian bahwa setiap anak yang ibunya mengalami stres saat mengandung bakal mempunyai masalah sosial alias perilaku.
Perkembangan anak dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, lingkungan setelah lahir, pola pengasuhan, kondisi keluarga, pengalaman sosial, kualitas tidur, kesehatan, hingga hubungan anak dengan orang-orang di sekitarnya.
Tinjauan sistematis terbaru yang diterbitkan di BMJ Open dan mencakup 44 penelitian juga menemukan bahwa distress psikologis selama kehamilan berangkaian dengan perbedaan mini pada perkembangan kognitif, bahasa, perilaku, dan sosial-emosional anak. Para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian mempunyai ragam dan hubungan yang ditemukan tidak berfaedah stres prenatal menjadi satu-satunya penyebab masalah perkembangan.
Bagaimana Bunda bisa mengelola stres saat hamil?
Bunda tidak kudu menjalani kehamilan tanpa stres sama sekali. Yang lebih krusial adalah mengenali ketika tekanan mulai terasa berat alias mengganggu kegiatan sehari-hari.
Bunda bisa mencoba bercerita kepada pasangan alias orang yang dipercaya, melakukan kegiatan ringan yang menyenangkan, menjaga waktu tidur dan makan, melakukan relaksasi alias latihan pernapasan, serta tetap melakukan kegiatan bentuk yang kondusif sesuai kondisi kehamilan.
Jika rasa cemas, sedih, tertekan, alias kewalahan berjalan terus-menerus dan mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, jangan ragu berkonsultasi dengan master kandungan, psikolog, alias tenaga kesehatan mental.
Mencari support bukan berfaedah Bunda lemah. Justru, menjaga kesehatan mental selama kehamilan merupakan bagian dari menjaga kesehatan Bunda sekaligus mendukung tumbuh kembang Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)