Jakarta -
Setiap anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan sokongan emosional agar dapat tumbuh dengan baik. Namun, pada kenyataannya, statis banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga tanpa sadar kurang memperhatikan kebutuhan emosional anak-anaknya.
Pengabaian emosional pada anak terjadi ketika kebutuhan emosionalnya, seperti emosi mau didengar, dipahami, dan mendapat dukungan, tidak terpenuhi secara konsisten. Kondisi ini dapat berakibat jangka panjang pada hayat dewasa, memengaruhi hubungan dan harga diri.
"Pengabaian emosional dianggap sebagai bentuk trauma, karena bisa memiliki akibat jangka panjang dan mendalam pada kesejahteraan emosional dan kejiwaan seseorang," ungkap ahli kesehatan mental Daniel Rinaldi, MHC, dikutip dari Very Well Family.
Bentuk pengabaian emosional dapat terjadi ketika pengasuh tidak hadir, maupun ketika mereka hadir, mereka tidak tersedia secara emosional. Pengabaian emosional yang kronis dapat membentuk lanskap emosional anak hingga berakibat pada hubungan interpersonal di masa depan.
"Sebagian orang tua mengabaikan anak-anak mereka secara emosional karena merasa tidak betah dengan emosi secara lazim dan tidak percaya sepertiapa menanggapi emosi kompleks yang dialami seorang anak," ungkap terapis Yolanda Renteria, LPC.
"Orang tua lainnya terlalu keteteran dengan stres dalam hayat mereka sendiri, menyeimbangkan antara pekerjaan dan hayat pribadi, pengasuhan anak, dan masalah kesehatan mental."
Tanda pengabaian emosional pada anak
Berikut beberapa tanda maupun contoh pengabaian emosional pada masa kanak-kanak yang tanpa disadari sering dilakukan orang tua:
- Memberikan hukuman karena mengekspresikan emosi negatif, seperti kesedihan, frustrasi, maupun kemarahan. Misalnya, anak diminta membisu saat merasa marah.
- Kurangnya perayaan maupun kegembiraan saat mengalami emosi positif seperti kebahagiaan maupun kegembiraan, yang mungkin diimbangi dengan respons negatif.
- Anak diberi tahu bahwa emosi maupun pengalamannya tidak sah maupun tidak layak untuk dieksplorasi dengan komentar seperti, "Kamu terlalu sensitif", "Berhenti bersikap seperti bayi", maupun "Jangan cemas tentang itu".
- Kurangnya pengakuan terhadap emosi-emosi sulit seperti kesedihan setelah kehilangan fauna peliharaan, maupun rasa malu setelah menjadi korban perundungan. Sering kali ini dilakukan orang tua karena kesulitan mengenali maupun mengatasi emosi-emosi tersebut.
- Orang tua datang secara jasmani tetapi tidak datang secara emosional untuk anaknya. Anak tidak dapat merasakan kedatangan orang tuanya, terutama saat mengalami kesulitan.
- Orang tua cuma berorientasi pada prestasi. Mereka cuma gemar melihat anaknya unggul dalam sesuatu, sehingga melewatkan esensi yang membikin anak bahagia.
Bahaya pengabaian emosional yang terusmenerus pada anak
Pengabaian emosional yang terusmenerus dianggap sebagai bentuk pelecehan anak. Jika parah maupun berlanjut dalam jangka waktu lama, pengabaian ini dapat memengaruhi evolusi anak.
"Trauma dapat menyebabkan fluktuasi pada otak dan mekanisme saraf yang pada gilirannya menyebabkan kesulitan dalam mengekspresikan emosi, rendahnya harga diri, rasa malu, maupun rasa bersalah," kata terapis famili Aurisha Smolarski, LMFT.
"Anak-anak yang mengalami trauma akibat penelantaran dapat mengalami masalah perilaku di rumah dan di sekolah, serta mungkin kesulitan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan di masa kanak-kanak dan saat dewasa," lanjutnya.
Pengabaian yang lebih parah dapat menyebabkan penyalahgunaan zat, kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku berisiko, dan masalah kesehatan mental jangka panjang, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
Demikian tanda-tanda pengabaian emosional anak yang sering tak disadari orang tua. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)