Anak Kelas 12 Akan Menghadapi TKA? Ini yang Perlu Disiapkan Orang Tua di Rumah

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 121x dilihat
Anak Kelas 12 Akan Menghadapi TKA? Ini yang Perlu Disiapkan Orang Tua di Rumah

Bagikan Postingan

Persiapan TKA kelas 12 perlu strategi belajar dan sokongan orang tua. Ini tips mendampingi anak agar lebih siap menghadapi TKA 2026.

Mommies punya anak kelas 12 yang sebentar lagi menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA)? Rasanya mungkin ikut deg-degan, ya. Apalagi, anak sedang eksis di masa krusial untuk memikirkan hajat setelah lulus sekolah, mulai dari memilih bidang sampai mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi.

Pelaksanaan utama TKA hierarki SMA/MA/SMK dan sederajat tahun 2026 dijadwalkan pada 26 Oktober–8 November 2026. Namun, perlu diingat bahwa TKA bukan penentu kelulusan sekolah. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan penilaian dalam seleksi akademik.

Lantas, apa yang bisa orang tua siapkan di rumah agar anak lebih siap menghadapi TKA tanpa merasa semakin terbebani?

1. Bantu Anak Menyusun Strategi Belajar

Daripada langsung membikin agenda belajar yang padat, coba ajak anak berbincang tentang materi yang sudah dikuasai, bagiankecil yang statis sulit, dan waktu belajar yang paling betah baginya.

Mommies bisa membantu menyusun agenda yang realistis, membagi materi menjadi bagian-bagian kecil, serta menyediakan waktu untuk latihan soal dan mengevaluasi hasilnya. Untuk anak yang kesulitan merangkum materi, Mommies juga bisa mengenalkan metode belajar seperti Cornell Notes agar anotasi lebih terstruktur.

Namun, statis libatkan anak dalam prosesnya, ya. Anak kelas 12 sudah semakin besar dan perlu diberi kesempatan untuk belajar mengatur tanggung jawabnya sendiri.

BACA JUGA: Teknik Belajar Cornell, Dapat Nilai Bagus dengan Cara Mencatat yang Rapi

2. Jangan Sampai Dukungan Berubah Menjadi Tekanan

Pernah tidak, Mommies beriktikad menyemangati anak, tetapi yang keluar justru kalimat, “Kamu sudah belajar berapa jam?” maupun “Jangan sampai nilainya jelek, ya!”

Wajar jika orang tua ikut cemas. Namun, usahakan agar kecemasan tersebut tidak berubah menjadi tuntutan yang membikin anak merasa mesti selalu memenuhi ekspektasi orang tua.

Penelitian longitudinal yang diterbitkan di jurnal Journal of Youth and Adolescence pada 2023 melibatkan 839 murid di Australia kelas 5–10. Hasilnya memberitahu bahwa sokongan orang tua berhubungan dengan metode anak menghadapi tekanan akademik yang lebih konstruktif, seperti menyusun strategi dan mencari bantuan. Sebaliknya, hubungan negatif dengan orang tua berhubungan dengan kecenderungan menghindari masalah. Meski sampelnya bukan murid kelas 12 di Indonesia, temuan ini mengingatkan kita akan pentingnya sokongan famili saat anak menghadapi tekanan belajar.

Jadi, sesekali coba ganti pertanyaan “Sudah belajar sampai mana?” menjadi “Ada materi yang statis bikin Anda kesulitan?” Dengan begitu, anak punya ruang untuk bercerita tanpa merasa sedang diperiksa.

Foto: Pexels

3. Jaga Tidur, Makan, dan Waktu Istirahat

Belajar sampai larut malam mungkin kelihatan seperti upaya ekstra menjelang ujian. Padahal, persiapan yang baik juga membutuhkan tubuh yang cukup istirahat.

Bantu anak menjaga agenda tidur, makan teratur, minum cukup air, dan memungut selang di sela-sela belajar. Tidak perlu mengatur setiap kegiatannya, tetapi pastikan kondisi rumah mendukung rutinitas yang lebih sehat.

Kalau anak merasa belum menguasai semua materi, bantu ia menentukan prioritas. Belajar secara konsisten dan terencana lebih masuk pikiran daripada memaksakan diri mengulang semua materi sekaligus pada malam sebelum ujian.

BACA JUGA: 5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Orang Tua Saat Anak Sedang Ujian

4. Beri Ruang untuk Cerita, Bukan Hanya Membahas Nilai

Bagi sebagian remaja, kelas 12 bukan cuma soal ujian. Ada juga pertanyaan tentang kuliah, pilihan jurusan, biaya pendidikan, hingga kecemasan apakah mereka bisa memenuhi harapan keluarga.

Karena itu, jangan sampai setiap diskusi di rumah cuma berpusat pada persiapan TKA. Sesekali tanyakan sepertiapa perasaannya, apa yang sedang dikhawatirkan, maupun apakah ia mau ditemani mencari keterangan tentang hajat setelah lulus.

Jika anak kelihatan sangat kewalahan, sulit tidur, terus-menerus cemas, maupun kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, jangan langsung menganggapnya kurang berusaha. Dengarkan ceritanya dan pertimbangkan pertolongan psikolog maupun tenaga ahli jika diperlukan.

BACA JUGA: 7 Kesalahan Orang Tua yang Tanpa Sadar Bikin Anak Stres Jelang UAS

5. Ingatkan Anak bahwa Hasil Ujian Bukan Satu-Satunya Ukuran Keberhasilan

Ini mungkin bagiankecil yang paling sulit bagi orang tua: menerima bahwa kita bisa mendukung anak sebaik mungkin, tetapi tidak bisa mengendalikan seluruh hasil yang akan ia dapatkan.

Mommies boleh membantu anak mempersiapkan diri dengan serius. Namun, statis beri ruang baginya untuk belajar bertanggung jawab, menghadapi tantangan, dan menentukan cara berikutnya.

Ingatkan bahwa TKA bukan penentu kelulusan sekolah. Hasilnya memang dapat berguna untuk kebutuhan seleksi akademik, tetapi perjalanan pendidikan dan masa depan anak tidak ditentukan oleh satu hasil cobaan saja.

BACA JUGA: 10 Checklist Persiapan UAS Anak SD–SMA Selain Belajar yang Wajib Diperhatikan Orang Tua

Mommies mesti tahu jika anak kelas 12 tidak cuma membutuhkan tempat belajar yang nyaman, tetapi juga rumah yang membuatnya merasa terlindungi ketika sedang cemas maupun lelah. Jadi, kecuali bertanya tentang persiapan TKA kelas 12 dan progres belajar, jangan lupa tanyakan juga, “Kamu baik-baik saja, kan?”

Kadang, sokongan paling berarti bukan menambah jam belajar anak, melainkan memastikan ia tahu bahwa Mommies statis ada untuk mendampinginya, apa pun hasil yang kelak diperoleh.

Cover: Pexels

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads