Alasan Imam Al-Ghazali Sebut Ilmu Lebih Utama daripada Ibadah Tanpa Ilmu

Intisari Islam oleh Waktu baca 3 menit 45x dilihat
Alasan Imam Al-Ghazali Sebut Ilmu Lebih Utama daripada Ibadah Tanpa Ilmu

Bagikan Postingan

Ilmu dan amalan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam hayat seorang Muslim. Imam Al-Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin mengibaratkan ilmu sebagai batang pohon, sedangkan amalan adalah buahnya. Keduanya mesti dimiliki seorang hamba agar kehidupannya bermutu dan ibadahnya berjalan sesuai tuntunan syariat.

Dalam Kitab Minhajul Abidin dijelaskan benar-benar pentingnya ilmu, terlebihlagi ilmu lebih mulia dari sekedar amalan tanpa ilmu. Menurut pandangannya, ilmu ibarat batang pohon, amalan ibarat buahnya.

Ilmu lebih mulia dari sekadar amalan tanpa ilmu. Akan tetapi, di samping mempelajari dan mengetahui ilmu, seorang hamba wajib berbuat ibadah. Karena ilmunya tidak akan ada artinya jika tidak diikuti dengan pelaksanaan ibadah.

Ilmu ibarat batang sebuah pohon, sedangkan amalan ibarat buah dari pohon tersebut. Sebuah pohon tanpa buah tidak bermanfaat. Kemuliaan itu memang milik pohonnya, karena pohon yang menjadi asal dari buah. Akan tetapi kita mendapat khasiat dari pohon itu dengan merasakan buahnya. Maka seorang hamba mesti memiliki keduanya, yaitu dan ibadah.

Imam Hasan al-Bashri pernah mengatakan, "Tuntutlah ilmu tanpa melalaikan ibadah, dan taatlah beribadah tanpa lupa menuntut ilmu."

Jadi jelas bahwa seorang hamba mesti memiliki ilmu dan patuh beribadah. Namun, ilmu lebih utama, karena ilmu itu merupakan asal dari sebuah perbuatan dan menjadi instruksi bagi sang ahli ibadah.

Rasulullah SAW bersabda, "Ilmu itu imam bagi amal, dan kebaikan adalah pengikutnya."

Ada dua karena kenapa ilmu mesti didahulukan daripada ibadah. Pertama, agar amalan dapat dipraktikan secara benar. Untuk itu, seorang ahli amalan wajib memiliki ilmu yang cukup tentang Dzat yang mesti mereka sembah, baru kemudian mereka menyembah-Nya.

Apa jadinya jika seseorang menyembah sesuatu yang tidak ia ketahui nama dan sifat-sifat-Nya. Apa yang wajib bagi-Nya, apa yang mustahil atas-Nya dan sifat-Nya itu. Ini sangat krusial diketahui karena dikhawatirkan seseorang mengitikadkan sesuatu yang tidak layak kepada-Nya. Jika itu terjadi maka ibadahnya menjadi sia-sia.

Seorang ahli amalan mesti mengetahui tentang perintah dan larangan yang ditetapkan oleh syariat. Perintah-Nya wajib dipatuhi, dan larangan-Nya wajib dijauhi secara total. Jika tidak mengetahui tentang perintah dan larangan-Nya sepertiapa bisa melaksanakan amalan dengan baik dan benar.

Maka wajib hukumnya memiliki ilmu tentang ibadah-ibadah seperti yang disyariaatkan, seperti bersuci, sholat, puasa, sedekah dan lain sebagainya.

Alasan kedua yang menyebabkan ilmu lebih didahulukan adalah karena ilmu yang berguna itu membuahkan emosi takut kepada Allah Ta'ala dan segan terhadap-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Wa minan-nāsi wad-dawābbi wal-an‘āmi mukhtalifun alwānuhū każālik(a), innamā yakhsyallāha min ‘ibādihil-ulamā'(u), innallāha ‘azīzun gafūr(un).

(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergeser yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang beragam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Faṭir Ayat 28)

Melihat Surah Fathir Ayat 28, dijelaskan bahwa orang yang tidak mengenal Allah secara benar maka tidak akan segan, segan dan takut kepada-Nya. Maka dengan ilmu itu seorang hamba mengetahui dan mengenal-Nya, mengagungkan-Nya dan segan terhadap-Nya. Ilmu itu membikin kepatuhan secara total dan membendung kemaksiatan seluruhnya, tentunya dengan taufik dari Allah SWT.

Maka sebaiknya seorang hamba mencari ilmu, dan semoga Allah Ta'ala memberi bimbingan kepadanya. Sebelum segala sesuatunya menyibukan kamu, segera mencari ilmu. Allah yang memberi taufik, karunia dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Artikel Lainnya Intisari Islam
↑
Close Right Ads
Close Left Ads