Nikmat persatuan dan hadiahnya
Allah ﷻ jadikan persatuan sebagai suatu nikmat besar dan hamil khasiat yang luar biasa. Allah ﷻ berfirman dalam firman-Nya,
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا
“Dan berpeganglah Anda semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah Anda bercerai berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika Anda dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah Anda karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)
Maksud hablullah atau tali kepercayaan Allah ﷻ adalah ikrar dan garansi Allah ﷻ Sebagaimana firman Allah ﷻ,
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang dengan tali kepercayaan Allah dan tali kontrak dengan manusia.” (QS. Ali Imran: 112)
Ayat ini memberitahu bahwa dengan persatuan, kita akan mendapatkan nikmat kemuliaan. Sebagaimana pemahaman kebalikan dari kehinaan yang didapat ketika seseorang tidak bergabung padu di atas jalan Allah ﷻ.
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya banyak sekali menukilkan seruan ayat dan histori untuk bersatu. Beliau pun mengingatkan,
وَقَدْ ضُمِنتْ لَهُمُ العِصْمةُ، عِنْدَ اتِّفَاقِهِمْ، مِنَ الْخَطَأِ، كَمَا وَرَدَتْ بِذَلِكَ الْأَحَادِيثُ الْمُتَعَدِّدَةُ أَيْضًا
“Mereka dijamin tidak akan salah jika mereka sepakat, sebagaimana telah disampaikan dalam banyak keterangan Nabi ﷺ.”
Kemudian beliau mengaitkan dengan histori perpecahan umat menjadi 73 golongan. Beliau balik menegaskan, satu yang selamat sepenuhnya dari intimidasi neraka adalah mereka yang meniti jalan Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Sungguh perpecahan umat menjadi perhatian besar Nabi ﷺ di penghujung hayatnya.
Allah ﷻ mengingatkan bahwa persaudaraan yang terjadi di antara Muhajirin dan Anshar adalah nikmat yang begitu besar. Itulah yang membikin mereka menjadi kuat, karena saling dukung satu sama lain. Momen persatuan itu juga menyelamatkan mereka dari jurang api neraka, karena bujukan kekafiran di tengah beratnya ekonomi dan penghidupan mereka. Namun, Allah ﷻ jadikan di hati mereka persatuan di atas iman.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan bahwa perpecahan yang dimaksudkan adalah akibat dari mengikuti hawa hasrat masing-masing, sehingga tujuannya berbeda. Adapun perbedaan gagasan dalam perkara mendetail agama, tidaklah masalah. Dan siapapun yang berbeda dalam masalah ini statis bisa bergabung dan berangkulan sebagaimana para sahabat. Simak keterangan beliau berikut ini,
وَلَيْسَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الِاخْتِلَافِ فِي الْفُرُوعِ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ اخْتِلَافًا إِذِ الِاخْتِلَافُ مَا يَتَعَذَّرُ مَعَهُ الِائْتِلَافُ وَالْجَمْعُ
“Tidak ada bukti dalam hal ini yang melarang perbedaan gagasan mengenai masalah cabang, karena itu bukanlah perselisihan. Karena perselisihan adalah yang membikin kesepakatan dan perdamaian menjadi tidak mungkin.”
وَأَمَّا حُكْمُ مَسَائِلِ الِاجْتِهَادِ فَإِنَّ الِاخْتِلَافَ فِيهَا بِسَبَبِ اسْتِخْرَاجِ الْفَرَائِضِ وَدَقَائِقِ مَعَانِي الشَّرْعِ، وَمَا زَالَتِ الصَّحَابَةُ يَخْتَلِفُونَ فِي أَحْكَامِ الْحَوَادِثِ، وَهُمْ مَعَ ذَلِكَ مُتَآلِفُونَ
“Adapun aturan mengenai masalah ijtihad (penalaran independen), perbedaan gagasan di dalamnya disebabkan oleh penentuan tanggung jawab dan arti terperinci dari aturan Islam. Para sahabat terus berbeda gagasan dalam aturan mengenai kasus-kasus baru, namun mereka statis harmonis (bersatu).” (Tafsir Al-Qurthubi)
Harga persatuan senilai bumi dan seisinya
Allah ﷻ berfirman,
..هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun Anda membelanjakan semua (kekayaan) yang eksis di bumi, niscaya Anda tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allahlah yang telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 62-63)
Pada ayat ini, Allah ﷻ mengingatkan bahwa kekuatan kaum muslimin menjadi wasilah (sarana) pertolongan Allah ﷻ untuk menguatkan Nabi ﷺ. Tidak cuma itu, Allah ﷻ yang mempersatukan kaum muslimin, dan dengan karena persatuan itulah, pendukung Nabi ﷺ menjadi kuat.
Ibnu Katsir rahimahullah ingatkan bahwa telah terjadi perang berkepanjangan antargenerasi Bani Aus dan Khazraj. Harga peperangan ini begitu mahal, seluruh harta, darah dan dendam itu telah bertumpuk tak terbayarkan. Hadiah apa yang dapat meluluhkan keduanya? Tidak ada materi bumi yang dapat melegakan kebencian sangat dahsyat itu melainkan cahaya kepercayaan yang Allah ﷻ anugerahkan kepada kedua himpunan ini.
جَمَعَهَا عَلَى الْإِيمَانِ بِكَ، وَعَلَى طَاعَتِكَ وَمُنَاصَرَتِكَ وَمُوَازَرَتِكَ
“Allah ﷻ mengumpulkan mereka dalam mengimanimu, menaatimu, menolongmu, dan membantumu, (wahai Muhammad).” (Tafsir Ibnu Katsir)
Itulah arti dari penegasan Allah ﷻ,
لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
“Walaupun Anda membelanjakan semua (kekayaan) yang eksis di bumi, niscaya Anda tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allahlah yang telah mempersatukan hati mereka.”
Pantas sekali Allah ﷻ menegaskan diri-Nya adalah Zat Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana di ayat ini.
Itulah harga persatuan! Harganya bukan satu dua berlian yang kita korbankan untuk melembutkan hati beragam pihak, tetapi nilainya lebih dari seluruh isi dunia. Harga persatuan adalah semahal instruksi dari Allah ﷻ.
Baca juga: Sebab-Sebab Menuju Persatuan Umat
Manusia tidak bisa menyatukan hati kecuali atas kehendak Allah ﷻ
Ingat sekali lagi! Allah ﷻ yang mempersatukan, bukan manusia. Allah ﷻ berfirman,
هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
“Dialah yang memperkuatmu dengan kuasa-Nya dan dengan orang-orang percaya dan mempersatukan hati mereka. Walaupun engkau menginfakkan seluruh harta yang ada di bumi, tidaklah engkau dapat menyatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah ﷻ yang menyatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 62-63)
Allah ﷻ seakan-akan meniadakan andil manusia dalam mempersatukan hati manusia. Hal ini karena kompleksitas dan sulitnya upaya mempersatukan hati manusia. Mengorganisir banyak orang sangatlah sulit; banyak gagasan ahli, tetapi tak satupun memberikan ilmu pasti. Sedangkan Islam mengemasnya dengan elegan, bahwa ini semua adalah taufik dari Allah ﷻ. Manusia cuma bisa mengusahakan seadanya, tetapi yang dapat mendatangkan persatuan cuma dengan metode memohon kepada Allah ﷻ untuk ditanamkan ketakwaan penuh di hati.
Relevansi ayat persatuan dengan isu kontemporer
Tulisan ini menjadi bantahan bagi para penebar syubhat dari kalangan liberal bahwa tidak ada tanggung jawab untuk menjadikan manusia satu agama. Manusia boleh saja menjadi muslim, tetapi juga boleh menjadi penganut kepercayaan A, B, C. Karena Allah ﷻ memang menciptakan manusia beragam, jadi tidak boleh membujuk orang untuk menganut satu kepercayaan saja. Termasuk pula mentoleransi penyimpangan seperti LGBT, dengan karena bahwa Allah ﷻ menciptakan manusia beragam.
Jelaslah bahwasanya keberagaman adalah takdir penciptaan, sedangkan persatuan adalah tujuan penciptaan. Persatuan yang dituntut pun bukan sembarang, melainkan persatuan di atas kepercayaan yang benar, yaitu Islam.
Begitupula ini menjadi bantahan bagi himpunan yang menyerukan persatuan Islam di atas beragam kesesatan himpunan menyimpang lainnya. Syekh Saad Asy-Syal menjelaskan,
وإذا علم حقيقة هذا النوع من الاختلاف؛ عُلم أن دعاوى «التقريب» و«الاجتماع» مع وجود هذا النوع من الاختلاف دعاوى باطلة
“Apabila esensi jenis perselisihan ini telah diketahui, maka diketahui pula bahwa seruan at-taqrib (pendekatan) dan al-ijtima’ (persatuan) tatkala adanya perselisihan (dalam asas manhaj) adalah seruan yang batil.”
Mengapa disebut seruan batil?
لأن مضمونها جمع بين المتناقضات، ولو سموها «تعددية» و«حرية» و «فتح باب الاجتهاد، وغيرها من الشعارات؛
“Karena isi seruannya itu mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Meskipun ia dinamakan “pluralitas”, “kebebasan”, dan “membuka pintu ijtihad”, maupun semboyan lainnya.”
Beliau melanjutkan dengan tegas,
فحقيقة هذا النوع توجب نبذ البدع والضلالات والتمسك بالسنة؛ لأنها النجاة في مثل هذا النوع من الاختلاف
“Maka hakikatnya, jenis perselisihan (pada asas manhaj ini) mengharuskan untuk memberantas bidah dan kesesatan dan berpegang teguh dengan sunah. Karena aksi itu adalah keselamatan dalam jenis perselisihan ini.” (Adab Ikhtilaf, hal. 103)
Jadi, Syekh Saad Asy-Syal mau mengatakan bahwa jika perbedaannya terletak pada fundamen kepercayaan maupun perkara yang sudah jelas maknanya dari Al-Quran, As-Sunah, dan ijmak ulama, maka yang dituntut adalah menghilangkan kesesatannya, bukan justru bermimpi bergabung di wadah yang sama.
Realitanya, cita-cita mereka yang mau bergabung lintas manhaj ini tak tercapai. Para penyimpang ini pun saling bertembung dan berbantah satu sama lain. Akan tetapi, di momen tertentu, mereka punya lawan bersama, yaitu para salafiyin yang membujuk kaum muslimin kepada metode berkeyakinan kaum salaf. Bahkan mereka berkumpul dalam muktamar cuma untuk menyimpulkan pandangan demikian. Sayangnya, muktamar itu pun tak berhasil membawa kedamaian di antara mereka sendiri.
Oleh karena itu, ingatlah bahwa persatuan yang asasi adalah persatuan di atas jalan para salaf shalih. Model persatuan inilah yang disebutkan Allah ﷻ sebagai nikmat yang dahsyat. Bahkan kenikmatan ini tak bisa ditebus dengan pengorbanan harta sepenuh bumi. Karena persatuan itu adalah karunia Allah ﷻ mutlak, manusia tidak bisa mengusahakannya dengan segala cara.
Wallahu a’lam.
Baca juga: Landasan dan Langkah Mewujudkan Persatuan
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media
Referensi:
Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah via tafsir.app dan wahy.
Adab Ikhtilaf Baina Ash-Shahabah, karya Saad bin As-Sayyid Asy-Syal, risalah magister.
Raudhatul Uqala, karya Ibnu Hibban Al-Busthi, cet. Arwiqah.