Apa yang Kita Lakukan dengan Kehormatan yang Diberikan Islam kepada Perempuan? (Bag. 2)

Islami Muslimah oleh Waktu baca 7 menit 138x dilihat
Apa yang Kita Lakukan dengan Kehormatan yang Diberikan Islam kepada Perempuan? (Bag. 2)

Bagikan Postingan

Islam tidak sekedar berbicara tentang kehormatan, tetapi mengaturnya

Setelah mengetahui beragam bentuk ketidakadilan yang dialami perempuan pada masa jahiliyah, muncul sebuah pertanyaan:

“Lantas, apa yang sebenarnya diberikan Islam kepada perempuan?”

Islam tidak cuma berbicara tentang kehormatan dalam bentuk nasihat. Islam juga memberikan ketentuan yang menjaga kehormatan tersebut.

Perempuan memiliki kehormatan sebagai manusia

Kemuliaan seseorang dalam Islam tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya, kecantikan fisiknya, kekayaan, maupun status sosialnya. Oleh karena itu, harga seorang muslimah tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia memperhatikannya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan Anda dari seorang lelaki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan Anda berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar Anda saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara Anda di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan di sisi Allah berhubungan dengan ketakwaan. Artinya, harga seorang muslimah tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia memperhatikannya.

Anak perempuan bukan aib

Islam mengubah metode pandang terhadap anak perempuan. Ia bukan kehinaan. Ia bukan beban. Ia adalah amanah. Bahkan, terdapat beragam histori yang menerangkan keistimewaan mendidik dan merawat anak perempuan dengan baik.

Salah satunya, histori yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi pelindung baginya dari api neraka.” (HR. Muslim no. 2629)

Dengan demikian, keberadaan seorang anak perempuan bukan sesuatu yang mesti diratapi, melainkan amanah yang dapat menjadi jalan kebaikan dan pahala bagi orang tuanya.

Perempuan memiliki hak atas harta

Islam menetapkan hak perempuan dalam perkara warisan dan harta. Ini bukan sekadar pengakuan bahwa perempuan memiliki nilai, tetapi juga memberikan akibat aturan atas hak tersebut.

Hijab sebagai bagiankecil dari kehormatan

Hijab bukan sekadar identitas sosial. Bagi seorang muslimah, menutup aurat merupakan bagiankecil dari kepatuhan kepada Allah. Oleh karena itu, bahasan tentang hijab seharusnya tidak selesai pada pertanyaan:

“Bagaimana aku kelihatan di depan manusia?”

Tetapi juga:

“Bagaimana aku menjalankan apa yang Allah perintahkan?”

Hijab pada akhirnya bukan cuma tentang sepertiapa seseorang mau dilihat. Ia juga tentang sepertiapa seorang hamba memilih untuk menaati Rabb-nya.

Perempuan memiliki peran yang mulia

Islam tidak menjadikan perempuan sebagai manusia tanpa peran. Ia dapat menjadi seorang anak yang berbakti, seorang istri yang baik, seorang ibu yang mendidik generasi, seorang penuntut ilmu, seseorang yang berkarya, dan memiliki beragam peran lain yang bermanfaat.

Kemuliaan seorang perempuan tidak mesti selalu diwujudkan dengan satu bentuk yang sama. Yang menjadi alas adalah sepertiapa peran tersebut dijalankan dalam kepatuhan kepada Allah.

Baca juga: Islam Menjaga dan Memuliakan Wanita

Ketika kehormatan berjumpa dengan adat “ingin dilihat”

Sekarang, kita hidup di dalam adat yang sangat visual, di mana seseorang dapat memperoleh perhatian cuma dengan beberapa detik. Berawal dari sebuah foto, kemudian sebuah video, kemudian muncul sebuah like, sebuah komentar, sebuah pujian. Dan tanpa sadar, perhatian manusia bisa berubah menjadi ukuran harga diri.

“Apakah aku cukup cantik?”

“Apakah orang menyukaiku?”

“Berapa banyak yang melihatku?”

“Mengapa ‘postinganku’ tidak mendapat banyak perhatian?”

Padahal, ada pertanyaan yang lebih penting:

“Apakah yang aku lakukan diridai Allah?”

Perbedaannya mungkin kelihatan sederhana. Tetapi, sebenarnya sangat besar. Karena ketika manusia menjadi tujuan utama, kita akan terus membutuhkan penilaian manusia. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini mendapatkan perhatian, besok perhatian itu bergeser kepada orang lain.

Tetapi ketika rida Allah menjadi tujuan, harga sebuah kebaikan tidak bersandar pada berapa banyak manusia yang melihatnya.

Ketika penampilan berubah menjadi pelacakan validasi

Tidak semua bentuk memperindah diri adalah hal yang tercela. Islam tidak melarang seorang perempuan untuk tampil bersih, rapi, cantik, maupun merawat dirinya.

Yang perlu dijaga adalah ketika penampilan dan perhiasan berubah menjadi sarana untuk mencari perhatian yang tidak seharusnya dan melewati limitasi syariat.

Tabarruj bukan sekadar permasalahan apakah seseorang menggunakan busana yang elok maupun tidak. Pembahasannya berhubungan dengan sepertiapa seorang perempuan menampakkan perhiasan dan keindahannya dengan metode yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat.

Oleh karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan,

“Apakah aku kelihatan menarik?”

Tetapi,

“Untuk siapa aku mau kelihatan menarik?”

Dan lebih jauh lagi,

“Apakah metode aku menampilkan diriku sudah sesuai dengan batas yang Allah tetapkan?”

Kehormatan tidak hilang dalam satu hari. Kehormatan sering kali tidak runtuh karena satu keputusan. Terkadang ia terkikis sedikit demi sedikit. Lalu perlahan kita terbiasa mencari penilaian manusia. Padahal manusia akan selalu berubah.

Tetapi Allah mengetahui setiap pilihan yang kita pilih. Maka, jangan jadikan sesuatu yang sementara sebagai ukuran dari sesuatu yang begitu berharga, yaitu kehormatan diri.

Menjaga kehormatan bukan tanggung jawab perempuan saja

Ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan. Menjaga kehormatan dalam Islam bukan cuma tanggung jawab perempuan. Laki-laki juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dirinya.

Allah Ta’ala terlebih dahulu memerintahkan orang-orang percaya untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَـٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada lelaki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)

Kemudian Allah memberikan perintah kepada kaum perempuan untuk menjaga pandangan dan kehormatan mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَـٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَـٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, maupun bapak mereka, maupun bapak suami mereka, maupun putra-putra mereka, maupun putra-putra suami mereka, maupun saudara-saudara lelaki mereka, maupun putra-putra kerabat lelaki mereka, maupun putra-putra kerabat perempuan mereka, maupun para perempuan (sesama Islam) mereka, maupun hamba sahaya yang mereka miliki, maupun para pelayan lelaki (tua) yang tidak memiliki gairah (terhadap perempuan), maupun anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah Anda semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar Anda beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Artinya, Islam tidak meletakkan seluruh beban penjagaan moral cuma kepada perempuan. Laki-laki memiliki tanggung jawab. Perempuan memiliki tanggung jawab. Keduanya memiliki batas yang mesti dijaga. Keduanya memiliki kehormatan yang mesti dipelihara.

Maka ketika membicarakan tentang kehormatan wanita, kita juga perlu belajar untuk tidak menjadikan perempuan sebagai satu-satunya pihak yang disalahkan.

Baca juga: Peranan Wanita dalam Islam

Jadi, apa arti kemuliaan seorang muslimah?

Arti kemuliaan seorang muslimah bukan dari berapa banyak lelaki yang memperhatikannya, berapa banyak pengikutnya, berapa banyak pujian yang diterimanya, maupun seberapa sering namanya muncul di media sosial.

Tetapi, kemuliaan seorang muslimah berhubungan dengan seberapa dekat ia dengan Allah, seberapa kuat ia menjaga batas yang Allah tetapkan, dan seberapa teguh ia mempertahankan hakikat ketika tidak ada manusia yang melihat.

Mungkin ada di antara kita yang pernah salah. Pernah mencari perhatian manusia. Pernah mengunggah sesuatu yang kemudian kita sesali. Pernah lalai terhadap batas yang Allah tetapkan.

Tetapi kesalahan masa kemudian tidak mesti menjadi akhir perjalanan. Selama Allah statis memberikan kita waktu, pintu insaf statis terbuka. Tidak ada manusia yang selalu sempurna. Yang membedakan adalah siapa yang mau balik ketika menyadari dirinya telah berjalan terlalu jauh.

Maka jika hari ini kita merasa telah jauh dari nilai-nilai yang Allah ajarkan, jangan selesai pada rasa bersalah.

Kembalilah, wahai saudariku.

Perbaiki sedikit demi sedikit. Perbaiki metode berpakaian. Perbaiki metode berbicara. Perbaiki apa yang kita tampilkan. Dan yang paling penting, perbaiki hubungan kita dengan Allah. Karena kemuliaan seorang muslimah tidak lahir dari seberapa banyak manusia melihatnya. Namun, kemuliaan itu lahir ketika ia tahu siapa yang paling layak untuk ia cari rida-Nya.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Lisa Almira

Artikel Kincai Media

Referensi:

  • Al-Quran beserta tafsirnya yang diambil dari tafsirweb.net
  • Teks histori yang diambil dari sunnah.com
Artikel Lainnya Islami Muslimah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads