Hukum Percaya Ramalan Zodiak dalam IslamKincai Media – Bagaimana norma percaya ramalan zodiak? Pasalnya, di tengah perkembangan teknologi informasi, ramalan zodiak semakin mudah dijumpai. Hampir setiap hari beragam media sosial, situs internet, hingga aplikasi digital menyajikan prediksi mengenai jodoh, karier, keuangan, kesehatan, dan keberuntungan berasas tanggal lahir seseorang.
Tidak sedikit orang yang membaca apalagi menjadikan ramalan tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Lalu, gimana pandangan Islam terhadap kepercayaan semacam ini?
Dalam Islam, praktik meramal masa depan dikenal dengan istilah kihanah (الكهانة), ialah perdukunan alias upaya mengabarkan perkara-perkara gaib yang belum terjadi.
Pelakunya disebut kahin (كاهن), ialah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang tersembunyi alias bakal terjadi di masa mendatang. Selain itu, dikenal pula istilah ‘arraf (عراف) yang berfaedah peramal, dan munajjim (منجم) yang berfaedah mahir nujum alias perbintangan.
Menurut penjelasan Ibnu Taimiyah, ketiga istilah tersebut pada dasarnya mempunyai makna yang berdekatan. Semuanya merujuk kepada orang yang menyatakan mengetahui perkara gaib alias masa depan manusia. Karena itu, ramalan zodiak yang menghubungkan nasib seseorang dengan posisi bintang termasuk dalam kategori praktik ramalan yang dibahas dalam literatur keislaman.
DR. H. Ruslan Fariadi AM,dari Majelsis Tarjih Muhammadiyah menjelaskan bahwa ramalan zodiak merupakan bagian dari praktik perdukunan modern. Jika dulu perdukunan identik dengan ritual misterius dan tempat-tempat tertentu, sekarang dia datang dalam wajah yang lebih modern melalui teknologi digital.
Ramalan zodiak, horoskop, perbintangan, sio, feng shui, pembacaan kartu, hingga beragam corak ramalan nasib lainnya pada hakikatnya mempunyai kesamaan, ialah menyatakan dapat memberikan info mengenai masa depan manusia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perdukunan tidak selalu tampil dalam corak yang menyeramkan. Ia dapat dikemas secara menarik, ilmiah, apalagi menghibur sehingga tampak wajar di tengah masyarakat. Padahal substansi yang dikandungnya tetap sama, ialah mengaitkan nasib manusia dengan sesuatu selain kehendak Allah SWT.
Islam mengajarkan bahwa perkara gaib merupakan kewenangan prerogatif Allah semata. Tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui secara pasti apa yang bakal terjadi pada masa mendatang selain jika Allah memberitahukannya kepada siapa yang Dia kehendaki.
Oleh karena itu, kepercayaan bahwa bintang dapat menentukan rezeki, jodoh, keberuntungan, alias kesialan seseorang bertentangan dengan prinsip dasar tauhid.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terhadap orang yang mempercayai ramalan. Dalam sebuah sabda disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Barangsiapa mendatangi dukun alias peramal lampau membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (HR Ahmad).
Hadis ini menunjukkan sungguh seriusnya persoalan mempercayai ramalan. Sebab, ketika seseorang meyakini bahwa nasibnya ditentukan oleh bintang alias ramalan tertentu, dia telah memberikan sebagian keyakinannya kepada selain Allah. Padahal hanya Allah yang berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta.
Prinsip ini juga ditegaskan dalam sabda qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari. Rasulullah SAW berfirman bahwa Allah berfirman:
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
Artinya: “Di antara hamba-Ku ada yang beragama kepada-Ku dan ada yang kafir kepada-Ku. Adapun yang berkata, ‘Kami diberi hujan lantaran karunia dan rahmat Allah,’ maka dia beragama kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Sedangkan yang berkata, ‘Kami diberi hujan lantaran bintang ini dan itu,’ maka dia kafir kepada-Ku dan beragama kepada bintang.”
Hadis tersebut mengajarkan bahwa kejadian alam tidak boleh diyakini mempunyai kekuatan berdikari yang menentukan suatu kejadian. Semua yang terjadi pada hakikatnya berjalan lantaran kehendak Allah SWT. Jika hujan saja tidak turun lantaran pengaruh bintang, apalagi urusan nasib, jodoh, rezeki, dan masa depan manusia yang jauh lebih kompleks.
Lalu gimana jika seseorang membaca zodiak hanya sekadar hiburan? Para ustadz menjelaskan bahwa norma utamanya berjuntai pada kepercayaan yang menyertainya. Jika seseorang meyakini bahwa ramalan tersebut betul-betul menentukan alias mengetahui masa depannya, maka perihal itu termasuk perbuatan yang dilarang.
Namun jika hanya dibaca tanpa meyakini kebenarannya dan tanpa menggantungkan keputusan hidup kepadanya, maka tidak sampai pada tingkat kepercayaan yang merusak akidah.
Meski demikian, seorang Muslim tetap dianjurkan untuk menjauhi kebiasaan membaca ramalan. Sebab, sesuatu yang awalnya dianggap intermezo sering kali perlahan memengaruhi langkah berpikir dan langkah memandang kehidupan. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa optimis alias pesimis terhadap suatu urusan hanya lantaran membaca ramalan yang belum tentu benar.
Perlu dibedakan pula antara ramalan nasib dengan prediksi ilmiah terhadap kejadian alam. Islam tidak melarang prakiraan cuaca, perkiraan musim, alias prediksi yang didasarkan pada penelitian dan pengamatan terhadap hukum-hukum alam yang diciptakan Allah. Dalam perihal ini, yang diamati adalah sebab-sebab alamiah, bukan perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia.
Karena itu, prakiraan cuaca tidak dapat disamakan dengan ramalan zodiak. Prakiraan cuaca dibangun di atas informasi dan pengamatan ilmiah, sedangkan ramalan zodiak dibangun atas dugaan bahwa posisi benda-benda langit dapat menentukan nasib seseorang. Inilah perbedaan mendasar yang kudu dipahami.
Pada akhirnya, seorang Muslim hendaknya menyadari bahwa masa depan berada di tangan Allah SWT. Rezeki, jodoh, kesehatan, dan seluruh perjalanan hidup manusia telah berada dalam pengetahuan dan ketentuan-Nya. Ketika menghadapi ketidakpastian hidup, Islam mengajarkan untuk memperbanyak doa, ikhtiar, tawakal, dan istikharah, bukan mencari jawaban dari ramalan bintang.
Kepercayaan kepada zodiak mungkin tampak ringan dan sepele. Namun jika sampai menumbuhkan kepercayaan bahwa selain Allah dapat menentukan nasib manusia, maka perihal itu menjadi persoalan serius dalam akidah.
Oleh karena itu, menjaga kemurnian tauhid berfaedah meyakini bahwa tidak ada satu pun bintang, planet, alias rasi langit yang bisa mengubah takdir seseorang tanpa kehendak Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·