Kincai Media ,JAKARTA -- Dalam pandangan Islam, amal tidak hanya berfaedah sebagai instrumen pemerataan ekonomi dan support bagi kaum fakir. Lebih dari itu, amal merupakan sarana pendidikan ruhani yang bermaksud membersihkan hati dari kecintaan berlebihan terhadap kekayaan dan dunia. Melalui tanggungjawab mengeluarkan sebagian kekayaan, seorang Muslim dilatih untuk menempatkan kekayaan sebagai alat, bukan tujuan hidup, sekaligus memperkuat orientasi alambaka serta mencari keridhaan Allah SWT.
Yusuf Qardawi dalam kitab Fiqhuz Zakat menerangkan bahwa amal dari segi lain, merupakan suatu peringatan terhadap hati bakal kewajibannya kepada Allah dan kepada alambaka serta merupakan obat, agar hati jangan tenggelam kepada kecintaan bakal kekayaan dan bumi secara berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya tenggelam kepada kecintaan dunia, sebagaimana dikemukakan oleh Ar-Razi, dapat memalingkan jiwa dari kecintaan kepada Allah dan ketakutan kepada akhirat.
Dengan adanya hukum memerintahkan pemilik kekayaan untuk mengeluarkan sebagian kekayaan dari tangannya, maka diharapkan pengeluaran itu dapat menahan kecintaan yang berlebih-lebihan terhadap harta, menahan agar jiwa tidak dikuasainya dan memberikan peringatan bahwa kebahagiaan hidup itu tidaklah bakal tercapai dengan penundukan jiwa terhadap harta. Justru kebahagiaan itu bisa dicapai dengan menginfakkan harta, dalam rangka mencari ridha Allah.
"Maka tanggungjawab amal itu merupakan obat yang layak dan tepat dalam rangka mengobati hati agar tidak cinta bumi secara berlebih-lebihan," Syekh Yusuf Qardawi dalam kitab Fiqhuz Zakat.
Selanjutnya Imam ar-Razi menjelaskan rahasia dikuasainya hati manusia oleh kecintaan kepada dunia, "Sesungguhnya banyak kekayaan bakal menimbulkan kekuasaan dan kekuatan, yang bakal berakibat pula bertambahnya kenikmatan dengan kekuasaan itu. Bertambahnya kenikmatan, mengakibatkan manusia berupaya untuk mendapatkan kekayaan agar kenikmatan itu semakin bertambah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·