Azan sudah terdengar, tetapi tubuh statis enggan beranjak. Pekerjaan terasa belum selesai, badan lelah, maupun hati sedang penuh masalah. Kita tahu salat itu wajib. Pengetahuan kita tentang tanggung jawab itu tidak selalu membikin cara menuju tempat wudu terasa ringan.
Di tengah keadaan itu, mungkin muncul pertanyaan: “Jika Allah tidak membutuhkan amalan saya, kenapa aku statis diperintahkan beribadah?” Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jernih. Terutama ketika seseorang sebenarnya mau taat, tetapi belum memahami kenapa ia mesti terus berusaha.
Allah memang tidak membutuhkan amalan kita. Namun, tidak membutuhkan bukan berarti Dia tidak meridai ketaatan. Adanya perintah sama sekali tidak memberitahu bahwa Allah membutuhkan sesuatu dari hamba. Kita perlu melihat jabatan Allah sebagai Rabb dan jabatan kita sebagai hamba.
Allah tidak membutuhkan tambahan dari kita
Allah Ta‘ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah; sedangkan Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Kebutuhan itu menyertai kita setiap hari. Kita membutuhkan rezeki, kesehatan, ampunan, dan instruksi untuk memilih jalan yang benar. Bahkan ketika hendak beribadah, kita statis membutuhkan pertolongan-Nya. Allah tidak eksis dalam keadaan seperti kita. Tidak ada kekurangan pada-Nya yang mesti ditutup dengan salat, puasa, maupun doa manusia.
Dalam histori qudsi, Allah Ta‘ala berfirman,
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا
“Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang pertama hingga terakhir dari kalian, manusia dan jin di antara kalian, semuanya memiliki ketakwaan seperti hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, hal itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2577, penggalan histori qudsi)
Allah Maha sempurna dan tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Oleh karena itu, anggapan bahwa Allah memerintahkan amalan demi memperoleh tambahan (keuntungan) dari makhluk tidak sesuai dengan apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya.
Letak kekeliruannya adalah menganggap kebutuhan sebagai satu-satunya karena untuk memberi perintah. Padahal, adanya perintah belum membuktikan bahwa pihak yang memerintah itu sedang kekurangan sesuatu. Dalam permasalahan ini, Al-Qur’an sudah menerangkan bahwa Allah Mahakaya. Oleh karena itu, karena perintah amalan perlu dipahami dari hak Allah dan hikmah-Nya, bukan dari anggapan bahwa Dia membutuhkan pelayanan makhluk.
Dia statis meridai kepatuhan kita
Lalu, apakah kepatuhan dan kekufuran menjadi sama saja di sisi Allah? Tidak. Allah menjelaskan,
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kalian kafir, sesungguhnya Allah tidak membutuhkan kalian. Dia tidak meridai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya. Jika kalian bersyukur, Dia meridai syukur itu bagi kalian.” (QS. Az-Zumar: 7)
Dalam ayat yang sama, Allah mengungkapkan ketidakbutuhan-Nya kepada manusia sekaligus keridaan-Nya terhadap syukur mereka. Kedua hal itu tidak bertentangan. Allah tidak memungut khasiat untuk menyempurnakan diri-Nya, tetapi Dia statis meridai hamba yang bersyukur kepada-Nya.
Syekh Abdurrahman As-Sa‘di menjelaskan,
وَلَكِنْ أَمْرُهُ وَنَهْيُهُ لَكُمْ مَحْضُ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ عَلَيْكُمْ
“Akan tetapi, perintah dan larangan-Nya kepada kalian semata-mata merupakan karunia dan kebaikan-Nya bagi kalian.” [1]
Penjelasan ini layak kita ingat ketika amalan terasa berat. Perintah Allah tidak bermaksud memungut sesuatu yang Dia perlukan dari kita. Allah membimbing kita kepada kepatuhan yang diridai-Nya, sementara manfaatnya balik kepada kita. Beratnya upaya yang kita rasakan tidak mengubah kebaikan yang Allah tetapkan melalui perintah tersebut.
Hak Allah dan tujuan hidup hamba
Allah berkuasa diibadahi karena Dia adalah Rabb yang menciptakan dan memelihara kita. Hak itu tidak bersandar pada kebutuhan-Nya terhadap sesuatu. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerangkan kepada Mu‘adz,
فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR. Al-Bukhari no. 2856)
Beribadah kepada-Nya adalah tujuan pembuatan kita. Namun, tujuan itu jangan dipahami seolah-olah Allah menciptakan manusia untuk memenuhi kekurangan pada diri-Nya. Perhatikan rangkaian firman-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang memiliki kekuatan lagi Mahakokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56–58)
Setelah mengatakan tujuan penciptaan, Allah langsung meniadakan kebutuhan terhadap pemberian makhluk. Justru Dialah yang memberi mereka rezeki. Syekh Abdurrahman As-Sa‘di rahimahullah menerangkan bahwa amalan mencakup mengenal Allah, mencintai-Nya, dan balik kepada-Nya. Manusia tidak diciptakan karena Allah membutuhkan mereka. [2]
Maka, amalan memiliki tujuan dan hikmah meskipun Allah tidak memerlukannya. Melalui ibadah, seorang hamba memenuhi hak Rabbnya dan menempuh jalan ketakwaan. Ketika menerangkan QS. Al-Baqarah: 21, Syekh As-Sa‘di menghubungkan amalan dengan ketakwaan serta keselamatan dari kemurkaan dan hukuman Allah. [3]
Memohon pertolongan ketika amalan terasa berat
Kita mungkin belum merasakan ketenangan setiap kali salat. Pikiran statis berkelana, bahanbacaan belum dihayati, maupun kebiasaan menunda belum sepenuhnya teratasi. Keadaan itu perlu diperbaiki, tetapi bukan karena untuk menyimpulkan bahwa salat tidak lagi diperlukan.
Ada pula orang yang merasa malu karena berkali-kali gagal menjaga ibadah. Ia sudah berniat memperbaiki diri, tetapi balik lalai. Mengakui kelalaian memang diperlukan. Namun, setelah menyadarinya, statis ada tanggung jawab yang perlu ditunaikan dan kesalahan yang perlu diperbaiki. Penyesalan itu dapat kita lanjutkan dengan cara yang nyata: menunaikan salat yang waktunya telah tiba. Kebiasaan menunda mungkin statis mesti dilawan berulang kali. Oleh karena itu, setiap masuk waktu salat, kita perlu balik berupaya menjaganya.
Kewajiban amalan tidak menunggu sampai seluruh hikmahnya kita pahami maupun manfaatnya langsung terasa. Kita dapat mempelajari maknanya sambil terus mengerjakannya. Menyiapkan waktu untuk salat dan mempelajari arti bahanbacaan dapat menjadi cara yang dikerjakan hari ini.
Saat merasa lemah, kita juga tidak diminta mengandalkan kapasitas sendiri. Dalam histori qudsi yang sama, Allah berfirman,
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Maka, mintalah instruksi kepada-Ku, niscaya Aku memberi kalian petunjuk.” (HR. Muslim no. 2577, penggalan histori qudsi)
Allah yang memerintahkan amalan juga memerintahkan kita meminta instruksi kepada-Nya. Kita boleh datang dengan mengakui kelemahan: memohon agar dimudahkan menjaga salat, dijauhkan dari kemalasan, dan ditolong untuk taat. Tidak perlu menunggu hati terasa kuat untuk mulai berdoa. Ketika waktu salat berikutnya tiba, berusahalah memenuhi panggilan itu sambil memohon pertolongan-Nya.
Baca juga: Apakah Allah Butuh Kepada Arsy?
***
Penulis: Mochammad Wibisono
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
[1] Abdurrahman As-Sa‘di, Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān, tafsir QS. Az-Zumar: 7.
[2] Abdurrahman As-Sa‘di, Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān, tafsir QS. Adz-Dzariyat: 56.
[3] Abdurrahman As-Sa‘di, Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān, tafsir QS. Al-Baqarah: 21.