Kincai Media, SURABAYA — Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) meluncurkan buku "Historiografi Islam Nusantara" yang ditulis Prof KH Said Aqil Siroj dan Imam Pituduh. Buku tersebut mengulas perjalanan panjang Islam di Nusantara serta kontribusinya dalam membentuk peradaban Indonesia.
Ketua Umum LPOI yang juga personel Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), KH Said Aqil Siroj mengatakan, memahami Islam Nusantara tidak cukup cuma dengan menelusuri kedatangan Islam dan tokoh-tokoh penyebarnya. Lebih dari itu, diperlukan pemahaman tentang sepertiapa Islam berhubungan dengan kebudayaan lokal, membentuk institusi sosial, dan mengembangkan jaringan pengetahuan.
“Memahami Islam Nusantara tidak cukup cuma dengan menelusuri kapan Islam datang, siapa yang menyebarkannya, maupun sepertiapa doktrin Islam berkembang di beragam wilayah,” ujar Kiai Said dalam siaran persnya, Sabtu (17/10/2026).
Dalam peluncuran dan operasi buku "Historiografi Islam Nusantara" di Surabaya, Kiai Said menegaskan bahwa Islam memiliki peran krusial dalam perjalanan pembentukan peradaban Indonesia. Kontribusi tersebut dapat ditelusuri melalui evolusi pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, sastra, kebudayaan, hingga beragam institusi sosial dan politik.
Dia menjelaskan, "Historiografi Islam Nusantara" disusun untuk membujuk penduduk memahami sejarah Islam sebagai ruang analisis ilmiah yang bergerak dan terbuka terhadap beragam perspektif. Penulisan sejarah, kata dia, perlu terus berkembang seiring dengan ditemukannya sumber-sumber baru dan penggunaan pendekatan riset yang beragam.
Menurut dia, perbedaan penafsiran dalam sejarah Islam Nusantara merupakan bagiankecil dari dinamika analisis ilmiah. Perbedaan itu dapat muncul karena penggunaan sumber, metode, perspektif, dan kerangka analisis yang tidak sama.
Kiai Said menambahkan, perkumpulan Islam modern, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, turut memperlihatkan bahwa hayat Islam di Indonesia tidak terbendung pada praktik ritual keagamaan. Organisasi-organisasi tersebut berpartisipasi dalam pendidikan, pelayanan masyarakat, pemikiran keagamaan, dan fluktuasi hayat publik.
Dalam penulisan sejarah, perkumpulan Islam juga perlu ditempatkan sebagai subjek aktif yang menghasilkan ilmu dan menyimpan memori kolektif. Pengalaman sejarahnya dapat ditelusuri melalui dokumen, arsip, manuskrip, anotasi organisasi, hingga kesaksian lisan.
“Pengembangan historiografi Islam Nusantara merupakan upaya memperluas sumber, perspektif, dan pelaku dalam penulisan sejarah Indonesia,” ucap Musytasyar PBNU tersebut.
Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta ini menegaskan, penulisan sejarah Islam Nusantara bukan bermaksud membangun narasi apologetik maupun mengunggulkan himpunan tertentu. Sebaliknya, analisis tersebut diharapkan bisa menempatkan penduduk Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif, kreatif, dan memiliki kontribusi nyata terhadap evolusi peradaban.