Ketika Ulama Berkata, “Aku Tidak Tahu” (Bag. 1)

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 5 menit 264x dilihat
Ketika Ulama Berkata, “Aku Tidak Tahu” (Bag. 1)

Bagikan Postingan

Suatu hari di Mina, orang-orang datang membawa pertanyaan kepada salah seorang ulama, namun balasan yang keluar dari lisan beliau adalah,

لا أدري، لا أعلم

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu.” (Shifatus Safwah, hal. 351)

Setelah beliau mengatakan hal tersebut, pertanyaan bukannya berkurang, akan tetapi semakin bertambah banyak, sehingga beliau mengatakan,

والله لا نعلم كلّ ما تسألونا عنه، ولو علمنا ما كتمنا كم ولا حل لنا أن نكتمكم

“Demi Allah, aku tidak mengetahui balasan dari semua pertanyaan kalian. Seandainya aku mengetahuinya, tentu aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian.” (Shifatus Safwah, hal. 351)

Beliau adalah Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar rahimahullah, cucu dari sahabat Nabi yang paling utama, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah seorang imam, teladan, hafiz, seorang hujjah, dan ulama di Madinah kala itu berbareng dengan Salim dan ‘Ikrimah. (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 406)

Beliau dibesarkan dalam asuhan bibinya, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari beliaulah, Al-Qasim banyak mendalami ilmu fikih dan meriwayatkan histori (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 406). Sejak usia muda, Al-Qasim bin Muhammad telah tumbuh dalam lingkungan ilmu. Ia menghafal Al-Qur’an dan banyak memungut histori dari bibinya radhiyallahu ‘anha. Ia juga tekun menghadiri majelis-majelis ilmu di Masjid Nabawi dan belajar kepada para sahabat dan tabi’in senior. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja‘far, Rafi‘ bin Khadij, serta Aslam, maula Umar bin Khattab (Kisah Para Tabi’in – Biografi Al-Qasim bin Muhammad, hal. 11). Dari perjalanan ilmu inilah, Al-Qasim kemudian tumbuh menjadi salah seorang ulama dan fuqaha terkemuka di Madinah, yang dikenal dengan julukan Al-Fuqaha As-Sab’ah.

Kedalaman ilmu Al-Qasim diakui oleh para ulama lain. Yahya bin Sa’id berkata,

ما أدركنا بالمدينة أحداً نفضله على القاسم

“Aku tidak mengetahui ada orang yang lebih utama di Madinah daripada Al-Qasim.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 407)

Abdurrahman bin Abi Az-Zinad berkata,

ما رأيت أحداً أعلم بالسنة من القاسم بن محمد

“Aku belum pernah melihat orang yang lebih mengenal As-Sunnah dibandingkan Al-Qasim bin Muhammad.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 407)

Imam Malik beranggapan mengenai Al-Qasim bin Muhammad,

كان من فقهاء هذه الأمة

“Beliau termasuk fuqaha umat ini..” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 407)

Baca juga: Adakah Uzur Bagi Orang Yang Tidak Tahu?

Sikap wara’ dalam berbicara dan berfatwa

Di antara sifat yang seharusnya kita teladani dari beliau yaitu kehati-hatian beliau ketika berbicara mengenai perkara agama. Ketinggian ilmu kepercayaan beliau –sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama di atas– tidak membikin beliau bermudah-mudahan dalam berfatwa dan semakin besar rasa takut beliau ketika mengatakan sesuatu yang tidak beliau ketahui. Hal ini sebagaimana disampaikan Imam Malik rahimahullah, “Al- Qasim sedikit meriwayatkan histori dan sedikit memberikan fatwa.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 408)

Yahya bin Sa’id berkata, ”Aku mendengar Al-Qasim bin Muhammad berkata,

لأن يعيش الرجل جاهلا بعد أن يعرف حق الله عليه خير له من أن يقول ما لا يعلم

“Sungguh, seseorang yang hidup dalam keadaan bodoh –setelah ia mengetahui tanggung jawab dirinya kepada Allah– lebih baik baginya daripada dia mengatakan sesuatu yang tidak diketahui.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 408)

Hisyam bin ‘Ammar meriwayatkan dari Malik, “Suatu ketika, salah seorang imam Madinah mendatangi Al-Qasim dan menanyakan suatu perkara kepadanya, kemudian beliau menjawab,

“Sesungguhnya termasuk bentuk seseorang memuliakan dirinya sendiri adalah ia tidak mengatakan sesuatu kecuali apa yang benar-benar telah dia ketahui ilmunya.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5: 408)

Terdapat kisah menarik mengenai kehati-hatian Al-Qasim bin Muhammad rahimahullahu saat berbicara dan menjawab pertanyaan, sebagaimana diriwayatkan dalam buku Siyar A’lam An-Nubala. Suatu ketika, Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah sedang mengerjakan salat. Seorang Arab Badui datang menghampirinya dan bertanya, “Siapakah yang lebih berilmu, engkau maupun Salim?”

Al-Qasim menjawab,

سبحان الله، كل سيخبرك بما علم

“Subhanallah, setiap orang akan memberitahukan kepadamu apa yang diketahuinya.”

Namun, orang Badui tersebut balik bertanya, “Siapakah di antara kalian yang lebih berilmu?”

Al-Qasim balik mengucapkan, “Subhanallah.”

Ketika pertanyaan itu diulang lagi, Al-Qasim berkata,

ذاك سالم، انطلق فسله

“Itulah Salim. Pergilah dan bertanyalah kepadanya.”

Muhammad bin Ishaq rahimahullah yang meriwayatkan kisah ini, kemudian menerangkan bahwa Al-Qasim tidak mau mengatakan dirinya lebih berilmu daripada Salim karena hal itu berarti memuji dirinya sendiri. Namun, ia juga tidak mau mengatakan Salim lebih berilmu darinya karena dia berbohong jika mengatakan demikian.

Penutup

Demikianlah, Al-Qāsim bin Muhammad rahimahullah. Kedudukannya tinggi, ilmunya luas, dan para ulama memberikan kesaksian tentang keutamaannya.

Bagi ulama salaf, kalimat “saya tidak tahu” bukanlah aib seorang alim. Yang mereka khawatirkan bukanlah kelihatan tidak mengetahui, tetapi mengatakan tentang kepercayaan Allah sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mereka memahami bahwa setiap balasan adalah amanah, dan setiap fatwa akan dimintai pertanggungjawaban.

Semakin dalam ilmu seseorang, seharusnya ia semakin mengenal batas ilmunya. Ada perkara yang ia ketahui, kemudian ia sampaikan; ada yang statis samar, kemudian ia tahan; dan ada yang memang tidak ia ketahui, kemudian dengan tenang ia mengatakan, “Saya tidak tahu.”

Al-Qāsim bin Muhammad bukanlah satu-satunya ulama yang berani mengatakan “saya tidak tahu”. Dalam perjalanan para ulama terdahulu, kita akan menemukan orang-orang yang jauh lebih dikenal keluasan ilmunya, tetapi kalimat “لا أدري — aku tidak tahu” tetap menjadi bagiankecil dari dewan mereka.

Sebab bagi mereka, ketidaktahuan bukanlah sesuatu yang memalukan. Berbicara tanpa ilmu, itulah yang mereka takutkan.

[Bersambung]

***

Penulis: Dimas Setiaji

Artikel Kincai Media

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads