BNPT Ajak 1.600 Pelajar Cegah Perundungan dan Waspadai Konten Kekerasan

Bincang Syariah oleh Waktu baca 5 menit 87x dilihat
BNPT Ajak 1.600 Pelajar Cegah Perundungan dan Waspadai Konten Kekerasan

Bagikan Postingan

BNPT Ajak 1.600 Pelajar Cegah Perundungan dan Waspadai Konten Kekerasan
BNPT Ajak 1.600 Pelajar Cegah Perundungan dan Waspadai Konten Kekerasan

Kincai Media– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono S.I.K., M.H., mengingatkan pelajar agar mewaspadai paparan konten kekerasan di ruang digital yang berpotensi memengaruhi perilaku dan mendorong aksi berbahaya. Selain menguatkan literasi digital, ia menekankan pentingnya mencegah perundungan serta membangun lingkungan sekolah yang menghargai perbedaan.

Pesan tersebut disampaikan Eddy saat memberikan bimbingan kepada 1.600 pelajar SMA dari 58 sekolah se-Jabodetabek dalam Kemah Kebangsaan BP2M bertema “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebinekaan di Tengah Perbedaan” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Eddy mengungkapkan data BNPT yang mencatat 782 anak di 18 provinsi terpapar konten kekerasan melalui sejumlah kelompok dan grup digital, termasuk True Crime Community (TCC). Komunitas tersebut membahas beragam kasus pelaku kejahatan dan insiden kekerasan yang terjadi di beragam bagian dunia.

Menurut Eddy, konten semacam itu memiliki dua sisi. Di satu sisi, keterangan mengenai kejahatan dapat menjadi bahan pembelajaran. Namun, tanpa pemahaman yang tepat, konten tersebut juga berpotensi mendorong peniruan aksi kekerasan.

Karena itu, ia meminta para pelajar tidak mengonsumsi keterangan digital secara pasif, terlebihlagi langsung membagikannya tanpa memeriksa fakta dan dampaknya.

“782 anak di seluruh Indonesia, ada 18 provinsi, 782 anak terpapar. Terpapar oleh tadi itu, ada dua terpapar oleh karena konten-konten kekerasan yang ada di grup True Crime Community dan lain-lain, banyak lagi grupnya,” ujar Eddy dalam pemaparannya.

Eddy juga menyinggung kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk peristiwa di SMA 72 dan sebuah madrasah di Padang, sebagai pengingat bahwa permasalahan di lingkungan sekolah perlu ditangani secara serius. Dalam penjelasannya, ia menyoroti paparan konten digital dan pengalaman perundungan sebagai hal yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan.

Ia menceritakan pernah menjenguk seorang anak yang terlibat dalam kasus di SMA 72 ketika eksis di rumah sakit. Eddy mengatakan anak tersebut mempelajari pembuatan bom rakitan melalui YouTube. Menurut penuturannya, sembilan bom rakitan ditempatkan di masjid sekolah, sementara upaya berikutnya untuk meledakkan diri tidak berhasil.

Kepala BNPT juga menyinggung kasus di sebuah madrasah di Padang yang, menurut penjelasannya, berhubungan dengan perundungan. Ia menggunakan contoh tersebut untuk mengingatkan pelajar agar tidak menjadikan perbedaan jasmani maupun latar belakang sebagai karena untuk menghina maupun mengucilkan teman.

“Perbedaan itu biasa, menghormati itu luar biasa! Walaupun tadi—siapa namanya tadi? Iqbal—berbeda, tapi kita hargai, jangan dimusuhi,” kata Eddy.

Ia menegaskan bahwa perundungan bukan permasalahan sepele. Sekolah perlu menjadi tempat yang terlindungi bagi pelajar untuk belajar dan berbaur tanpa takut dihina maupun diperlakukan secara diskriminatif.

“Berbeda itu biasa, menghormati itu adalah luar biasa, bergabung itu adalah kekuatan bangsa,” lanjutnya.

Untuk membangun kewaspadaan di ruang digital, Eddy mengingatkan pelajar menerapkan hakikat 3T, yaitu Tahan, Telusuri, dan Timbang. Prinsip ini membujuk pelanggan media sosial untuk tidak terburu-buru bereaksi, memeriksa sumber informasi, dan mempertimbangkan apakah suatu konten layak dibagikan.

Ia menghubungkan hakikat tersebut dengan pengalamannya saat bekerja di sektor kejahatan siber, yang mengenal pesan think before click maupun berpikir sebelum mengeklik.

“Tahan dulu, lihat dulu, jangan langsung membagikan, langsung share saja, jangan! Lihat dahulu kira-kira ini benar tidak, telusuri dahulu keterangan ini benar tidak. Setelah sudah diketahui, dapat informasi, kemudian dipertimbangkan: ini perlu tidak kami share?” ujar Eddy.

Pesan tersebut relevan bagi pelajar yang setiap hari salingberhadapan dengan arus keterangan dari media sosial, video daring, dan beragam kelompok internet. Memeriksa sumber, memahami konteks, serta mempertimbangkan akibat keterangan dapat membantu mencegah penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.

Literasi digital juga perlu berjalan beriringan dengan pendidikan karakter. Pelajar tidak cuma perlu mengetahui metode mengenali keterangan yang keliru, tetapi juga memahami bahwa menyebarkan penghinaan, mempermalukan teman, maupun mendukung kekerasan dapat membawa akibat bagi orang lain.

Dalam aktivitas tersebut, Eddy meminta para peserta membawa semangat kebangsaan ke sekolah masing-masing. Ia mengharapkan 1.600 pelajar dari 58 sekolah se-Jabodetabek dapat menjadi penggerak fluktuasi dengan menumbuhkan toleransi, menghentikan perundungan, dan menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.

“Setelah latihan ini teman-teman jadi agen-agen fluktuasi di sekolah masing-masing. Setuju tidak?” ujar Eddy kepada para peserta.

Ia menjelaskan, upaya tersebut perlu melibatkan komite sekolah yang terdiri atas elemen tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua. Kolaborasi ini diharapkan menguatkan pendampingan terhadap pelajar, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun saat menggunakan teknologi digital.

Ketua Umum Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia (Pionir), Muhammad Hanif, juga mengharapkan Kemah Kebangsaan menjadi momentum untuk menguatkan persaudaraan dan membangun karakter pelajar yang kritis serta demokratis.

“Harapan aku semoga di aktivitas ini dapat menjadi momentum bagi kita semua untuk menguatkan tali persaudaraan dan membuktikan bahwa pelajar Indonesia adalah pelopor fluktuasi yang kritis serta demokratis,” ungkap Hanif.

Melalui Kemah Kebangsaan BP2M 2026, BNPT mendorong generasi muda memungut peran nyata dalam menjaga persatuan. Upaya tersebut dapat dimulai dari aksi sederhana, seperti menghormati kawan yang berbeda, tidak berbuat perundungan, memeriksa keterangan sebelum membagikannya, serta menolak konten yang mengagungkan kekerasan.

Eddy menegaskan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi karena untuk memusuhi orang lain. Sebaliknya, keberagaman perlu dirawat melalui sikap saling menghargai dan kesediaan membangun persahabatan.

Dengan keterlibatan pelajar, keluarga, dan sekolah, penguatan toleransi dan literasi digital diharapkan menjadi bagiankecil dari pencegahan sejak awal terhadap penyebaran kebencian dan efek mengerti kekerasan.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads