Suasana perang salib memperebutkan Yerusalem.
Kincai Media, JAKARTA— Salahuddin Al-Ayyubi berhasil membentuk front Islam yang bersatu. Namun, penguasaan pasukan Salib atas sejumlah kota di pesisir Syam, serta dua kubu penting, yaitu Karak dan Syubak, menjadi hambatan besar bagi hubungan antara dua daerah utama kekuasaannya.
Wilayah dominasi Salahuddin saat itu meliputi Mesir, sebagian besar area Syam, dan sebagian daerah Irak.
Selain menghalangi hubungan antardaerah kekuasaannya, kota-kota dan pelabuhan di pesisir tersebut juga memiliki posisi strategis yang sangat penting.
Penguasaan pasukan Salib atas wilayah-wilayah itu memungkinkan mereka menjalin hubungan secara terus-menerus dengan tanah asal mereka di Eropa Barat.
Karena itu, sejak mula pemerintahannya, Salahuddin telah memberikan perhatian besar pada upaya menyerang wilayah-wilayah tersebut. Bahkan, perhatiannya terhadap permasalahan ini sudah muncul ketika ia statis menjabat sebagai wazir di Dinasti Fatimiyah.
Dalam beragam serangan yang dilancarkannya ke kota-kota pesisir Syam, Salahuddin berhasil menimbulkan kerugian besar bagi pasukan Salib, baik dari segi jumlah personel maupun perlengkapan perang.
Kondisi ini tampaknya mendorong pasukan Salib untuk mencari metode mengurangi tekanan terhadap wilayah-wilayah tersebut dengan mengalihkan perhatian Salahuddin. Salah satu caranya adalah melancarkan serangan ke area pesisir Laut Merah.
Selain itu, mereka berupaya memanfaatkan keberadaan Salahuddin di area tersebut untuk menakut-nakuti tempat-tempat suci umat Islam.
Dengan demikian, mereka mengharapkan dapat melukai Islam di wilayahnya yang paling suci. Namun, evolusi peristiwa terjadi cepat dan justru menguntungkan Salahuddin.
Lantas apa yang melandasi terjadinya Perang Hattin? Syekh Muhammad Ash-Shalabi, dalam halaman resminya menerangkan sebagai berikut: