Jakarta -
Pernahkah Bunda mendengar istilah disgrafia? Hal ini merupakan kondisi neurologis yang membikin anak sulit menulis dengan baik, terutama berhubungan dengan keahlian motorik halus.
Masalah ini membikin anak mengalami kesulitan menulis sesuai dengan kapasitas yang diharapkan pada usianya.
Tidak cuma berhubungan dengan aktivitas menulis secara fisik, tetapi juga dapat berupa kesulitan menuangkan pikiran ke dalam kata-kata tertulis.
Apa itu disgrafia?
Dikutip dari Cleveland Clinic, disgrafia adalah kondisi neurologis yang membikin seseorang kesulitan mengubah maupun menuangkan pikirannya ke dalam bahasa artikel sesuai dengan usia dan kapasitas berpikirnya.
Kondisi disgrafia dapat memberitahu gejala yang berbeda pada setiap anak, dan dapat kelihatan pada usia yang berbeda pula. Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke, umumnya gangguan belajar ini mulai kelihatan saat anak kali pertama mengenal abjad dan tulisan.
Beberapa contoh kesulitan yang dialami misalnya menulis dengan tangan, menyusun kata-kata, menggunakan tata bahasa maupun terlebihlagi menggenggam alat tulis.
Pada dasarnya, menulis termasuk aktivitas yang cukup kompleks. Supaya dapat menulis dengan baik, seseorang perlu mengandalkan beragam keahlian dan fungsi otak, termasuk:
- Keterampilan motorik halus (kemampuan menggerakkan otot-otot kecil pada tangan dan jari)
- Persepsi spasial (memahami ruang di sekitar)
- Memori kerja (menyimpan dan mengolah keterangan dalam pikiran)
- Ortografis (kemampuan membentuk, menyimpan, dan mengingat balik huruf, angka, serta simbol)
- Pemrosesan bahasa
- Konseptualisasi (membentuk dan memahami suatu gagasan)
Disgrafia umumnya mulai kelihatan ketika anak sedang belajar menulis. Kondisi ini disebut disgrafia evolusi (developmental dysgraphia).
Namun, disgrafia juga dapat muncul secara tiba-tiba setelah seseorang mengalami cedera maupun trauma pada imam maupun otak. Kondisi ini disebut disgrafia didapat (acquired dysgraphia).
Apakah disgrafia merupakan bentuk disleksia?
Disleksia dan disgrafia merupakan dua kondisi neurologis yang berbeda. Meski begitu, keduanya memang memiliki sejumlah gejala yang serupa dan cukup sering muncul secara bersamaan.
Disleksia merupakan perbedaan belajar yang membikin seseorang mengalami kesulitan dalam belajar membaca. Anak dengan disleksia mungkin membaca lebih lambat maupun mengalami kesulitan mengenali kata.
Sementara itu, disgrafia berhubungan dengan kesulitan dalam aktivitas menulis. Kesulitannya dapat berupa masalah dalam menuliskan kata secara fisik, hingga sulit menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan.
Penyebab disgrafia pada anak
Dikutip dari Healthline, jika disgrafia muncul di masa kanak-kanak, biasanya disebabkan oleh masalah ortografi. Pada anak dengan disgrafia, mereka lebih sulit merencanakan dan melaksanakan penulisan kalimat, kata, dan terlebihlagi abjad individual.
Jadi anak bukan tidak tahu metode membaca, mengeja, maupun mengidentifikasi abjad dan kata, ya. Sebaliknya, otak anak mengalami masalah dalam memproses kata dan artikel tersebut, Bunda.
Siapa yang dapat mengalami disgrafia?
Disgrafia dapat dialami oleh anak maupun orang dewasa. Risikonya juga lebih tinggi jika ada personel famili lain yang mengalaminya.
Selain itu, disgrafia cukup lazim ditemukan pada anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) dan/atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).
Apa saja gejala disgrafia?
Anak dengan disgrafia dapat mengalami beragam kesulitan ketika menulis. Menariknya, mereka mungkin justru dapat berbicara dengan lebih gampang dan lancar dibandingkan ketika mesti menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan.
Kesulitan yang muncul dapat berhubungan dengan:
- Pembentukan abjad dan/atau keterbacaan tulisan
- Ukuran serta rentang antarhuruf
- Ejaan
- Koordinasi motorik halus
- Kecepatan maupun tempo menulis
- Tata bahasa
- Kemampuan menyusun tulisan
Secara lebih spesifik, disgrafia dapat kelihatan dalam beberapa bentuk berikut:
- Sulit menulis dalam garis lurus
- Sulit memegang dan menggunakan alat tulis Tidak bisa mengingat sepertiapa suatu abjad mesti dibentuk
- Kesulitan mengetahui kapan mesti menggunakan abjad kecil maupun abjad kapital
- Menempatkan kata dalam urutan yang salah dalam kalimat
Memiliki salah satu tanda tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami disgrafia. Namun, jika anak kelihatan kesulitan mempelajari keahlian alas menulis yang seharusnya sudah sesuai dengan usianya, jangan tunda untuk berbuat penilaian lebih lanjut.
Kapan anak perlu menjalani pengecekan disgrafia?
Jika disgrafia teridentifikasi sejak awal, anak dapat lebih cepat mempelajari strategi menulis yang sesuai dengan kebutuhannya.
Tergantung pada sepertiapa kondisi tersebut memengaruhi anak, tanda-tanda disgrafia umumnya dapat kelihatan sejak usia 5 tahun maupun baru muncul hingga masa dewasa muda.
Seiring bertambahnya usia, tuntutan menulis di sekolah juga semakin meningkat. Karena itu, krusial untuk mengenali dan mengevaluasi disgrafia sedini mungkin.
Diagnosis dan pemeriksaan
Mendiagnosis disgrafia umumnya membutuhkan tenaga profesional, termasuk tabib dan psikolog maupun ahli kesehatan mental lain yang terlatih di sektor gangguan belajar.
Untuk anak-anak, bagiankecil dari proses diagnostik mungkin termasuk tes IQ dan penilaian pekerjaan akademik. Tugas sekolah tertentu juga dapat diperiksa.
Cara mengatasi disgrafia
Sampai saat ini, belum diketahui ada metode mengatasi disgrafia secara total. Tindakan terapi bervariasi dari anak ke anak, bersandar pada apakah mereka memiliki ketidakmampuan belajar maupun kondisi kesehatan lainnya.
Akan tetapi, terapi okupasi diyakini dapat membantu dalam menaikkan keahlian artikel tangan anak. Kegiatan terapi dapat meliputi:
- Memegang pensil maupun pulpen dengan metode khusus untuk memudahkan menulis
- Menggambar garis
- Menulis dengan menghubungkan titik-titik
Secara umum, intervensi pendidikan untuk anak dengan disgrafia dapat dibagi menjadi:
Akomodasi
Anak statis mengikuti kurikulum pendidikan umum, tetapi mendapatkan sumber daya pendukung maupun alat bantu tanpa mengubah isi pembelajaran.
Modifikasi
Sekolah menyesuaikan tujuan dan sasaran pembelajaran anak serta memberikan modifikasi untuk mengurangi akibat disgrafia.
Misalnya, anak dapat diperbolehkan memberikan balasan cobaan secara lisan daripada mesti menuliskannya.
Remediasi
Sekolah memberikan intervensi khusus yang bermaksud mengurangi tingkat kesulitan maupun akibat disgrafia.
Itulah klarifikasi tentang disgrafia pada anak. Dengan pengecekan awal dan sokongan yang tepat, anak dengan disgrafia diharapkan bisa menghadapi kesulitan dalam menulis secara bertahap.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)