Muslim dan Kebiasaan Membaca

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 11 menit 504x dilihat
Muslim dan Kebiasaan Membaca

Bagikan Postingan

Bismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kita -melalui instruksi Rabb-nya- prinsip-prinsip hayat untuk menggapai kebahagiaan di bumi dan di akhirat kelak. Di antara doktrin mulia tersebut adalah anjuran untuk memiliki kebiasaan ‘membaca’.

Saudaraku, Allah mentakdirkan kita hidup di era di mana keterangan mengalir deras tanpa henti. Fenomena yang dahulu kelihatan ganjil dan sangat jarang terlihat, tapi kini menjadi kenyataan yang biasa kita saksikan; ponsel yang selalu di genggaman, notifikasi datang silih berganti, video singkat menghibur dalam hitungan detik, dan media sosial menyajikan ribuan konten setiap harinya. Di tengah semua itu, banyak orang mengeluh, “Saya tidak punya waktu untuk membaca.”

Padahal, jika dihitung dengan jujur, berapa jam yang kita habiskan setiap hari untuk menggulir layar ponsel? Lima menit di sini, sepuluh menit di sana—lama-kelamaan menjadi berjam-jam. Lalu, mampukah kita menjawab pertanyaan ini:

Jika kita memiliki waktu untuk membuka ponsel setiap hari, kenapa kita merasa tidak memiliki waktu untuk membaca?

Sebuah pertanyaan tentang arti dari kata “prioritas”, tentang apa yang kita anggap krusial dan apa yang kita korbankan. Saudaraku, kita ketahui bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perintah membaca ini merupakan fondasi peradaban karena mambaca adalah jendela bumi bagi setiap insan yang sebelumnya tidak tahu menjadi mengerti. Membaca juga adalah gerbang ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala (ma’rifatullah). Oleh karenanya, aktivitas membaca, di samping sebagai aktivitas ilmuwan kita sebagai seorang muslim, dengannya juga bisa jadikan sarana untuk amalan dalam rangka upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Namun, cuma memiliki kebiasaan membaca saja, tentunya tidaklah cukup. Kita juga mesti mengetahui apa yang paling layak dibaca dan sepertiapa menyusun prioritas bacaan. Sebab, tidak semua bahanbacaan itu setara. Tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas. Dan membaca yang banyak, tanpa arah yang benar, tidak otomatis mendatangkan banyak ilmu yang bermanfaat.

Kebiasaan yang perlu dibangun

Kita membaca berarti kita sedang mencerna keterangan tertulis untuk memperoleh arti dan pengetahuan. Secara ilmiah, membaca melatih otak untuk berpikir kritis, memperluas wawasan, dan menaikkan kapasitas analisis. Membaca secara teratur juga terbukti menaikkan empati, kapasitas komunikasi, dan daya ingat. Namun, kebiasaan membaca tidak tumbuh dengan sendirinya. Akan tetapi, kebiasaan perlu dilatih, dibangun, dan dijaga.

Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022—yang statis menjadi rujukan terbaru—mencatat skor literasi membaca Indonesia di angka 359, turun dari 371 (2018), dengan peringkat ke-68 dari 81 negara. Hanya 25% murid yang mencapai literasi dasar. Perlu dibedakan dengan kebiasaan membaca. Data terbaru Perpusnas/BPS (2025) mencatat Indeks Kegemaran Membaca (TGM) di angka 54,80 (kategori sedang), sedangkan Indeks Pembangunan Literasi (IPLM) hanya 40,6 (kategori rendah). Angka UNESCO 0,001% kerap dikutip, tetapi nilainya diperdebatkan dan perlu dicermati.

Rata-rata penduduk cuma membaca 6 buku/tahun dengan durasi 129 jam, dan cuma 20,7% yang membaca setiap hari. Kecepatan baca kita pun statis tertinggal (270 kata/menit vs. rata-rata mendunia 450). Fakta ini memberitahu adat baca kita statis perlu digalakkan, terutama di tengah gempuran konten digital instan yang tidak membangun pemahaman mendalam.

Apa pun bilangan yang kita pegang, satu hal yang jelas bahwa adat membaca di Indonesia statis perlu terus dibangun. Di tengah derasnya arus keterangan digital, kapasitas untuk memilah dan memahami keterangan justru belum berkembang seiring berjalannya waktu. Masyarakat lebih banyak mengonsumsi konten pendek, media sosial, dan keterangan instan. Hasilnya, kita menjadi konsumen keterangan yang pasif, bukan pembelajar yang aktif. Di sinilah peran membaca yang serius dan terarah menjadi penting. Bukan sekadar membaca apa pun yang muncul di linimasa, tetapi membaca dengan kesadaran dan tujuan.

Muslim dan prioritas membaca

Islam adalah kepercayaan yang sangat menghargai ilmu. Janji Allah kepada penuntut ilmu amatlah mulia, yaitu surga yang dimudahkan bagi penuntutnya. Dan ilmu itu diperoleh salah satunya dengan membaca. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Ilmu itu bertingkat-tingkat. Ada ilmu yang wajib dipelajari, ada yang sunah, dan ada yang mubah. Memahami hal itu, maka tentu jika kita membaca tanpa prioritas yang benar bisa membikin seseorang sibuk dengan hal-hal yang kurang berguna dan cenderung mengabaikan yang lebih penting. Prinsip alas yang perlu kita pegang adalah bahwa prioritas pertama dalam menuntut ilmu adalah mempelajari Al-Qur’an, kemudian histori Nabi ﷺ karena histori merupakan penjelas bagi Al-Qur’an.

Perlu pula kita pahami, banyak membaca tidak otomatis berarti banyak ilmu. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, tetapi jika yang dibaca adalah hal-hal yang tidak menaikkan keimanan, tidak memperbaiki akhlak, dan tidak menambah pemahaman tentang agama, maka ia telah kehilangan banyak kesempatan untuk meraih kebaikan yang lebih besar. Oleh karenanya, seorang Muslim perlu menyusun prioritas bacaannya dengan bijak, dimulai dari yang paling utama, secara bertahap, dan sesuai dengan tingkat kapasitas serta bimbingan pendidik yang terpercaya.

Baca juga: Ingin Betah Membaca Al-Qur’an? Tadabur Kuncinya

Lantas, apa yang Seharusnya Dibaca?

Al-Qur’an

Tidak ada bahanbacaan yang lebih utama bagi seorang Muslim kecuali Al-Qur’an. Firman Allah Ta’ala yang diturunkan sebagai instruksi bagi seluruh umat manusia. Membaca Al-Qur’an adalah amalan yang mendatangkan pahala berlimpah sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: {الم} حَرْفٌ، وَلَكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu abjad dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, dalam Sunan-nya no. 2910, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, tentang keistimewaan dan jabatan Al-Qur’an,

الْقُرْآنُ هُوَ الشِّفَاءُ التَّامُّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ، وَأَدْوَاءِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَا كُلُّ أَحَدٍ يُؤَهَّلُ وَلَا يُوَفَّقُ لِلِاسْتِشْفَاءِ بِهِ

“Al-Qur’an adalah pengobat yang sempurna dari seluruh pandemi hati dan jasmani, serta pandemi bumi dan akhirat. Tidak semua orang diberi kapasitas dan taufik untuk berobat dengannya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menerangkan bahwa di antara manusia terdapat empat tingkatan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an dan keimanan. Beliau mengutarakan bahwa orang yang diberikan karunia untuk men-tadabburi (merenungkan) Al-Qur’an tentu lebih utama daripada orang yang diberi karunia banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an, padahal tidak disertai perenungan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam buku yang sama,

وَأَنَّ مَنْ أُعْطِيَ التَّدَبُّرَ فِي الْقُرْآنِ أَفْضَلُ مِمَّنْ أُعْطِيَ كَثْرَةَ الْقِرَاءَةِ وَسُرْعَتَهَا بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ

“Siapa yang diberikan karunia untuk merenungkan (mentadabburi) Al-Qur’an, maka ia lebih utama daripada orang yang diberi karunia banyak dan cepat dalam membaca Al-Qur’an tanpa disertai perenungan.”

Setiap Muslim hendaknya memiliki waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Bisa setelah Subuh, bisa di malam hari, maupun di waktu-waktu lain yang memungkinkan. Yang terpenting adalah konsistensinya, pun dengan niat memperbanyak jumlah bacaannya juga merupakan hal yang baik untuk dipertahankan.

Kita bisa memulainya dengan memperbaiki kapasitas dalam membaca Al-quran, benar makharijul abjad dan tajwidnya. Sembari menghapal ayat-ayat pendek, dan menambah hapalan sedikit demi sedikit. Dalam waktu berbarengan juga secara pelan-pelan juga mempelajari tafsirnya. Dan yang paling krusial adalah komitmen -dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan – untuk menerapkan setiap perintah-perintah Allah di dalamnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Pastikan Anda memiliki Al-Qur’an fisik, juga digital. Letakkan di tempat-tempat yang gampang dijangkau. Bila perlu, miliki lebih dari satu beserta terjemahan. Al-Qur’an digital juga sebaiknya diletakkan di layar utama, dimana saat membuka hp, yang Anda lihat pertama kali adalah app Al-Qur’an dan bertekadlah untuk senantiasa membukanya. Minimal membaca separuh lembar tiap kali membukanya. Gabut saat membuka hp, bukalah app Al-Qur’an terlebih dahulu dari app lainnya.

Hadis Nabi ﷺ

Setelah Al-Qur’an, bahanbacaan yang paling krusial adalah histori Nabi ﷺ. Hadis menjadi penjelas dan implementasi praktis dari doktrin Al-Qur’an. Akan menjadi tidak utuh jika kita memahami Al-Qur’an tapi mengesamping mempelajari histori dengan benar.

Mungkin dulu, sebelum begitu canggihnya teknologi, kita mengeluh benar-benar rumitnya mengakses kitab-kitab hadis. Tapi, saat ini, hampir semuanya bisa diakses dengan mudah. Bahkan cuma dalam genggaman, semua kitab-kitab histori bisa kita peroleh. Hanya dengan menyimpan sebuat situs seperti https://shamela.ws/ ribuan rujukan histori kita bisa peroleh.

Apabila dibandingkan dengan para salafus saleh terdahulu, benar-benar sulitnya mereka untuk memperoleh hadis-hadis. Harus melalui perjalanan panjang terlebihlagi berbulan-bulan baru mendapatkan histori dengan segala hambatan dan rintangannya. Sementara kini, cukup dengan tekad untuk mempelajari kepercayaan ini dengan benar kemudian berupaya dengan mencari keterangan sumber-sumber histori sahih dengan menghadiri majelis-majelis analisis hadis, memiliki kitab-kitab histori dengan harga terjangkau, hingga mengaksesnya melalui internet.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Untuk pembaca awam, ada beberapa buku histori yang sangat dianjurkan, di antaranya:

  1. Riyadhus Shalihin, karya Imam An-Nawawi — kumpulan histori tentang adab, akhlak, dan amalan yang sangat cocok untuk pemula.
  2. Al-Arba’in An-Nawawiyyah, (40 Hadis Nawawi) — juga karya Imam An-Nawawi, menghimpun hadis-hadis pokok dalam Islam.
  3. Umdatul Ahkam karya Abdul Ghani Al-Maqdisi — kumpulan histori tentang aturan fikih.
  4. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani — buku histori aturan yang lebih luas.
  5. Untuk tingkat lanjut, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah rujukan utama setelah Al-Qur’an.

Tentu saja, daftar ini bukan berarti seseorang mesti langsung membaca semuanya. Pilihlah sesuai tingkat kapasitas dan, yang terpenting, dengan bimbingan pendidik yang terpercaya. Membaca buku histori tanpa pemahaman yang benar dari para ulama bisa menimbulkan kesalahan pemahaman.

Kitab-kitab ulama ahlus sunah

Setelah Al-Qur’an dan hadis, seorang Muslim perlu membaca kitab-kitab ulama yang menerangkan keduanya. Prioritaskan kitab-kitab yang membangun fondasi agama: tauhid, akidah, ibadah, fikih, adab dan akhlak, tazkiyatun nafs, tafsir, dan hadis. Berikut adalah anjuran buku secara bertahap:

Tingkat pemula:

  1. Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  2. Al-Qawa’idul Arba’ (Empat Kaidah) — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  3. Al-Adab Al-Mufrad — Imam Al-Bukhari (dengan klarifikasi ulama).
  4. Riyadhus Shalihin — Imam An-Nawawi.
  5. Al-Arba’in An-Nawawiyyah — Imam An-Nawawi.

Tingkat menengah:

  1. Kitab At-Tauhid — Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  2. Umdatul Ahkam — Abdul Ghani Al-Maqdisi.
  3. Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani.
  4. Aqidah Al-Wasithiyyah — Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.
  5. Taisir Al-Karimir Rahman — Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Tingkat lebih lanjut:

  1. Tafsir Ibnu Katsir
  2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
  3. Zaadul Ma’ad — Ibnul Qayyim
  4. Ad-Da’ wad Dawa’ — Ibnul Qayyim
  5. Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah — Syekhul Islam Ibnu Taimiyah

Penting pula untuk dicatat bahwa daftar kitab-kitab di atas bukanlah satu-satunya list yang wajib dibaca. Prioritas dapat berbeda sesuai kebutuhan, tingkat ilmu, kapasitas bahasa Arab, dan bimbingan ustaz/guru. Prinsip belajar secara berjenjang (tadarruj) dan memungut ilmu dari pendidik yang terpercaya menjadi hal yang mesti diutamakan. Hindari membaca secara otodidak kemudian menyimpulkan sendiri terhadap suatu perkara/hukum tertentu.

Buku-buku berguna di luar buku keislaman

Setelah fondasi kepercayaan terbangun, seorang Muslim juga perlu membaca buku-buku yang memberikan khasiat duniawi dan menunjang kemaslahatan hidup. Misalnya: sejarah, histori hidup tokoh, ekonomi dan keuangan, sains, kesehatan, parenting, psikologi, komunikasi, kepemimpinan, kebijakan publik, teknologi, dan keahlian profesional. Namun, statis terapkan kaidah selektif. Tidak semua buku yang baik mesti dibaca, dan tidak semua buku yang populer layak menjadi prioritas.

Tanyakan pada diri sendiri sebelum membaca sebuah buku:

  1. Apa khasiat buku ini?
  2. Apakah isinya benar?
  3. Apakah sesuai dengan kebutuhan saya?
  4. Apakah ada bahanbacaan yang lebih prioritas?
  5. Apakah waktu aku cukup untuk membacanya?

Sehingga dengan pertanyaan-pertanyaan ini, kita dapat menyaring bahanbacaan dan fokus pada yang benar-benar bermanfaat. Terhindar dari beragam pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari kepercayaan dan manhaj yang benar karena kita telah menerapkan skala prioritas dalam menentukan bacaan-bacaan kita.

Memulai kebiasaan membaca

Bagi yang merasa kesulitan memulai kebiasaan membaca, berikut langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan:

  1. Mulai dari 10–15 menit sehari. Tidak perlu langsung membaca berjam-jam. Mulailah dengan waktu yang singkat tetapi konsisten.
  2. Tentukan waktu statis setiap hari. Misalnya, 15 menit setelah Subuh maupun 15 menit sebelum tidur. Dengan waktu yang tetap, membaca akan menjadi kebiasaan.
  3. Jauhkan ponsel saat membaca. Notifikasi dan bujukan media sosial adalah lawan utama konsentrasi. Saat membaca, matikan ponsel maupun letakkan di ruangan lain.
  4. Mulai dari buku maupun buku yang sesuai dengan level. Jangan langsung membaca buku tingkat lanjut jika belum mengerti dasarnya. Belajarlah secara bertahap.

Budaya membaca tidak perlu dimulai dengan sasaran ambisius “menamatkan 50 buku setahun”. Cukup mulai dengan sederhana, seperti satu mushaf yang dibaca setiap hari, satu buku yang dipelajari dengan benar, dan beberapa halaman buku berguna yang dibaca secara rutin. Yang dicari bukan sekadar “banyak membaca”, tetapi ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, dan kebaikan yang semakin baik. Karena hal yang krusial untuk kita pahami dari inti membaca ini adalah bahwa membaca merupakan sarana, bukan tujuan. Tujuan kita adalah mengenal Allah, memperbaiki diri, dan memberikan khasiat kepada sesama.

Mari kita bangun kebiasaan membaca—dengan prioritas yang benar, dengan niat yang lurus, dan dengan komitmen untuk mengamalkan apa yang kita baca. Semoga Allah memudahkan kita semua.

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami khasiat dari ilmu yang Engkau ajarkan, ajarkanlah kepada kami ilmu yang berguna bagi kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. (Aamīn)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Baca juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas Membaca

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Kincai Media

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads