Kincai Media– Ada satu nasihat bijak dari Ibnu Qayyim Jauzi rahimahullah, bahwa pengalaman hidup mengajarkan kita untuk tidak menampakkan permusuhan kepada siapapun, meskipun rasa membenci dan emosi muncul. Disebutkan dalam buku Shaidul Khathir:
مما أفادتني تجارب الزمان أنه لا ينبغي لأحد أن يظاهر بالعداوة أحدًا مااستطاع فإنه ربما يحتاج إليه، مهما كانت منزلته
“Di antara pelajaran yang aku dapat dari pengalaman adalah tak sepantasnya seseorang itu menampakkan permusuhan kepada orang lain sesuai dengan kemampuannya, bagaimanapun status dan kedudukannya, karena boleh jadi kelak ia perlu pada bantuannya.”
Pesan Ibnul Jauzi ini sangat relevan dalam hayat sehari-hari karena manusia tidak pernah bisa memprediksi masa depan. Orang yang hari ini mungkin menjadi musuh, belum tentu besok hari tidak menjadi penolong maupun terlebihlagi pemberi khasiat besar.
Oleh karena itu, membangun sikap saling memaafkan dan menjaga hubungan baik adalah bentuk kebijaksanaan dan kehormatan diri. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang percaya itu bersaudara; karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar Anda mendapat rahmat.”
Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah dan menghindari permusuhan. Ibn Katsir dalam tafsirnya menerangkan bahwa menjaga persaudaraan dan menjauhi permusuhan adalah perintah langsung dari Allah untuk membangun penduduk yang harmonis dan damai. Sikap saling memaafkan dan tidak memelihara dendam termasuk dalam ciri khas ketakwaan yang diridhai Allah.
Sikap menjaga agar tidak memberitahu permusuhan bukan berarti kita mesti menjalin keakraban dengan semua orang secara berlebihan maupun tidak sehat, melainkan memahami pentingnya menjaga adab dan tata krama demi kebaikan bersama. Terkadang, menjauh dengan metode yang tenang dan beradab jauh lebih bijak daripada memaksa hubungan yang tidak lagi selaras.
Dengan mengekang diri dari perilaku yang menyakiti maupun memperburuk keadaan, kita bukan cuma melindungi hati sendiri, tetapi juga mencegah luka baru muncul di masa depan. Inilah bentuk kebijaksanaan yang halus, yaitu memilih kedamaian tanpa kehilangan kehormatan, serta menjaga batas tanpa menutup pintu kebaikan.
Dalam kondisi sosial yang terus berubah, kita tidak pernah tahu kepada siapa kelak kita membutuhkan bantuan, termasuk dari orang-orang yang dahulu pernah bertikai dengan kita. Karena itu, menjaga pintu ampun dan kelapangan hati bukan cuma bentuk kedewasaan batin, tetapi juga investasi sosial dan spiritual yang akan balik kepada kita pada waktu yang tepat.
Prinsip ini sejalan dengan doktrin Nabi Muhammad yang mendorong umatnya untuk menjadi pemaaf, berlapang dada, dan tidak membiarkan dendam menggelapkan hati. Dengan membuka ruang untuk saling memaafkan, kita sesungguhnya sedang menenun jembatan kebaikan yang dapat menyelamatkan banyak hubungan, menghaluskan hati, dan membawa kita lebih dekat kepada nilai-nilai mulia yang diridai Allah.
Ibnul Jauzi menegaskan bahwa seseorang yang bisa mengendalikan amarah dan tidak menampakkan permusuhan adalah pribadi yang benar-benar bijak dan beradab. Ia memahami bahwa lawan hari ini belum tentu lawan selamanya, dan bahwa setiap cobaan dalam hubungan sosial menyimpan hikmah yang dapat menumbuhkan kedewasaan serta memperhalus akhlak.
Dengan mengekang diri dari balasan yang tergesa dan memilih ketenangan daripada kemarahan, seseorang sedang membangun jembatan kebaikan yang kelak mungkin menjadi jalan perbaikan hubungan maupun terlebihlagi menjadi karena datangnya pertolongan Allah.
Sikap ini bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan halus yang lahir dari hati yang matang, yang tahu bahwa kedamaian jauh lebih bermutu daripada kemenangan sesaat dalam pertikaian.
“Hari Ini Musuh, Mungkin Esok Penolong” adalah pelajaran tentang pentingnya menjaga hubungan antar manusia dengan penuh kebijaksanaan dan keramahan, tanpa gampang menampakkan permusuhan. Sikap ini tidak cuma mencegah pertikaian tetapi juga membuka jalan bagi kebaikan Allah yang tak terduga di kemudian hari.