Anjuran Puasa Sya’ban: Meneladani Rasulullah Menyambut Ramadan

Jan 18, 2026 09:02 PM - 3 bulan yang lalu 118630
 Meneladani Rasulullah Menyambut RamadanAnjuran Puasa Sya’ban: Meneladani Rasulullah Menyambut Ramadan

Kincai Media – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Salah satu corak persiapan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW adalah memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Anjuran ini mempunyai dasar kuat dari hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh para pemimpin hadis.

Dalam sebuah sabda yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Aisyah RA menuturkan:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

Artinya: Aku tidak pernah memandang Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain di bulan Ramadan, dan saya tidak pernah memandang beliau lebih banyak berpuasa dalam suatu bulan selain di bulan Sya’ban. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa meskipun Rasulullah SAW tidak berpuasa penuh satu bulan di luar Ramadan, beliau memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban melampaui bulan-bulan lainnya.

Lebih lanjut, Rasulullah SAW juga menjelaskan keistimewaan dan hikmah puasa di bulan ini. Dalam sabda yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i disebutkan:

لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.

Artinya: Aku tidak pernah memandang engkau berpuasa dalam suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, di antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan itu amal-amalan diangkat kepada Tuhan seluruh alam, dan saya senang andaikan amalku diangkat dalam keadaan saya sedang berpuasa.” (HR. an-Nasa’i)

Hadis ini memberikan pelajaran krusial bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang sering terabaikan, padahal di dalamnya terdapat momentum krusial berupa pengangkatan kebaikan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa keadaan terbaik saat kebaikan diangkat adalah dalam kondisi beribadah, khususnya berpuasa.

Para ustadz menjelaskan bahwa puasa Sya’ban mempunyai beberapa hikmah. Di antaranya adalah sebagai latihan spiritual sebelum memasuki Ramadan, membersihkan hati dari kelalaian, serta meningkatkan kualitas ibadah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menjelaskan bahwa puasa di bulan Sya’ban seperti shalat sunnah rawatib sebelum shalat fardhu, yang berfaedah menyempurnakan dan mempersiapkan ibadah wajib.

Lebih lanjut, Imam Zarqani dalam kitab Syarah Zarqani ala Muwatha Imam Malik menjelaskan bahwa sabda ini mengandung dua makna utama. Pertama, Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan oleh manusia lantaran berada di antara dua bulan besar: Rajab sebagai bulan haram dan Ramadan sebagai bulan puasa wajib.

Kesibukan manusia dalam mengagungkan kedua bulan tersebut menyebabkan Sya’ban terabaikan, padahal justru di sanalah terdapat kesempatan besar untuk meraih keistimewaan ibadah.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa salah satu karakter keikhlasan dalam beragama adalah beramal pada waktu-waktu yang kurang mendapat perhatian, bukan hanya pada saat-saat yang ramai dengan ibadah.

Kedua, sabda tersebut menjelaskan bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah SWT. Dalam tradisi keislaman, pengangkatan kebaikan bukan sekadar pencatatan administratif, melainkan momentum spiritual yang sarat makna.

Rasulullah SAW menginginkan agar catatan kebaikan beliau diangkat dalam keadaan beliau sedang beribadah, khususnya berpuasa, lantaran puasa merupakan ibadah yang sangat dekat dengan nilai keikhlasan. Puasa adalah ibadah yang tersembunyi, hanya diketahui oleh pelakunya dan Allah SWT, sehingga menjadi simbol kemurnian niat dan ketulusan penghambaan.

Dari sisi pendidikan spiritual, puasa Sya’ban berfaedah sebagai latihan ruhani sebelum memasuki Ramadan. Sebagaimana shalat sunnah rawatib menjadi penyempurna shalat wajib, puasa sunnah Sya’ban menjadi pengantar dan penyempurna bagi puasa Ramadan.

Dengan membiasakan diri berpuasa di Sya’ban, seorang Muslim melatih kesabaran, pengendalian diri, serta kesiapan bentuk dan mental untuk menjalani ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadan.

، فبين وجه صيامه دون غيره برفع الأعمال فيه وأنه يغفل عنه ، لأنه لما اكتنفه شهران عظيمان الشهر الحرام وشهر الصيام اشتغل الناس بهما فصار مغفولا عنه ، ونحوه في حديث عائشة عند أبي يعلى لكن قال فيه : ” إن الله يكتب كل نفس ميتة تلك السنة فأحب أن يأتي أجلي وأنا صائم ” ، ولا يعارضه النهي عن تقدم رمضان بيوم أو يومين بحمله على من لم يدخل في صيام اعتاده .

Maka beliau menjelaskan karena puasa beliau di bulan itu dibanding bulan lain, ialah lantaran diangkatnya amal-amal di dalamnya dan lantaran bulan itu sering dilalaikan. Hal ini lantaran dia diapit oleh dua bulan agung, ialah bulan haram (Rajab) dan bulan puasa (Ramadan), sehingga manusia sibuk dengan keduanya, lampau bulan Sya’ban menjadi terabaikan. (Imam Zarqani, Syara Muwatha’ Imam Malik, [Kairo: Maktabah Tsaqafah Diniyah, 2003] Jilid II, laman 288

Oleh lantaran itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban sesuai kemampuan, baik dengan puasa Senin-Kamis, puasa Daud, maupun puasa di sebagian besar hari bulan tersebut.

Dengan meneladani Rasulullah SAW dalam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, diharapkan umat Islam dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih, tubuh yang siap, dan semangat ibadah yang lebih kuat. Semoga Allah SWT menerima kebaikan ibadah kita dan mengantarkan kita pada Ramadan dalam keadaan terbaik.

Selengkapnya