amalan sunahKincai Media – Amalan sunah memang bisa melengkapi kekurangan pada ibadah yang wajib. Allah menganjurkan kita untuk menyempurnakan kekurungan yang ada pada ibadah yang wajib dengan ibadah sunahnya. Oleh lantaran itu kita sangat tidak diperkenankan untuk meremehkan hal-hal yang sunah. Atau sangat merasa cukup hanya lantaran sudah menunaikan ibadah wajib.
Namun demikian kita juga tidak boleh mengutamakan ibadah sunah dan mengabaikan yang wajib. Bagaimanapun kondisinya, ibadah yang wajib lebih utama dari ibadah yang sunah. Hal ini bertindak pada ibadah ibadah apapun.
Lantas bagaimanakah jika terjadi kejadian yang mana seseorang terjerat indikasi lebh semangat mengerjakan ibadah sunah daripada yang sunah? Ibn ‘Athaillah as-Sakandari dalam karya tasawufnya yang masyhur, al-Hikam, menyatakan,
من علامة اتباع الهوى المسارعة الى نوافل الخيرات والتكاسل عن القيام بالواجبات
Jika kau lebih semangat mengerjakan yg sunah daripada yang wajib, maka itu adalah pertanda bahwa yang kau cari adalah kepuasan nafsumu (ingin dipuji), bukan keridaan Tuhanmu. (Hikmah Penciptaan Akal dan Hawa Nafsu bagi Manusia)
Jika yang ada adalah semangat mengerjakan ibadah sunah jauh lebih besar alias lebih antusias pada ibadah yang wajib, maka sesungguhnya dia sedang menunaikan kepuasan nafsu belaka, alias hanya dipuji oleh orang lain. Sebab jika mengerjakan ibadah hanya lantaran mengharap ridha Allah, maka dia mengerti mana yang kudu diutamakan dan mana yang pelengkap.
Karena itulah semestinya dia mengedepankan yang wajib sebelum melengkapi amalannya dengan yang berbobot sunah. Mau mengerjakan ibadah wajib alias sunah, krusial tidak berfokus pada penilaian dan pujian orang, karena yang demikian tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ridha Allah.
Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan bahwa siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang betul-betul tertipu.
Alangkah indahnya jika tetap memperioritaskan yang wajib daripada ibadah yang sunah. Tidak hanya indah, melainkan sikap yang mengutamakan dan tetap menjaga semangat saat mengerjakan ibadah wajib adalah satu langkah pandai agar kita tidak menjadi orang tertipu.
Jika setiap ibadah yang kerjakan hanya mau dipuji alias menunaikan kepuasan belaka, maka kelezatan ketaatan tak bakal pernah dirasakan dalam hidupnya, lantaran yang diharapkan bukanlah ridha Allah. Padahal dengan mengharap ridha Allah itulah yang menyebabkan kelezatan ketaatan bakal bisa dirasakan. Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib , bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً)
“Akan merasakan kelezatan/kemanisan ketaatan orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya” (HR Muslim)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·