Ketua Rmi Pbnu: Penerima Beasiswa Foelt Harus Jadi Motor Transformasi Sdm Pesantren

Jan 30, 2026 05:24 PM - 3 bulan yang lalu 103761
 Penerima Beasiswa FOELT Harus Jadi Motor Transformasi SDM PesantrenKetua RMI PBNU: Penerima Beasiswa FOELT Harus Jadi Motor Transformasi SDM Pesantren

Kincai Media — Rabithatul al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) PBNU secara resmi menggelar Kick-Off Program Beasiswa Foundation of English Language Training (FOELT) pada Jumat (30/1/2026) melalui platform Zoom, pukul 14.00–16.00 WIB.

Kegiatan ini menandai dimulainya training intensif bahasa Inggris akademik bagi sepuluh santri penerima danasiwa (awardee) yang bakal berjalan selama tiga bulan penuh, mulai Senin, 3 Februari 2026.

Acara berjalan singkat namun khidmat, dihadiri oleh Ketua RMI PBNU KH. Hodri Arief, perwakilan RMI sekaligus inisiator program KH. Ulunnuha, mitra pelaksana dari Lembaga Eruditia, serta para awardee terpilih dari beragam pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Dalam sambutannya, KH. Hodri Arief menyampaikan ucapan selamat kepada para penerima danasiwa yang terpilih untuk mengikuti training intensif bahasa Inggris akademik sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3, baik di dalam maupun luar negeri. Ia menekankan bahwa program ini bukan sekadar peningkatan kapabilitas individu, melainkan bagian dari misi besar transformasi pesantren.

“Keberhasilan rekan-rekan semua diharapkan menjadi bagian dari pesan Al-Qur’an, walladzīna jāhadū fīnā lanahdiyannahum subulanā, bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, bakal Kami tunjukkan jalan-jalan Kami,” ujar KH. Hodri.

Lebih lanjut, dia menegaskan pentingnya menjaga relasi dan jaringan antara para penerima danasiwa dengan RMI, pesantren asal, serta santri-santri yang saat ini tetap menempuh pendidikan di pondok. Menurutnya, hasil program ini kudu memberikan akibat jangka panjang yang berkelanjutan.

“Harapannya, hasil dari program ini tidak berakhir pada sepuluh orang ini saja, tetapi bisa dinikmati secara berkepanjangan oleh santri-santri yang saat ini tetap berada di pondok pesantren,” tuturnya.

KH. Hodri juga menjelaskan bahwa danasiwa FOELT merupakan bagian dari strategi besar transformasi pesantren yang sedang digerakkan oleh RMI PBNU. Ia memetakan tiga klaster utama transformasi pesantren, yaitu: pertama, transformasi dalam bagian kepengasuhan; kedua, transformasi kurikulum; dan ketiga, transformasi sumber daya manusia.

“Rekan-rekan semua masuk dalam klaster ketiga, ialah transformasi SDM. Ini sangat strategis lantaran kualitas manusia bakal menentukan keberlanjutan dan daya saing pesantren di masa depan,” tegasnya.

Sementara itu, KH. Ulunnuha alias yang berkawan disapa Gus Ulun, dalam sambutannya juga menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para awardee FOELT. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan bagian integral dari agenda besar transformasi pesantren yang digagas oleh Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

“Program ini menjadi enabler alias pengungkit bagi proses transformasi pesantren di lingkungan NU,” ujar Gus Ulun.

Ia meletakkan angan besar agar para penerima danasiwa tidak hanya bisa meraih pendidikan yang lebih tinggi, tetapi juga berkedudukan aktif sebagai pemasok perubahan dalam ekosistem pesantren.

“Harapannya, para awardee tidak hanya memberikan faedah bagi almamater asal pesantrennya alias tempat mengajarnya, tetapi juga bisa memberikan kontribusi nyata bagi organisasi pesantren secara lebih luas,” lanjutnya.

Program FOELT ini diselenggarakan oleh Rabithatul al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) PBNU sebagai rumah besar pesantren-pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama, bekerja sama dengan NU Scholarship sebagai pengelola danasiwa NU, serta didukung penuh oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia. Lembaga Eruditia dipercaya sebagai mitra resmi pelaksana training intensif bahasa Inggris akademik ini.

Setelah sesi pembukaan dan pemberian petunjuk dari pengurus RMI, kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan teknis bagi para awardee oleh pengelola program berbareng tim Eruditia.

Dalam sesi ini, peserta mendapatkan penjelasan rinci mengenai kurikulum pelatihan, metode pembelajaran, agenda kegiatan, serta sasaran capaian kompetensi bahasa Inggris akademik, khususnya untuk kebutuhan tes IELTS.

Sebagai langkah awal, para penerima danasiwa diwajibkan mengisi kembali pre-test yang telah disiapkan oleh tim pelaksana, dengan konsentrasi pada empat komponen utama tes IELTS, ialah listening, reading, writing, dan speaking.

Hasil pre-test ini bakal menjadi dasar pemetaan keahlian awal peserta sekaligus rujukan dalam penyusunan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan terukur.

Selain itu, panitia juga mensosialisasikan sejumlah patokan dan komitmen yang kudu dipenuhi oleh para awardee selama mengikuti program. Di antaranya adalah tanggungjawab mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sampai selesai, kehadiran penuh pada setiap sesi training sesuai agenda yang telah ditentukan, serta tanggungjawab melaksanakan fasilitasi danasiwa untuk tes IELTS selama masa program berlangsung.

“Tes IELTS tidak boleh diambil di luar masa tiga bulan training ini,” tegas Amien Nurhakim selaku perwakilan panitia pelaksana program, sebagai corak komitmen terhadap kesungguhan dan integritas penyelenggaraan beasiswa.

Melalui program ini, RMI PBNU menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem transformasi SDM pesantren yang berkekuatan saing global, adaptif terhadap tantangan zaman, serta bisa menjawab kebutuhan bumi akademik internasional.

Diharapkan, para awardee FOELT tidak hanya menjadi perseorangan yang unggul secara akademik, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan di lingkungan pesantren, memperkuat peran santri sebagai tokoh strategis dalam pembangunan peradaban dan kemajuan bangsa.

Selengkapnya